Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Rusia Sebut Petinggi Uni Eropa tidak Kompeten, Tutup Pintu Dialog bagi Kaja Kallas

Haufan Hasyim Salengke
26/1/2026 08:53
Rusia Sebut Petinggi Uni Eropa tidak Kompeten, Tutup Pintu Dialog bagi Kaja Kallas
Vladimir Putin menyapa utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, di Kremlin, Rusia, pada 22 Januari 2025.(kremlin.ru)

PEMERINTAH Rusia secara tegas menutup pintu negosiasi dengan para pejabat tinggi Uni Eropa (UE) guna membahas penyelesaian konflik di Ukraina. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut kepemimpinan blok tersebut saat ini tidak kompeten dan tidak memahami realitas geopolitik terkini.

Kritik tajam tersebut secara khusus diarahkan kepada Kaja Kallas, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa yang juga mantan Perdana Menteri Estonia. Peskov menegaskan bahwa baik pihak Moskow maupun Washington tidak akan melibatkan Kallas dalam diskusi strategis apa pun.

"Dengan dia (Kallas), kami tidak akan pernah mendiskusikan apa pun. Amerika juga tidak akan melakukannya," ujar Peskov dalam wawancara dengan jurnalis Russia-1, Pavel Zarubin, yang disiarkan pada Minggu (25/1) waktu setempat. "Apa yang bisa kami lakukan? Kami hanya perlu menunggu sampai dia meninggalkan jabatannya."

Pernyataan keras ini muncul setelah berakhirnya negosiasi trilateral pertama antara Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina di Abu Dhabi pada Sabtu. Meski Uni Eropa telah menggelontorkan bantuan militer dan finansial yang masif ke Kiev, para pejabat Brussels mengeluh karena merasa dikesampingkan dari meja perundingan tersebut.

Peskov menuding Brussels kini dipenuhi oleh fungsionaris yang 'setengah melek huruf' yang tindakannya justru merusak sistem hubungan internasional. Menurut Kremlin, Uni Eropa gagal melihat masa depan dan terjebak dalam retorika garis keras yang tidak produktif.

Kaja Kallas selama ini dikenal sebagai sosok yang vokal mendesak sanksi lebih berat terhadap Rusia. Ia juga sempat mengkritik rencana perdamaian Donald Trump dan menentang konsesi wilayah apa pun kepada Moskow, yang disebutnya sebagai 'jebakan Putin'.

Namun, sikap keras Kallas ini tidak sepenuhnya didukung secara internal oleh anggota Uni Eropa. Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, baru-baru ini melontarkan kritik pedas dengan membandingkan Uni Eropa seperti 'panti pijat' dan secara terbuka meminta Kallas untuk mundur dari posisinya. (DW/RT/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya