Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Kisah Nabi Syits AS: Putra Nabi Adam Penjaga Nur Muhammad

Wisnu Arto Subari
22/1/2026 23:53
Kisah Nabi Syits AS: Putra Nabi Adam Penjaga Nur Muhammad
Ilustrasi.(Freepik)

DUNIA pernah dirundung duka yang amat dalam ketika putra pertama Nabi Adam AS, Habil, tewas di tangan saudaranya sendiri, Qabil. Peristiwa tragis itu tidak hanya meninggalkan luka bagi kedua orangtua mereka, tetapi juga menyisakan kekosongan dalam kepemimpinan spiritual manusia di bumi.

Namun, Allah SWT yang Maha Pengasih tidak membiarkan umat manusia kehilangan arah. Sebagai pengganti Habil, lahirlah seorang putra yang kelak menjadi nabi kedua di muka bumi ialah Nabi Syits AS.

Nama Syits memiliki arti Hibatullah atau Hadiah dari Allah. Kelahirannya membawa cahaya baru dan harapan bagi Nabi Adam AS yang telah lama berduka.

Nabi Syits AS bukan hanya seorang penerus biologis, melainkan sosok yang dipilih untuk menjaga wasiat suci dan ilmu-ilmu langit yang belum sempat tersampaikan secara luas sebelumnya. Seperti apa Nabi Syits? Simak kisahnya berikut ini.

Kelahiran Nabi Syits as: Karunia Allah Pengganti Habil

Nabi Syits lahir saat Nabi Adam AS telah berusia sekitar 130 tahun. Kelahirannya dipandang sebagai mukjizat dan penghiburan langsung dari Allah SWT.

Dalam berbagai literatur Islam, disebutkan bahwa Syits adalah putra yang paling mirip dengan Nabi Adam AS, baik dari segi fisik maupun akhlaknya. Kesalehan Syits telah tampak sejak kecil. Ini menjadikannya anak kesayangan yang dipersiapkan untuk memikul beban kenabian.

Sebelum Nabi Adam AS wafat, beliau memberikan wasiat khusus kepada Syits. Beliau mengajarkan waktu-waktu ibadah dalam sehari semalam, menginformasikan tentang akan datangnya peristiwa banjir besar di masa Nabi Nuh, serta yang paling utama adalah menyerahkan Nur Muhammad atau cahaya kenabian yang akan terus mengalir hingga nabi terakhir.

Penerima 50 Suhuf Pertama dan Guru Umat Manusia

Salah satu keistimewaan utama Nabi Syits AS adalah jumlah wahyu yang diterimanya. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dzarr bahwa Allah menurunkan 104 suhuf (lembaran wahyu). Sekitar 50 di antaranya diturunkan khusus kepada Nabi Syits AS.

Suhuf-suhuf ini berisi tentang hukum-hukum Allah, tata cara ibadah, serta ilmu-ilmu tentang alam semesta. Pada masa inilah, dasar-dasar peradaban manusia mulai dibangun secara sistematis. Beliau mengajarkan kaumnya cara bercocok tanam yang benar, sistem perdagangan yang adil, hingga cara membangun pemukiman yang teratur.

Pemisahan Kaum: Strategi Nabi Syits Menjaga Kesucian Iman

Tantangan terbesar Nabi Syits AS adalah menghadapi keturunan Qabil yang mulai menyimpang dari ajaran tauhid. Keturunan Qabil tinggal di dataran rendah (lembah) dan mulai terpengaruh oleh godaan Iblis yang memperkenalkan alat musik dan gaya hidup mewah (tabarruj).

Untuk menjaga kesucian kaumnya, Nabi Syits AS memerintahkan pengikutnya untuk tetap tinggal di dataran tinggi (pegunungan) dan melarang mereka berinteraksi atau menikah dengan keturunan Qabil. Pemisahan geografis ini merupakan strategi dakwah pertama dalam sejarah manusia untuk menjaga kemurnian akidah dari pengaruh lingkungan yang buruk.

16 Nasihat Kepemimpinan Nabi Syits as yang Jarang Diketahui

Sebagai pemimpin pertama setelah Adam, Syits meninggalkan warisan berupa prinsip-prinsip hidup yang sangat relevan hingga saat ini. Berikut adalah beberapa inti dari nasihat beliau kepada keturunannya:

  • Waspada terhadap Dunia: Janganlah kamu merasa aman dengan dunia, karena dunia bukan tempat tinggal yang kekal.
  • Keadilan dalam Keputusan: Janganlah bertindak hanya berdasarkan keinginan nafsu, tetapi bertindaklah berdasarkan kebenaran.
  • Menjaga Silaturahmi: Kekuatan sebuah kaum terletak pada hubungan baik antar sesama anggota keluarga dan masyarakat.
  • Kesabaran dalam Ujian: Setiap kesulitan adalah cara Allah menyaring siapa yang benar-benar beriman.

Pembangunan Kembali Ka'bah dan Akhir Hayat

Beberapa riwayat sejarah menyebutkan bahwa Nabi Syits AS adalah orang yang membangun kembali Ka'bah menggunakan batu dan lumpur setelah bangunan pertamanya yang didirikan Nabi Adam mengalami kerusakan. Beliau juga menetapkan aturan-aturan mengenai haji dan umrah yang menjadi fondasi bagi nabi-nabi setelahnya.

Nabi Syits AS wafat pada usia 912 tahun. Sebelum wafat, beliau menunjuk putranya, Anusy, sebagai pelanjut kepemimpinan.

Beliau dimakamkan di dekat makam Nabi Adam AS di Jabal Abu Qubais, Mekah. Ada beberapa pendapat lain mengenai lokasi makamnya di wilayah Libanon saat ini.

Pertanyaan Seputar Nabi Syits AS

1. Siapa nabi kedua setelah Nabi Adam?

Nabi kedua dalam urutan kenabian (meskipun tidak termasuk dalam 25 nabi yang wajib diketahui secara urutan populer di Indonesia) adalah Nabi Syits AS, putra Nabi Adam.

2. Apa mukjizat Nabi Syits as?

Mukjizat utamanya adalah menerima 50 suhuf dari Allah SWT yang berisi ilmu pengetahuan dan syariat serta kemampuannya memimpin umat manusia di masa awal peradaban.

3. Apa arti nama Hibatullah?

Hibatullah adalah gelar Nabi Syits yang berarti Hadiah atau Pemberian dari Allah, sebagai pengganti atas wafatnya Habil.

4. Berapa lama Nabi Syits hidup?

Nabi Syits AS diperkirakan hidup selama 912 tahun menurut berbagai riwayat tarikh Islam.

5. Apa tugas utama Nabi Syits?

Menjaga syariat Allah, memisahkan kaum beriman dari kaum yang bermaksiat (keturunan Qabil), dan menjaga Nur Muhammad.

6. Apakah Nabi Syits termasuk 25 Nabi?

Secara resmi dalam daftar 25 nabi yang wajib diimani, nama Nabi Syits tidak tercantum. Namun, keberadaannya sebagai nabi dan rasul diakui dalam hadis shahih dan kitab-kitab sejarah Islam.

7. Siapa yang menjadi guru Nabi Idris?

Nabi Syits dianggap sebagai leluhur dan sumber ilmu bagi Nabi Idris AS yang merupakan nabi ketiga.

8. Di mana Nabi Syits dimakamkan?

Pendapat paling kuat menyebutkan di Jabal Abu Qubais, Mekah, berdampingan dengan Nabi Adam.

9. Apa isi 50 suhuf Nabi Syits?

Berisi tentang tauhid, tata cara ibadah, hukum sosial, dan pengetahuan tentang alam semesta.

10. Mengapa Nabi Syits melarang kaumnya bertemu keturunan Qabil?

Untuk menghindari fitnah, kemaksiatan, dan penyembahan selain Allah yang mulai dilakukan oleh pengikut Qabil akibat godaan Iblis.

Pelajaran dari Kisah Nabi Syits AS

  • Mengimani bahwa Allah selalu memberikan ganti yang lebih baik atas setiap kehilangan (konsep Hibatullah).
  • Pentingnya menjaga lingkungan pergaulan agar akidah tetap terjaga.
  • Menghargai ilmu pengetahuan sebagai bagian dari wahyu Allah (melalui 50 suhuf).
  • Memahami bahwa kepemimpinan yang baik harus didasarkan pada wasiat dan aturan agama.

Penulis: Tim Redaksi Media Indonesia

PENAFIAN

Artikel ini diolah dan disusun oleh kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan serta verifikasi fakta oleh redaksi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya