Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Seruan Trump Tak Digubris: Belum Ada Negara Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz

Ferdian Ananda Majni
16/3/2026 15:41
Seruan Trump Tak Digubris: Belum Ada Negara Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump(Curtis Means/AFP)

PRESIDEN Donald Trump meminta sedikitnya tujuh negara untuk segera mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz guna menjaga keamanan jalur pelayaran energi global. Namun, hingga Senin (16/3/2026), seruan tersebut belum mendapat respons resmi dari negara mana pun.

Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik dengan Iran yang telah memicu lonjakan harga minyak dunia. Trump menilai negara-negara yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah seharusnya memikul tanggung jawab lebih besar.

"Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Trump menambahkan, Amerika Serikat sendiri tidak terlalu bergantung pada jalur tersebut karena memiliki sumber energi domestik. Ia mencontohkan Tiongkok yang disebut memperoleh sekitar 90% kebutuhan minyaknya melalui Selat Hormuz, sementara AS hanya menerima pasokan dalam jumlah kecil dari rute itu.

Meski demikian, Trump tidak memberikan tanggapan terkait kemungkinan keterlibatan Tiongkok dalam koalisi yang diusulkannya.

"Akan lebih baik jika negara-negara lain ikut menjaga wilayah itu bersama kami, dan kami siap membantu serta bekerja sama," ujarnya.

Sebelumnya, Trump diketahui telah menghubungi sejumlah negara seperti Tiongkok, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk meminta dukungan.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan kepada CBS bahwa Teheran telah menerima permintaan dari sejumlah negara yang menginginkan jaminan keamanan bagi kapal mereka, dengan keputusan akhir berada di tangan militer Iran.

Ia menyatakan beberapa kapal asing telah diizinkan melintas, namun tidak merinci negara asalnya.

Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka bagi semua negara, kecuali bagi AS dan sekutunya.

Araghchi juga menekankan bahwa Iran tidak melihat alasan untuk melakukan dialog dengan AS guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung. Menurutnya, perang dipicu oleh serangan terkoordinasi AS dan Israel pada 28 Februari, ketika pembicaraan tidak langsung mengenai program nuklir Iran masih berjalan.

Ia turut menyebut Teheran tidak berencana mengambil kembali uranium yang telah diperkaya dan kini tertimbun reruntuhan akibat serangan AS dan Israel sebelumnya. (CNN/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya