Januari 2026 mencatat sejarah kelam baru dalam buku kepemimpinan Xi Jinping. Langit politik di Beijing terguncang bukan oleh protes jalanan, melainkan oleh "gempa bumi" di dalam tembok tertutup Zhongnanhai. Laporan mengenai pencopotan dua figur militer paling senior, Jenderal Zhang Youxia dan Jenderal Liu Zhenli, menandai babak paling dramatis dalam upaya konsolidasi kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam lima dekade terakhir.
Peristiwa ini bukan sekadar rotasi jabatan rutin. Ini adalah pembersihan (purge) tingkat tinggi yang menyentuh jantung pertahanan strategis Tiongkok. Tuduhan yang menyertainya—mulai dari pembentukan faksi ilegal, korupsi pengadaan, hingga yang paling fatal: pembocoran rahasia nuklir ke Amerika Serikat—mengindikasikan keretakan serius dalam lingkaran kepercayaan terdekat Xi Jinping.
Runtuhnya "Tembok Besi" Xi Jinping
Selama bertahun-tahun, Jenderal Zhang Youxia dianggap "tak tersentuh". Sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC), ia adalah orang kedua paling berkuasa di militer setelah Xi sendiri. Lebih dari itu, Zhang memiliki ikatan emosional dan sejarah yang dalam dengan Xi; ayah mereka berdua adalah kawan seperjuangan dalam revolusi komunis.
Namun, laporan Wall Street Journal (WSJ) pada awal 2026 mengubah segalanya. Penyelidikan yang dilakukan oleh otoritas keamanan publik Tiongkok mengungkap dugaan pengkhianatan yang tak terbayangkan. Jatuhnya Zhang Youxia menghancurkan mitos bahwa kedekatan pribadi dengan pemimpin tertinggi adalah jaminan keselamatan di Tiongkok.
Analisis Profil: Mengapa Kasus Ini Berbeda?
Berbeda dengan jatuhnya pejabat sipil atau menteri sebelumnya, kasus Zhang Youxia dan Liu Zhenli memiliki bobot berbeda:
- Level Senioritas: Zhang adalah Wakil Ketua CMC, posisi militer tertinggi berseragam.
- Tuduhan Spionase: Isu kebocoran data teknis nuklir ke AS adalah ancaman eksistensial bagi strategi deterens Tiongkok.
- Narasi Kudeta: Adanya tuduhan "kelompok politik ilegal" mengindikasikan adanya upaya terorganisir untuk menantang otoritas Xi.
Anatomi Tuduhan: Dari Korupsi hingga "Kudeta Senyap"
Pembersihan kali ini melampaui narasi anti-korupsi standar. Meskipun penyelidikan mencakup suap dalam sistem pengadaan peralatan militer—sebuah masalah endemik di Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)—fokus utamanya adalah pada keamanan negara dan loyalitas politik.
1. Kebocoran Data Nuklir
Tuduhan paling eksplosif adalah bocornya data teknis inti program nuklir Beijing ke tangan Washington. Dalam konteks persaingan kekuatan besar, ini adalah bencana strategis bagi Tiongkok. Jika benar AS memiliki cetak biru kemampuan nuklir Tiongkok, maka postur pertahanan strategis Tiongkok menjadi telanjang. Hal ini menjelaskan mengapa reaksi Xi Jinping begitu keras dan cepat.
2. Pembentukan "Geng Politik"
Istilah "kudeta" di Tiongkok modern jarang berarti tank mengepung istana kepresidenan. Kudeta sering dimaknai sebagai pembentukan faksi di dalam partai yang memiliki agenda berbeda dari pusat. Zhang dan Liu dituduh membangun jaringan loyalitas pribadi di dalam tubuh militer, yang dalam kacamata Xi Jinping, merupakan benih pembangkangan yang harus dimusnahkan sebelum tumbuh.
Dampak Paralisis pada Tubuh PLA
Pencopotan dua jenderal puncak ini menciptakan efek kejut (shockwave) ke seluruh jajaran PLA. Investigasi yang meluas, penyitaan perangkat komunikasi perwira menengah, dan interogasi intensif menciptakan atmosfer ketakutan (paranoia).
Para analis militer memprediksi bahwa PLA akan mengalami periode "paralisis keputusan" jangka pendek. Para komandan di lapangan akan ragu mengambil inisiatif karena takut salah langkah dan dicurigai tidak loyal. Reformasi militer ambisius yang dicanangkan Xi mungkin akan melambat karena fokus beralih pada pembersihan internal (internal scrubbing).
Implikasi bagi Indonesia dan Kawasan
Ketidakstabilan di tingkat elit militer Tiongkok memiliki resonansi kuat bagi Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Tiongkok adalah mitra dagang utama sekaligus aktor keamanan dominan di Laut Tiongkok Selatan.
| Sektor | Potensi Dampak di Indonesia (2026) |
|---|---|
| Geopolitik & Keamanan | Ketidakpastian di Laut Tiongkok Selatan. Beijing mungkin melakukan manuver agresif untuk mengalihkan isu domestik atau justru menahan diri karena konsolidasi internal. |
| Ekonomi & Investasi | Jika krisis politik meluas, keputusan investasi proyek strategis (seperti kelanjutan BRI) bisa tertunda. |
| Mata Uang | Gejolak politik di Tiongkok dapat melemahkan Yuan, yang secara tidak langsung memberikan tekanan pada Mata Uang Rupiah dalam keranjang mata uang regional. |
Kesimpulan: Xi Jinping dan Kesendirian di Puncak Kekuasaan
Peristiwa Januari 2026 ini menegaskan paradoks kekuasaan Xi Jinping: semakin besar kekuasaan yang ia himpun, semakin sedikit orang yang bisa ia percayai. Pembersihan terhadap sekutu terdekat seperti Zhang Youxia menunjukkan bahwa Xi menempatkan keamanan rezim dan Partai di atas hubungan personal apa pun.
Bagi dunia luar, pesan yang tersirat sangat jelas: Tiongkok sedang memasuki fase introspeksi yang dalam dan berbahaya. "Kudeta" mungkin telah digagalkan, namun luka yang ditinggalkan pada kohesi militer Tiongkok akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih. Indonesia harus terus memantau situasi ini dengan cermat, memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di tengah turbulensi raksasa utara.
