Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Trump Tebar Ancaman 'Kematian dan Amuk' ke Iran, G7 Siaga Amankan Stok Minyak Dunia

Thalatie K Yani
10/3/2026 09:40
Trump Tebar Ancaman 'Kematian dan Amuk' ke Iran, G7 Siaga Amankan Stok Minyak Dunia
Perang Iran(Media Sosial X)

ESKALASI konflik di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mencekam. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran terkait gangguan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur krusial bagi 20% pasokan minyak dunia yang kini hampir lumpuh total akibat perang.

Melalui pernyataan daringnya, Trump menegaskan tidak akan segan menggunakan kekuatan militer penuh jika Iran mencoba menghentikan aliran minyak.

"Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran Minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat DUA PULUH KALI LEBIH KERAS daripada yang pernah mereka rasakan selama ini," tegas Trump.

Tak berhenti di situ, Trump juga mengancam akan menghancurkan target-target strategis di Iran. "Kematian, Api, dan Amuk akan menghujani mereka — Namun saya berharap, dan berdoa, agar hal itu tidak terjadi!" tambahnya.

G7 dan IEA Siaga Lepaskan Cadangan Darurat

Di tengah ancaman tersebut, negara-negara anggota G7 menyatakan kesiapan untuk mengambil "langkah-langkah yang diperlukan" guna menjaga stabilitas pasokan energi global. Meski pertemuan antara menteri keuangan G7 dan Badan Energi Internasional (IEA) belum membuahkan kesepakatan untuk segera mencairkan cadangan minyak mentah strategis, opsi tersebut tetap terbuka lebar.

Direktur IEA, Fatih Birol, mencatat bahwa pasar minyak global telah memburuk secara signifikan dalam beberapa hari terakhir. "Selain tantangan transit melalui Selat Hormuz, sejumlah besar produksi minyak telah terhenti. Ini menciptakan risiko yang besar dan terus berkembang bagi pasar," jelas Birol.

Saat ini, negara anggota IEA memegang lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, ditambah 600 juta barel stok industri. Jika cadangan ini dilepaskan, ini akan menjadi langkah darurat pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Gejolak Pasar dan Infrastruktur yang Hancur

Harga minyak mentah Brent sempat melonjak lebih dari 25% hingga menyentuh US$119,50 per barel pada Senin pagi di Asia, sebelum kembali turun di bawah US$90 setelah Trump mengisyaratkan perang akan segera berakhir.

Di lapangan, situasi tetap panas. Sepanjang akhir pekan, AS dan Israel meluncurkan gelombang serangan udara baru ke berbagai wilayah Iran, termasuk depot minyak. Sebaliknya, Iran menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk tetangga. Arab Saudi melaporkan telah mencegat dan menghancurkan dua gelombang pesawat nirawak (drone) yang mengarah ke ladang minyak utama mereka.

Menteri Keuangan Inggris, Rachel Reeves, mendesak dilakukannya deeskalasi segera di kawasan tersebut. "Saya siap mendukung pelepasan terkoordinasi dari cadangan minyak kolektif IEA," ujar Reeves.

Trump sendiri menganggap lonjakan harga minyak jangka pendek ini sebagai pengorbanan kecil demi keamanan global. "Harga minyak jangka pendek... adalah harga yang sangat kecil untuk dibayar demi Keamanan dan Perdamaian AS serta Dunia. HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR SEBALIKNYA!" tulisnya di platform Truth Social. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya