Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Donald Trump Dituding tidak Punya Rencana Jelas dalam Perang di Iran

Ferdian Ananda Majni
05/3/2026 14:07
Donald Trump Dituding tidak Punya Rencana Jelas dalam Perang di Iran
Warga memasang bunga di foto mendiang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei usai mengikuti majelis tahlil di Islamic Cultural Center, Jakarta, Selasa (3/3/2026).(ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin)

ANGGOTA DPR AS dari Partai Demokrat, Bill Foster mempertanyakan tidak adanya rencana jelas pemerintah untuk mengamankan uranium yang diperkaya Iran di tengah ofensif militer, seraya memperingatkan risiko proliferasi nuklir dan keterbatasan persediaan rudal pencegat Amerika.

Usai mengikuti pengarahan tertutup bersama pejabat tinggi pemerintahan, Foster mengatakan kepada Fox News bahwa para anggota parlemen tidak mendapatkan penjelasan rinci mengenai langkah untuk mengamankan atau menetralisir material nuklir tersebut.

"Kami telah mendengar bahwa mereka tidak pernah memiliki rencana untuk persediaan nuklir uranium yang diperkaya itu, untuk menghancurkannya, untuk menyitanya, atau untuk menempatkannya di bawah inspeksi internasional," kata Foster yang juga seorang fisikawan.

Intervensi militer AS sendiri dibenarkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump sebagai langkah pencegahan agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. 

Sejauh ini, lebih dari 1.700 target di seluruh Iran telah diserang, termasuk lokasi peluncuran rudal balistik, sistem pertahanan udara, aset angkatan laut, dan pusat komando. Namun, fasilitas inti nuklir bukan menjadi sasaran utama dalam fase awal kampanye.

Tetap memiliki potensi

Foster memperingatkan bahwa tanpa pengamanan material nuklir, Iran tetap memiliki potensi untuk mengembangkan perangkat nuklir sederhana.

"Sampai hal itu terjadi, Iran akan sangat, sangat dekat untuk membuatnya, Iran dapat menggunakan material itu untuk membuat sejumlah perangkat nuklir ala Hiroshima," ujarnya. 

"Bukan jenis yang dapat Anda pasang pada rudal, tetapi jenis yang dapat Anda kirimkan melalui sejumlah cara lain dan sangat sulit untuk dihentikan," tambahnya.

Ia merujuk pada uranium yang diperkaya, menurut para ahli, memang lebih mudah dirakit menjadi perangkat nuklir besar dan sederhana dibandingkan hulu ledak miniatur untuk rudal balistik. Meski tidak dapat diluncurkan dengan roket jarak jauh, perangkat semacam itu secara teoritis bisa diangkut dengan metode lain.

Menurut Foster, mengamankan material yang sebagian besar tersimpan jauh di bawah tanah kemungkinan memerlukan pengerahan pasukan darat.

"Anda harus masuk ke sana dengan pasukan darat dan mengambil banyak peralatan," katanya.

Ia juga memperingatkan bahwa tanpa pengamanan konkret, operasi militer justru dapat mempercepat ambisi nuklir Iran.

"Satu-satunya hal positif tentang ayatollah adalah bahwa ia memiliki fatwa yang menentang pembangunan senjata nuklir," ucapnya.

"Siapa yang tahu apa yang akan dirasakan oleh generasi ayatollah berikutnya? Mereka akan berada di bawah banyak tekanan dari IRGC, yang tidak begitu menentang kepemilikan senjata nuklir," lanjutnya.

Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya diketahui mengeluarkan fatwa yang melarang pengembangan senjata nuklir, meski efektivitas dan daya ikatnya kerap diperdebatkan para analis.

Di Gedung Putih, sekretaris pers Karoline Leavitt menegaskan pemerintah meyakini Iran ingin membangun senjata nuklir untuk digunakan melawan Amerika dan sekutu mereka.

"Militer AS memiliki lebih dari cukup amunisi, peluru, dan persediaan senjata untuk mencapai tujuan Operasi Epic Fury yang ditetapkan oleh Presiden Trump dan bahkan lebih dari itu," sebutnya.

Pejabat senior lainnya, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, menekankan bahwa fokus saat ini adalah melumpuhkan kemampuan rudal balistik dan drone Iran. 

Rubio menyebut AS tengah berupaya secara sistematis membongkar program rudal Iran agar Teheran tidak dapat bersembunyi di baliknya untuk mengembangkan senjata nuklir.

Keterbatasan rudal pencegat

Namun sejumlah anggota parlemen Demokrat mempertanyakan keberlanjutan kampanye tersebut. Senator Mark Kelly mengingatkan keterbatasan persediaan rudal pencegat. 

"Kita tidak memiliki persediaan yang tak terbatas," ujarnya, seraya menyebut konflik ini bisa menjadi masalah matematika dalam menyeimbangkan serangan dan ketersediaan sistem pertahanan udara.

Ia mempertanyakan bagaimana AS akan mengisi ulang persediaan tanpa melemahkan kesiapan di kawasan lain. 

"Bagaimana kita dapat memasok kembali amunisi pertahanan udara? Dari mana amunisi itu akan berasal? Bagaimana hal itu memengaruhi medan operasi lain?" katanya.

Senator Andy Kim juga mengaku belum menerima jawaban memadai. "Saya sangat prihatin tentang hal itu," ujarnya.

"Sesuatu yang mirip dengan percayalah pada kami tidak cukup baik bagi saya," tambahnya.

Sebaliknya, Senator Markwayne Mullin dari Partai Republik menyatakan bahwa para pejabat meyakinkan anggota parlemen bahwa pasukan AS dalam kondisi sangat baik.

Ancaman paling mendesak

Analis keamanan nasional Israel, Ehud Eilam, menilai bahwa selama Iran belum mampu merakit senjata nuklir dalam waktu dekat, ancaman paling mendesak tetap berasal dari rudal dan drone. 

"Selama diperkirakan Iran tidak dapat memproduksi senjata nuklir dalam waktu dekat, maka fokus beralih ke rudal dan drone," katanya. 

"Ada batasan berapa banyak rudal THAAD yang dapat digunakan. Ini bukan sistem yang dapat Anda produksi ulang dalam semalam," jelasnya.

Dalam konflik Iran-Israel pada Juni 2025, pasukan AS dilaporkan menembakkan lebih dari 150 pencegat THAAD serta sejumlah besar rudal pencegat berbasis kapal. 

Para analis mencatat bahwa produksi ulang sistem pertahanan udara canggih seperti Patriot, THAAD, dan SM-3 dapat memakan waktu lebih dari satu tahun, menciptakan tekanan tambahan di tengah kebutuhan global yang bersaing, termasuk dukungan bagi Ukraina. (ABC News/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya