Headline

Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.

Trump Sebut Operasi Militer AS di Iran Segera Berakhir

Ferdian Ananda Majni
10/3/2026 11:52
Trump Sebut Operasi Militer AS di Iran Segera Berakhir
Kapal tanker berlayar di Selat Hormuz.(Antara/Anadolu)

PRESIDEN Donald Trump menyatakan operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran kemungkinan akan segera berakhir. Namun di lapangan, konflik justru meluas setelah Iran di bawah pemimpin baru Mojtaba Khamenei melancarkan serangan rudal ke sejumlah negara kawasan serta memicu ketegangan di jalur energi vital Selat Hormuz.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel itu sebelumnya memicu penurunan tajam pasar saham serta lonjakan harga minyak dunia. 

Situasi semakin tegang setelah Iran, di bawah kepemimpinan baru Mojtaba Khamenei, meluncurkan rentetan rudal ke sejumlah negara Teluk serta memberi sinyal kemungkinan penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Namun, pernyataan Trump yang mengisyaratkan konflik berumur pendek memberi dorongan pada pasar keuangan. 

Bursa saham di Amerika Serikat kembali bergerak positif, sementara pasar di Tokyo dan Seoul juga dibuka menguat pada Selasa, meskipun Trump tetap memperingatkan bahwa kampanye militer dapat diperluas jika Iran tidak mematuhi tuntutan Washington.

Harga minyak dunia juga berbalik turun sekitar lima persen, sehari setelah minyak mentah sempat melampaui 100 dolar AS per barel atau level tertinggi sejak Rusia invasi Ukraina pada 2022.

"Ini akan segera berakhir, dan jika dimulai lagi, mereka akan terkena dampak yang lebih parah," kata Trump dalam konferensi pers di Florida, setelah sebelumnya menyebut operasi militer tersebut sebagai
ekskursi jangka pendek.

Pernyataan itu langsung ditanggapi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menegaskan bahwa pihaknya, bukan Amerika, yang akan menentukan kapan perang berakhir.

Serangan Rudal Meluas

Ketegangan meningkat pada hari pertama kekuasaan Mojtaba Khamenei setelah pasukan Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke sejumlah negara kawasan, termasuk Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, serta Israel.

Sebuah rudal juga dilaporkan ditembakkan ke arah Turki, anggota NATO, namun berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara aliansi tersebut sebelum mencapai target.

Upaya diplomasi internasional kini banyak berfokus pada Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia. Jalur ini dilaporkan hampir sepenuhnya tertutup bagi kapal tanker minyak sejak Iran memblokirnya sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan negaranya bersama sekutu tengah menyiapkan misi murni defensif untuk membuka kembali jalur tersebut. Misi itu bertujuan mengawal kapal-kapal komersial setelah fase paling panas konflik mereda.

Namun para analis memperingatkan bahwa operasi semacam itu berisiko menempatkan kapal-kapal angkatan laut Barat dalam jangkauan tembakan dari wilayah pesisir Iran.

Sementara itu, penasihat kebijakan luar negeri Iran, Kamal Kharazi, mengatakan kepada CNN bahwa Teheran memperkirakan tekanan ekonomi global pada akhirnya akan mendorong negara lain untuk turun tangan menghentikan perang.

Demonstrasi Dukungan di Iran

Di dalam negeri, puluhan ribu warga Iran turun ke jalan di Teheran untuk merayakan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi oleh Majelis Pakar. Banyak dari mereka terlihat membawa foto pemimpin baru tersebut.

Sejumlah kelompok sekutu Iran di kawasan juga menyatakan dukungan, termasuk Houthi movement di Yemen dan Hezbollah di Libanon.

Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menjanjikan dukungan tanpa henti kepada Teheran.

Trump sendiri mengaku kecewa dengan pengangkatan Mojtaba Khamenei, tetapi tetap membuka kemungkinan perubahan kepemimpinan dari dalam Iran.

"Saya kecewa," kata Trump kepada wartawan, sembari menyebut transisi kekuasaan baru-baru ini di Venezuela sebagai rumus yang sejauh ini sangat baik.

Dampak pada Infrastruktur Energi

Konflik juga memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Para pedagang minyak, pembuat kebijakan, dan bank sentral kini memantau secara ketat situasi di kawasan Teluk.

Sekitar 10 kapal di sekitar Selat Hormuz dilaporkan diserang sejak Iran memblokir jalur pelayaran tersebut, menurut para pakar perkapalan.

Perusahaan pelayaran global Mediterranean Shipping Company bahkan menghentikan sebagian pengiriman ekspor dari Teluk, yang memaksa pembongkaran barang dari kapal.

Di Bahrain, serangan terhadap fasilitas minyak Al Ma’ameer memicu kebakaran besar. Perusahaan energi negara Bapco bersama perusahaan energi di Qatar dan Kuwait menyatakan keadaan kahar (force majeure), yang menandakan potensi gangguan ekspor akibat situasi di luar kendali mereka.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi melaporkan telah menggagalkan serangan drone yang menargetkan ladang minyak di wilayah timur kerajaan.

Korban Terus Bertambah

Dampak konflik juga dirasakan oleh warga sipil. Di Manama, Bahrain, kementerian dalam negeri melaporkan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka akibat serangan Iran yang menghantam kawasan permukiman.

Di Tel Aviv, Israel, sekitar sepuluh ledakan terdengar setelah militer mendeteksi rudal yang ditembakkan dari Iran. Setidaknya satu warga Israel dilaporkan tewas akibat pecahan peluru.

Perang juga semakin meluas ke Libanon. Baku tembak antara Israel dan Hizbullah sejak 2 Maret dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 486 orang dan melukai lebih dari 1.300 lainnya.

Presiden Libanon Joseph Aoun menuduh Hizbullah berupaya meruntuhkan negara tersebut. Namun pemimpin blok parlemen kelompok itu menyatakan mereka tidak memiliki pilihan selain melakukan perlawanan. (AFP/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya