Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih baru. Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan operasi militer terhadap Iran yang diprediksi dapat berlangsung setidaknya selama 100 hari atau hingga September 2026. Laporan ini pertama kali diungkap oleh surat kabar Politico berdasarkan dokumen internal Departemen Pertahanan AS (Pentagon).
Pada Rabu (4/3/2026), Menteri Perang AS Pete Hegseth secara resmi merevisi jadwal operasi militer terhadap Iran menjadi delapan minggu. Durasi ini meningkat signifikan dari estimasi sebelumnya yang hanya berkisar antara empat hingga lima minggu.
Langkah konkret mulai diambil oleh militer AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) telah mengajukan permintaan tambahan perwira intelijen militer ke markas besarnya di Tampa, Florida. Penambahan personel ini bertujuan memperkuat analisis dan dukungan data intelijen dalam operasi yang menargetkan Iran.
Menurut laporan Politico, penambahan sumber daya ini mengindikasikan bahwa Pentagon mulai mempersiapkan anggaran untuk konflik yang berkepanjangan. Hal ini juga menunjukkan adanya kemungkinan bahwa pemerintah AS semula meremehkan skala perlawanan dan kompleksitas konflik di lapangan.
Selain penambahan intelijen, AS juga dilaporkan tengah mempercepat penguatan sumber daya evakuasi bagi warga negaranya yang berada di wilayah Timur Tengah. Langkah-langkah darurat ini mengisyaratkan bahwa pemerintahan Donald Trump belum sepenuhnya siap menghadapi dampak dari konflik berskala besar dengan Iran yang kini mulai meluas.
Ancaman perang 100 hari ini diprediksi akan semakin menekan stabilitas ekonomi dunia. Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak dunia melonjak hingga US$80 per barel. Jika operasi militer AS berlanjut hingga September, pasar energi dan komoditas safe haven seperti emas diprediksi akan terus mengalami volatilitas ekstrem.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait bocornya dokumen internal Pentagon yang dipublikasikan oleh Politico tersebut. Namun, pergerakan militer di kawasan Teluk terus menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. (Sputnik/RIA Novosti/Ant/I-2)
Putra Mahkota Saudi MBS dilaporkan melobi Donald Trump untuk melanjutkan perang dan menggulingkan rezim Iran di tengah konflik Timur Tengah 2026 yang memanas.
Pangeran MBS dikabarkan mendesak Donald Trump untuk terus menggempur Iran demi stabilitas Teluk dan ekonomi. Simak analisis lengkap persaingan Riyadh vs Teheran.
Arab Saudi izinkan AS gunakan pangkalan King Fahd untuk serang Iran. Simak kronologi pergeseran sikap Riyadh dan tawaran damai Pakistan di sini.
Iran bantah kabar Mojtaba Khamenei dilarikan ke Rusia untuk operasi medis. Sementara itu, pejabat tinggi Ali Larijani dikonfirmasi tewas akibat serangan Israel.
Harga minyak dunia melonjak akibat perang Iran. Ekonom Moody's peringatkan peluang resesi 49% dan risiko harga mencapai $200 per barel.
Donald Trump nyatakan AS tak butuh bantuan sekutu amankan Selat Hormuz. Klaim sukses militer lawan Iran meski pasokan minyak dunia terancam blokade.
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Iran sebenarnya ingin bernegosiasi, meskipun tidak berani mengakuinya secara terbuka
MENTERI Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak akan maju ke meja perundingan dan memilih melanjutkan perlawanan terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan Iran agar segera menerima kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
WFH adalah salah satu ‘aksi cepat’ yang dapat menghemat konsumsi BBM untuk sementara waktu.
Putra Mahkota Saudi MBS dilaporkan melobi Donald Trump untuk melanjutkan perang dan menggulingkan rezim Iran di tengah konflik Timur Tengah 2026 yang memanas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved