Headline

Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.

Krisis Selat Hormuz: Vietnam Kurangi Jumlah Penerbangan, Jepang Lepas Cadangan Minyak

Khoerun Nadif Rahmat
24/3/2026 16:11
Krisis Selat Hormuz: Vietnam Kurangi Jumlah Penerbangan, Jepang Lepas Cadangan Minyak
Ilustrasi(Antara)

KONFLIK di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga energi secara masif dan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan global. Dampak krisis bahan bakar bahkan juga sudah mulai memukul sektor penerbangan di Asia Tenggara. 

Otoritas penerbangan Vietnam melaporkan maskapai nasional Vietnam Airlines bakal menangguhkan hampir dua lusin penerbangan domestik per minggu mulai bulan depan.

"Vietnam Airlines berencana untuk menghentikan sementara operasional pada beberapa rute mulai 1 April," tulis pernyataan otoritas penerbangan sipil Vietnam.

Penangguhan total 23 penerbangan per minggu tersebut terpaksa dilakukan karena terbatasnya pasokan bahan bakar jet (Jet A-1) akibat konflik di Timur Tengah.

Saat ini, Vietnam telah meminta dukungan bahan bakar dari beberapa negara termasuk Qatar, Kuwait, Aljazair, dan Jepang, serta menandatangani kesepakatan produksi migas dengan Rusia.

Kondisi serupa terjadi di Myanmar, di mana maskapai nasional negara tersebut mengumumkan pembatalan beberapa penerbangan domestik karena "keadaan yang tidak dapat dihindari".

Di Amerika Serikat, United Airlines juga telah mengurangi kapasitas penerbangannya akibat lonjakan biaya bahan bakar jet yang diperkirakan terus meningkat selama perang di Teluk berlangsung. 

Lepas cadangan minyak strategis

Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan Jepang bakal melepas kembali sebagian cadangan minyak strategisnya mulai Kamis (26/3) mendatang.

Selain itu, Tokyo akan mulai menggunakan stok bersama yang disimpan oleh negara-negara produsen di Jepang pada akhir bulan ini guna menjaga ketahanan energi nasional.

"Untuk mengamankan jumlah yang diperlukan bagi seluruh Jepang... kami akan melepas cadangan (minyak) negara mulai 26 Maret," ujar Takaichi dikutip dari AFP.

Langkah itu menyusul kebijakan Tokyo pekan lalu yang telah melepas cadangan minyak sektor swasta setara dengan kebutuhan 15 hari.

Takaichi menambahkan bahwa pelepasan dari cadangan bersama negara-negara produsen minyak juga diharapkan dimulai pada Maret.

Jepang merupakan negara yang sangat bergantung pada Timur Tengah untuk 95 persen impor minyaknya.

Meski demikian, Negeri Sakura memiliki salah satu cadangan minyak strategis terbesar di dunia yang mencapai lebih dari 400 juta barel per Desember lalu.

Menurut Asosiasi Perminyakan Jepang, cadangan bersama tersebut disimpan oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.

Dalam situasi normal, minyak mentah tersebut digunakan secara komersial, namun perusahaan minyak Jepang memiliki hak pembelian prioritas dalam keadaan darurat.

Menteri Ekonomi Ryosei Akazawa mengungkapkan bahwa Jepang tengah berupaya mendapatkan minyak dari pelabuhan di Arab Saudi dan UEA melalui rute yang "tidak melewati Selat Hormuz" serta memperluas pembelian dari Amerika Serikat.

Keputusan itu sejalan dengan kesepakatan anggota Badan Energi Internasional (IEA) pada 11 Maret untuk memanfaatkan stok minyak demi meredam lonjakan harga akibat perang di Timur Tengah. (Ndf/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya