Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Teheran Bantah Klaim Trump soal Program Rudal

Dhika Kusuma Winata
25/2/2026 15:06
Teheran Bantah Klaim Trump soal Program Rudal
Ilustrasi - Konflik Iran vs Amerika Serikat.(ANTARA/Anadolu Ajansi)

PEMERINTAH Iran membantah keras tudingan Amerika Serikat terkait pengembangan program rudal jarak jauh. Penegasan itu disampaikan Kementerian Luar Negeri Iran setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran mengembangkan rudal yang mampu menjangkau wilayah Amerika.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan klaim Washington tidak berdasar. Ia menegaskan tuduhan tersebut merupakan pengulangan narasi lama yang menurutnya tidak memiliki bukti kuat.

“Apa pun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban dalam kerusuhan Januari, hanyalah pengulangan dari kebohongan besar,” tulisnya di platform X.

Beberapa jam sebelumnya, Trump menyebut Iran tengah mengupayakan pengembangan rudal yang dapat mencapai daratan AS. Ia menegaskan Iran tidak akan pernah diizinkan memiliki senjata nuklir serta menuduh para pemimpin Teheran kembali mengejar ambisi nuklir yang dinilainya berbahaya.

Pemerintah Iran berulang kali membantah tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran menegaskan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai dan penggunaan sipil, bukan untuk tujuan militer.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya menyatakan negaranya tidak memiliki kemampuan menyerang wilayah Amerika Serikat. Namun, ia memperingatkan bahwa Iran akan menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah apabila Washington melancarkan serangan.

Dalam pernyataan terpisah, Trump juga menuding otoritas Iran bertanggung jawab atas 32.000 kematian dalam gelombang protes yang pecah sejak Desember dan memuncak pada 8-9 Januari.

Pemerintah Iran mengakui lebih dari 3.000 korban jiwa, tetapi menyatakan kekerasan tersebut dipicu oleh aksi yang didorong Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS mencatat lebih dari 7.000 kematian, serta menyebut angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi. (Dhk/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya