Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Penasihat Desak Trump Akhiri Konflik Iran, Cegah Krisis Minyak Global

Media Indonesia
10/3/2026 17:12
Penasihat Desak Trump Akhiri Konflik Iran, Cegah Krisis Minyak Global
Donald Trump.(Al Jazeera)

SEJUMLAH penasihat utama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai mendesak orang nomor satu di Gedung Putih tersebut untuk segera mencari strategi keluar (exit strategy) dari konflik militer dengan Iran. Para penasihat menilai bahwa tujuan utama dari operasi militer tersebut telah tercapai.

Berdasarkan laporan dari The Wall Street Journal pada Senin (9/3/2026), desakan ini muncul di tengah kekhawatiran mendalam terhadap stabilitas ekonomi global. Kenaikan tajam harga minyak dunia dan potensi reaksi politik negatif di dalam negeri menjadi alasan kuat di balik saran untuk segera mengakhiri konfrontasi bersenjata di Timur Tengah.

Dilema Ekonomi dan Politik Global

Konflik yang berkepanjangan dikhawatirkan akan memicu krisis energi global yang lebih luas. Para penasihat Trump memperingatkan bahwa jika perang terus berlanjut, dampak ekonomi yang ditimbulkan dapat memicu gejolak pasar yang sulit dikendalikan. Trump sendiri telah memberikan sinyal bahwa operasi militer AS terhadap Iran diperkirakan akan segera selesai dalam waktu dekat.

Namun, penilaian dari internal pemerintahan menunjukkan ada keraguan. Selama Teheran terus melancarkan serangan balasan ke wilayah-wilayah strategis di Timur Tengah dan Israel tetap dalam posisi siap tempur untuk menyerang target Iran, peluang AS untuk keluar dari konflik dengan mudah dinilai sangat kecil.

Ketangguhan Iran dan Ambisi Kemenangan Trump

Seorang pejabat senior yang mengetahui masalah ini mengungkapkan bahwa Donald Trump memiliki standar tersendiri mengenai akhir dari perang ini. Trump menegaskan tidak akan menghentikan pertempuran sampai ia mencapai kemenangan yang memuaskan.

Pejabat tersebut juga menambahkan bahwa Trump kerap merasa terkejut dengan sikap keras kepala Iran. Meskipun berada di bawah tekanan militer yang belum pernah terjadi sejak serangan gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari 2026, Teheran tetap menolak untuk tunduk pada tuntutan diplomatik maupun militer yang diajukan oleh Washington dan Tel Aviv.

Sebagai informasi, eskalasi ini bermula dari serangan udara besar-besaran AS dan Israel ke berbagai target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur signifikan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas militer AS di Timur Tengah dan wilayah Israel sebagai tindakan bela diri, yang hingga kini terus memicu volatilitas di pasar komoditas global. (Sputnik / RIA Novosti-OANA/Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya