Headline

Pemudik diminta manfaatkan kebijakan WFA.

Kebijakan Kontradiktif Trump Terkait Iran Guncang Pasar Global

Haufan Hasyim Salengke
25/3/2026 12:27
Kebijakan Kontradiktif Trump Terkait Iran Guncang Pasar Global
Presiden AS Donald Trump.(Saul Loeb/AFP)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan serangkaian pernyataan yang saling bertolak belakang mengenai kebijakan terhadap Iran dalam satu hari yang sama. Analisis yang dirilis Associated Press menunjukkan adanya sinyal baur (mixed signals) dari Gedung Putih, mulai dari wacana pengakhiran upaya militer hingga penambahan ribuan personel pasukan ke Timur Tengah.

"Kami sudah sangat dekat untuk mencapai tujuan kami," ujar Trump, sembari mengisyaratkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan untuk menghentikan "upaya militer besar" di kawasan tersebut. Ia mengeklaim kemampuan militer Iran telah melemah secara signifikan.

Namun, pada saat yang hampir bersamaan, pemerintahannya justru mengonfirmasi pengerahan kapal perang tambahan dan sekitar 2.500 personel marinir. Penambahan ini menggenapi total kekuatan militer AS yang mendukung operasi di kawasan tersebut menjadi sekitar 50.000 tentara.

Ketidakpastian di Selat Hormuz

Ambivalensi Trump juga menyasar pengamanan Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati hampir seperlima pasokan minyak dunia. Trump mengindikasikan AS dapat menarik diri tanpa mengamankan jalur tersebut, serta meminta negara lain memikul tanggung jawab perlindungan.

Ketidakpastian ini langsung direspons negatif oleh pasar global. Indeks S&P 500 merosot 1,5%, sementara harga bahan bakar melonjak akibat kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan di jalur distribusi utama tersebut.

Anomali Sanksi Minyak

Di sisi ekonomi, pemerintahan Trump mengambil langkah mengejutkan dengan melonggarkan sanksi pada pengiriman minyak Iran tertentu guna meredam tekanan pasar energi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kebijakan ini bertujuan menambah pasokan global hingga 140 juta barel dalam jangka pendek.

Langkah ini menuai kritik tajam, termasuk dari internal Partai Republik. Anggota parlemen Nancy Mace melontarkan kritik pedas atas kebijakan yang dianggap standar ganda tersebut. "Mengebom Iran dengan satu tangan, tapi membeli minyak Iran dengan tangan lainnya," tulis Mace.

Para analis memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi ini akan sia-sia jika ketegangan militer di Selat Hormuz tetap berlanjut, yang pada akhirnya justru akan mengunci akses keluar minyak ke pasar internasional. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya