Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Hadapi Ujian Terbesar

Wisnu Arto Subari
15/1/2026 17:47
Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei Hadapi Ujian Terbesar
Ali Khamenei.(Al Jazeera)

PEMIMPIN tertinggi Iran Ali Khamenei--pilar sistem teokratisnya sejak awal revolusi Islam--telah mengatasi serangkaian krisis sepanjang pemerintahannya. Akan tetapi, sekarang mungkin ia menghadapi tantangan terbesarnya.

Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 86 tahun, mendominasi Iran selama tiga setengah dekade terakhir sejak menjabat sebagai pemimpin seumur hidup pada 1989 sebagai pemimpin revolusi Islam setelah kematian pendiri revolusi Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Ia tetap berkuasa setelah mengatasi demonstrasi mahasiswa pada 1999, protes massal pada 2009 yang dipicu oleh sengketa pemilihan presiden, dan demonstrasi pada 2019.

Ia juga selamat dari gerakan 'Perempuan, Kehidupan, Kebebasan' pada 2022-2023 yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang perempuan Kurdi Iran, dalam tahanan. Amini ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian ketat untuk perempuan.

Khamenei terpaksa bersembunyi selama perang 12 hari melawan Israel pada Juni. Ini mengungkap penetrasi intelijen Israel yang mendalam ke Republik Islam yang menyebabkan pembunuhan sejumlah pejabat keamanan penting dalam serangan udara.

Namun ia selamat dari perang itu. Dengan protes nasional yang kembali mengguncang Republik Islam selama dua minggu terakhir, ia muncul Jumat lalu untuk menyampaikan pidato yang khas dan menantang. Ia mengecam para pengunjuk rasa sebagai sekelompok perusak yang didukung oleh Amerika Serikat dan Israel.

Namun, kata para analis, meskipun ia mungkin telah menggagalkan gelombang protes saat ini dengan tindakan keras yang menurut kelompok hak asasi manusia menyebabkan ribuan orang tewas, cengkeramannya pada kekuasaan kini lebih goyah. 

Ketidakpuasan publik

Di bawah Khamenei, "Sistem menghadapi tantangan populer berulang kali terhadap pemerintahannya, berulang kali menghancurkannya dengan tangan besi, dan terus memerintah seburuk sebelumnya," kata International Crisis Group dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (14/1) tentang protes tersebut.

"Pendekatan itu memberi waktu, tetapi keberhasilan yang hanya diukur dengan pemeliharaan kekuasaan koersif memberi para pemimpin negara sedikit dorongan untuk mengatasi keluhan yang mendasari ketidakpuasan publik."

Dengan latar belakang ancaman konstan serangan Israel atau AS untuk melenyapkannya, Khamenei hidup di bawah pengamanan yang sangat ketat. Penampilan publiknya yang relatif jarang tidak pernah diumumkan sebelumnya atau disiarkan langsung. Pidatonya Jumat lalu yang menentang protes pertama kali ditayangkan sebagai rekaman di berita televisi pemerintah pada siang hari. 

Sebagai pemimpin tertinggi, ia tidak pernah menginjakkan kaki di luar negeri. Ini preseden yang ditetapkan oleh Khomeini setelah kepulangannya yang penuh kemenangan ke Teheran dari Prancis pada 1979 ketika revolusi Islam mengguncang Iran.

Perjalanan luar negeri terakhir Khamenei yang diketahui ialah kunjungan resmi ke Korea Utara pada 1989 sebagai presiden. Ia bertemu Kim Il Sung.

Telah lama ada spekulasi tentang kesehatannya mengingat usianya, tetapi tidak ada masalah apa pun dalam penampilannya minggu lalu. Ketika itu ia berbicara dengan tenang dan jelas. 

Namun ada rumor baru. Lengan kanan Khamenei selalu tidak bergerak. Lengan itu sebagian lumpuh setelah upaya pembunuhan pada 1981 yang selalu dituduhkan oleh pihak berwenang kepada kelompok Mujahidin Rakyat Iran (MEK), yang dulu merupakan sekutu revolusi dan sekarang dilarang di negara itu. 

Menentang pencalonan

Berulang kali ditangkap di bawah Shah karena aktivisme antiimperialismenya, Khamenei tak lama setelah revolusi Islam menjadi pemimpin salat Jumat di Teheran dan bertugas di garis depan selama perang Iran-Irak.

Ia terpilih sebagai presiden pada 1981 setelah pembunuhan Mohammad Ali Rajai, serangan lain yang dituduhkan kepada MEK.

Selama 1980-an, penerus Khomeini yang paling mungkin ialah ulama senior Ayatollah Hossein Montazeri. Akan tetapi, pemimpin revolusioner itu berubah pikiran sesaat sebelum kematiannya setelah Montazeri keberatan dengan eksekusi massal anggota MEK dan para pembangkang lain.

Ketika Khomeini meninggal dan badan ulama tertinggi Republik Islam, Majelis Pakar, bertemu, Khamenei-lah yang mereka pilih sebagai pemimpin. Khamenei awalnya terkenal menolak pencalonan tersebut, menundukkan kepalanya sebagai tanda keputusasaan dan menyatakan, "Saya menentang." 

Namun para ulama bersatu untuk mengesahkan pencalonannya dan cengkeramannya pada kekuasaan tidak melemah sejak saat itu. "Semua orang tahu bahwa Republik Islam berkuasa dengan darah ratusan ribu orang terhormat sehingga tidak akan mundur menghadapi para penyabot," katanya dalam tanggapannya terhadap protes pada Jumat.

Khamenei kini telah bekerja dengan enam presiden terpilih, posisi yang jauh kurang berkuasa daripada pemimpin tertinggi, termasuk tokoh-tokoh yang lebih moderat seperti Mohammad Khatami yang diizinkan untuk melakukan upaya reformasi dan pendekatan yang hati-hati dengan Barat.

Namun pada akhirnya, Khamenei selalu berpihak pada kelompok garis keras dan elemen-elemen kunci dari ideologi garis keras sistem tersebut. Konfrontasi dengan Setan Besar Amerika Serikat dan penolakan untuk mengakui keberadaan Israel tetap utuh.

Ia diyakini, meskipun hanya memiliki satu anak, Mojtaba dikabarkan memiliki enam anak, tetapi tetap memiliki pengaruh publik yang besar. Ia dikenai sanksi oleh Amerika Serikat pada 2019 dan merupakan salah satu tokoh berpengaruh di balik layar di Iran.

Perselisihan keluarga juga menarik perhatian. Saudara perempuannya, Badri, berselisih dengan keluarganya pada 1980-an dan melarikan diri ke Irak selama perang untuk bergabung dengan suaminya, seorang ulama pembangkang.

Beberapa anak mereka, termasuk seorang keponakan yang sekarang berada di Prancis, menjadi kritikus yang keras. (AFP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik