Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Timur Tengah Memanas, Harga Bitcoin Alami Volatilitas Tinggi

Media Indonesia
05/3/2026 19:05
Timur Tengah Memanas, Harga Bitcoin Alami Volatilitas Tinggi
Ilustrasi.(Freepik)

ESKALASI konflik di Timur Tengah yang melibatkan ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran sejak Sabtu, 28 Februari 2026, kini berdampak luas pada stabilitas ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, menjadi pemicu utama kekhawatiran pasokan energi global.

Serangan balasan Iran ke fasilitas AS di sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, Irak, dan Uni Emirat Arab kian memperkeruh suasana. Hal ini memicu lonjakan harga energi dengan minyak mentah dilaporkan naik hingga US$80 per barel yang sekaligus meningkatkan ancaman inflasi di berbagai negara.

Di tengah tekanan ekonomi tersebut, harga emas dunia terpantau menguat tajam di kisaran US$5.100 per troy ons. Meningkatnya permintaan akan aset aman (safe haven) menunjukkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kelas aset lain. Sementara itu, bursa saham teknologi di Amerika Serikat hanya mengalami rebound terbatas di tengah sentimen risk-off yang kuat.

Pasar Kripto Indikator paling Responsif

Pasar kripto yang beroperasi 24/7 merefleksikan perubahan sentimen investor secara real-time. Berdasarkan data CoinMarketCap, bitcoin (BTC) sempat terkoreksi ke level US$63.100 pada akhir pekan, sebelum akhirnya melonjak ke US$70.000 di awal pekan. Saat ini, bitcoin bergerak di kisaran US$68.000 dengan kapitalisasi pasar kripto global mencapai US$2,33 triliun. 

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai volatilitas tinggi ini adalah cermin dari sensitivitas pasar terhadap isu makro dan geopolitik. "Lonjakan dan koreksi dalam hitungan hari menunjukkan pasar sedang sangat headline-driven. Dalam situasi seperti ini, sentimen global dan dinamika kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto," ujar Antony dalam keterangan resmi, Kamis (5/3/2026).

Antony menekankan pentingnya disiplin manajemen risiko bagi para investor. Pada fase awal gejolak, investor umumnya bersikap defensif untuk menjaga likuiditas. Ia mengimbau agar investor menghindari keputusan berbasis FOMO (Fear of Missing Out).

Berikut beberapa strategi yang disarankan untuk menghadapi ketidakpastian global:

  • Diversifikasi Aset: Mengalihkan sebagian eksposur ke aset yang lebih stabil seperti stablecoin Tether (USDT) atau USD Coin (USDC).
  • Aset Kripto Berbasis Emas: Mempertimbangkan Tether Gold (XAUT) yang tengah menguat seiring kenaikan harga emas dunia.
  • Dollar Cost Averaging (DCA): Strategi investasi bertahap tetap menjadi opsi paling bijak untuk memitigasi volatilitas pasar yang ekstrem.
  • Do Your Own Research (DYOR): Melakukan riset mandiri secara mendalam sebelum melakukan transaksi.

Sebagai platform exchange terkemuka, Indodax menegaskan komitmennya untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi bagi seluruh member. Antony menutup dengan mengingatkan bahwa perspektif investasi jangka panjang adalah kunci untuk tetap rasional dan adaptif menghadapi dinamika geopolitik dunia yang tidak menentu. (MTVN/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya