Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Militer AS Kembali Gempur Kapal Narkoba di Pasifik, 2 Tewas, Legalitas Operasi Dipertanyakan

Thalatie K Yani
06/2/2026 11:58
Militer AS Kembali Gempur Kapal Narkoba di Pasifik, 2 Tewas, Legalitas Operasi Dipertanyakan
Militer AS melakukan serangan mematikan terhadap kapal yang diduga milik kartel narkoba di Pasifik Timur. Operasi "Southern Spear" kini menuai kecaman terkait legalitas hukum.(SOUTHCOM)

MILITER Amerika Serikat kembali meluncurkan serangan mematikan terhadap kapal yang diduga mengangkut narkoba di Samudra Pasifik Timur, Kamis (5/2). Serangan ini menewaskan dua orang di atas kapal tersebut, sebagaimana dikonfirmasi oleh Komando Selatan AS (SOUTHCOM).

Melalui unggahan di media sosial X, SOUTHCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan atas instruksi komandan baru mereka.

“Pada 5 Februari, di bawah arahan Komandan #SOUTHCOM Jenderal Francis L. Donovan, Satuan Tugas Gabungan Southern Spear melakukan serangan kinetik mematikan terhadap kapal yang dioperasikan oleh Organisasi Teroris Terpilih,” tulis pihak SOUTHCOM. Mereka juga memastikan tidak ada personel militer AS yang terluka dalam operasi tersebut.

Jenderal Donovan baru saja mengemban jabatan sebagai Komandan SOUTHCOM pada hari Kamis, yang kini mengawasi seluruh operasi militer AS di kawasan Amerika Latin dan Karibia.

Korban Terus Bertambah 

Serangan ini merupakan bagian dari kampanye militer bernama Operasi Southern Spear yang dicanangkan pemerintahan Trump. Sejauh ini, setidaknya 119 orang dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai sebagai pengangkut narkotika. Kejadian pada hari Kamis tersebut merupakan serangan kedua yang diketahui terjadi sepanjang tahun ini, setelah serangan serupa di bulan Januari menewaskan dua orang dan menyisakan satu korban selamat.

Kontroversi Legalitas dan Bukti 

Meskipun pemerintah AS mengklaim operasi ini bertujuan memutus aliran narkotika, legalitas serangan tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat Kongres. Pemerintah mengeklaim AS sedang berada dalam "konflik bersenjata" melawan kartel narkoba. Namun, hingga kini pihak administrasi hanya menunjukkan sedikit bukti bahwa mereka yang tewas berafiliasi dengan kartel, atau bahwa setiap kapal yang dihancurkan benar-benar membawa narkoba.

Dalam pengarahan di Kongres, pejabat militer bahkan mengakui bahwa mereka tidak mengetahui identitas semua orang yang berada di atas kapal yang mereka hancurkan. Para ahli hukum militer juga meragukan dasar hukum serangan ini, terutama setelah laporan adanya serangan kedua yang sengaja menghabisi penyintas pada operasi sebelumnya.

Motif di Balik Tekanan Militer 

Selain isu narkoba, sejumlah pejabat AS sebelumnya secara tertutup mengakui kampanye tekanan militer ini juga bertujuan untuk menggulingkan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro. Awal Januari lalu, militer AS telah menangkap Maduro di Caracas dan membawanya ke New York untuk menghadapi tuntutan kriminal.

Kelompok hak asasi manusia dan anggota Kongres berargumen para terduga pengedar narkoba seharusnya diadili secara hukum, sesuai dengan kebijakan intersepsi yang berlaku sebelum era Presiden Donald Trump. Pekan lalu, keluarga dari dua pria yang diyakini tewas dalam serangan bulan Oktober telah mengajukan gugatan terhadap pemerintah AS atas tuduhan pembunuhan di luar hukum (extrajudicial killing). (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya