Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Donald Trump Tunda Pertemuan dengan Xi Jinping Akibat Perang Iran

Thalatie K Yani
17/3/2026 08:27
Donald Trump Tunda Pertemuan dengan Xi Jinping Akibat Perang Iran
Presiden AS Donald Trump meminta penundaan kunjungan ke Tiongkok hingga April mendatang. Fokus pada Operation Epic Fury menjadi prioritas utama saat ini.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan keinginannya untuk menunda kunjungan kenegaraan ke Tiongkok yang sangat dinantikan pada awal April mendatang. Penundaan selama sekitar satu bulan ini disebabkan fokus penuh pemerintahannya terhadap perang AS-Israel melawan Iran.

“Kami telah meminta agar rencana tersebut ditunda sekitar satu bulan atau lebih,” ujar Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada Senin waktu setempat.

Ia menegaskan tidak ada motif tersembunyi di balik keputusan ini. “Tidak ada trik di baliknya. Ini sangat sederhana. Kita sedang menghadapi perang yang sedang berlangsung. Saya pikir penting bagi saya untuk berada di sini (AS),” tambahnya.

Prioritas Panglima Tertinggi

Permintaan penundaan ini menggarisbawahi bagaimana konflik dengan Iran telah menjungkirbalikkan agenda kebijakan luar negeri Trump. Kunjungan yang semula dijadwalkan pada 31 Maret hingga 2 April untuk bertemu Presiden Xi Jinping kini harus dijadwalkan ulang.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Presiden tetap berencana mengunjungi Tiongkok, namun jadwal harus fleksibel. "Sebagai panglima tertinggi, prioritas nomor satunya saat ini adalah memastikan keberhasilan berkelanjutan dari Operation Epic Fury," jelas Leavitt kepada awak media.

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih sejak AS dan Israel meluncurkan serangan skala besar ke Iran pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.

Diplomasi di Tengah Krisis Energi

Selain faktor koordinasi perang, penundaan ini juga terjadi di tengah upaya Trump mendesak Tiongkok untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital yang menyalurkan seperlima minyak dunia tersebut saat ini ditutup oleh Iran bagi kapal-kapal yang terkait dengan AS dan Israel.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan keberadaan Trump di Washington sangat krusial untuk mengoordinasikan upaya perang, bukan sekadar respons terhadap ketidakpatuhan Tiongkok atas permintaan di Selat Hormuz atau perselisihan dagang. "Bepergian ke luar negeri pada saat seperti ini mungkin bukan pilihan yang optimal," kata Bessent dari Paris.

Meskipun diplomasi tingkat tinggi di Washington tertunda, pembicaraan teknis tetap berjalan. Di Paris, delegasi AS dan Tiongkok dikabarkan mulai menunjukkan titik terang. Tiongkok menyatakan keterbukaan untuk menambah pembelian produk pertanian AS, termasuk daging unggas dan sapi. Kedua pihak juga membahas aliran mineral tanah jarang yang dikuasai Tiongkok serta pendekatan baru dalam pengelolaan investasi antar kedua raksasa ekonomi tersebut.

Hingga saat ini, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington belum memberikan komentar resmi terkait permintaan penundaan jadwal pertemuan kedua kepala negara tersebut. (Al Jazeera/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik