Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Ketegangan Meningkat, Kuba Bantah Klaim Trump Terkait Negosiasi Kesepakatan Dagang

Thalatie K Yani
03/2/2026 05:58
Ketegangan Meningkat, Kuba Bantah Klaim Trump Terkait Negosiasi Kesepakatan Dagang
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio(X)

PEMERINTAH Kuba membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim adanya pembicaraan tingkat tinggi untuk mengakhiri tekanan ekonomi terhadap negara komunis tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Carlos Fernandez de Cossio, menegaskan meskipun ada pertukaran pesan, saat ini tidak ada dialog spesifik yang sedang berlangsung.

Bantahan ini muncul setelah Trump menyatakan, Minggu (1/2), Amerika Serikat sedang berbicara dengan "orang-orang tertinggi di Kuba" dan berharap dapat "mencapai kesepakatan" untuk menyelamatkan negara yang tengah dilanda krisis keuangan tersebut.

"Kuba adalah negara yang gagal. Sudah lama seperti itu, tapi sekarang tidak ada Venezuela yang menopangnya. Jadi kami berbicara dengan orang-orang dari Kuba untuk melihat apa yang terjadi," ujar Trump kepada wartawan.

Tantangan dari Meksiko

Di tengah upaya Washington memperketat blokade energi, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum justru menjanjikan pengiriman bantuan kemanusiaan dan bahan bakar ke Havana minggu ini. Langkah ini diambil meskipun Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang mengancam akan menjatuhkan tarif bagi negara mana pun yang mengirim minyak mentah ke Kuba.

Trump mengklaim Sheinbaum telah setuju untuk menghentikan pengiriman minyak atas permintaannya, namun klaim tersebut dibantah keras oleh pemimpin Meksiko itu.

"Kami tidak pernah mendiskusikan masalah minyak dengan Kuba kepada Presiden Trump," tegas Sheinbaum dalam sebuah acara publik di Sonora, Minggu (1/2).

Dukungan Meksiko kini menjadi sangat krusial bagi Havana. Sejak penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh AS bulan lalu yang memutus pasokan minyak dari Caracas, Meksiko telah menggantikan posisi Venezuela sebagai pemasok utama energi bagi Kuba.

Diplomasi di Tengah Keputusasaan

Meskipun sempat mengecam perintah eksekutif Trump sebagai "ancaman yang luar biasa", Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez mulai menunjukkan sikap melunak. Melalui unggahan di platform X, ia menyatakan kesiapan Havana untuk menjalin kerja sama bilateral.

Keterbukaan mendadak ini diduga dipicu oleh kondisi keputusasaan. Data dari firma konsultan Kpler menyebutkan bahwa tanpa pasokan minyak tambahan, Kuba diprediksi akan kehabisan bahan bakar dalam tiga minggu ke depan.

Posisi Dilematis Sheinbaum

William LeoGrande, pakar hubungan AS-Amerika Latin dari American University, menilai Presiden Sheinbaum sedang berada di posisi sulit. Ia harus menyeimbangkan persahabatan lama dengan Kuba demi menghindari krisis kemanusiaan, sembari menjaga hubungan kerja dengan AS di tengah ancaman tarif perdagangan.

Sikap nekat Sheinbaum ini pun memicu reaksi keras dari Washington. Anggota Kongres dari Partai Republik, Carlos Gimenez, secara terbuka mengkritik keras kebijakan tersebut.

"Kami tidak memahami keinginan Presiden Sheinbaum untuk terus merusak kebijakan negara kami. Kami tidak memahami keinginannya untuk terus membantu kediktatoran pembunuh dan kejam yang menginjak-injak rakyat #Kuba," tulis Gimenez di X.

Dengan negosiasi perdagangan yang akan dimulai pada Juli mendatang, Washington diprediksi akan terus menggunakan tekanan ekonomi sebagai alat pemaksa agar Meksiko mengikuti keinginan Trump terkait blokade Kuba. (AFP/The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya