Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

AS Tuntut Tiga Hal kepada Pemimpin Sementara Venezuela Rodriguez

Ferdian Ananda Majni
06/1/2026 20:14
AS Tuntut Tiga Hal kepada Pemimpin Sementara Venezuela Rodriguez
(Al Jazeera)

PEMERINTAHAN Presiden Donald Trump menekan pemimpin sementara Venezuela agar mengambil serangkaian langkah yang berpihak pada Amerika Serikat jika ingin menghindari konsekuensi yang sama seperti pendahulunya.

Menurut seorang pejabat AS yang mengetahui langsung situasi tersebut dan seorang lain yang memahami pembahasan internal pemerintahan, pejabat AS menyampaikan kepada Delcy Rodriguez bahwa Washington mengharapkan setidaknya tiga tindakan konkret. Pertama, memperketat pemberantasan aliran narkoba. 

Kedua, mengusir agen-agen dari Iran, Kuba, serta negara atau jaringan lain yang dianggap bermusuhan dengan Amerika Serikat. Ketiga, menghentikan penjualan minyak Venezuela kepada negara-negara yang menjadi musuh AS.

Selain itu, para pejabat AS berharap Rodriguez pada akhirnya membuka jalan bagi pemilihan umum yang bebas dan kemudian mengundurkan diri. Namun, kedua sumber tersebut menekankan bahwa tenggat waktu tuntutan ini masih belum pasti dan tidak ada pemilu yang akan digelar dalam waktu dekat.

Dua hari setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Nicolas Maduro, masih banyak ketidakjelasan mengenai langkah Washington selanjutnya. 

Gedung Putih menegaskan bahwa penggulingan Maduro merupakan bagian dari penegakan hukum terhadap seorang gembong narkoba, bukan operasi perubahan rezim atau perang terbuka. Ini kerangka narasi yang digunakan untuk menjelaskan keterbatasan langkah yang diambil sejauh ini. 

Namun, kecenderungan Presiden Trump terhadap aksi dramatis dan serangan terarah kini diuji di Venezuela, negara berpenduduk sekitar 30 juta jiwa dengan ekonomi yang runtuh, saat kesalahan strategi dapat memicu kekerasan dan ketidakstabilan yang lebih luas.

Rodríguez dipandang sebagai elemen kunci dalam strategi AS yang tengah berkembang. Meski dikenal sebagai sekutu lama Maduro dengan kredibilitas sosialis yang kuat, tim Trump meyakini bahwa ia akan mengikuti arahan Washington. Jika tidak, Trump memperingatkan bahwa tindakan militer besar dapat kembali dilakukan.

"Venezuela, sejauh ini, sangat baik. Akan tetapi sangat membantu jika kita memiliki kekuatan seperti yang kita miliki," kata Trump kepada wartawan pada Minggu (4/1) di Air Force One. 

"Jika mereka tidak berperilaku baik, kami akan melakukan serangan kedua," tambahnya.

Gedung Putih menolak memberikan komentar tambahan. Departemen Luar Negeri merujuk permintaan media kepada pernyataan sebelumnya dari Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang menyatakan bahwa pemerintah AS mengharapkan kerja sama yang lebih besar dari Rodriguez dibandingkan dari Maduro. 

Sementara itu, misi Venezuela untuk PBB di Jenewa belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa fokus utama pemerintahan saat ini ialah memastikan bahwa negara tersebut tetap stabil dalam memajukan kepentingan AS. Namun, ia menolak merinci tuntutan yang telah diajukan kepada Rodriguez.

Rubio memberi isyarat mengenai pesan Washington kepada Caracas dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (4/1). 

"Amerika Serikat akan menetapkan kondisi agar kita tidak lagi memiliki Venezuela di belahan bumi kita yang menjadi persimpangan bagi banyak musuh kita di seluruh dunia, termasuk Iran dan Hizbullah, tidak lagi mengirimkan geng narkoba kepada kita, tidak lagi mengirimkan kapal narkoba kepada kita, tidak lagi menjadi surga perdagangan narkoba," katanya. 

Namun, arahan yang disampaikan langsung kepada Rodriguez menunjukkan bahwa pembicaraan tersebut jauh lebih rinci, konkret, dan intens dibandingkan dengan pernyataan publik Rubio.

"Tim Trump menilai Rodriguez berada dalam posisi yang sangat tertekan dan yakin mereka dapat mengarahkannya ke arah mana pun yang mereka inginkan sebelum mereka menyingkirkannya dan melanjutkan," ujar seseorang yang dekat dengan pemerintahan. Seperti sumber lain, ia berbicara dengan syarat anonimitas karena sensitivitas isu yang dibahas.

Dalam hitungan hari, sikap Rodriguez berubah signifikan. Dari kecaman keras terhadap penangkapan Maduro, ia beralih pada pernyataan Minggu malam yang menyebutkan kesediaannya bekerja sama dengan Amerika Serikat dalam agenda kerja sama.

Rubio juga mengindikasikan dalam wawancara televisi akhir pekan lalu bahwa klaim Trump mengenai AS yang akan mengelola Venezuela lebih dimaksudkan untuk memberi tekanan psikologis kepada Rodriguez. Ia menyinggung pentingnya pemilu, sambil berupaya meredam ekspektasi bahwa proses tersebut akan segera berlangsung.

Sejumlah pembantu lain Trump, termasuk Richard Grenell, dilaporkan mendukung agar Rodriguez tetap menjabat tanpa batas waktu, demikian menurut pejabat AS tersebut.

Namun, pejabat senior itu menambahkan bahwa Grenell, yang kini ditunjuk Trump untuk memimpin Kennedy Center, tidak terlibat dalam perumusan kebijakan terbaru terkait Venezuela dan tidak termasuk dalam tim yang berhubungan dengan pemerintahan yang tersisa di Caracas. Grenell tidak menanggapi permintaan komentar.

Pejabat senior AS tersebut juga menegaskan bahwa presiden menilai masih terlalu dini bagi mereka untuk membahas pemilihan umum di Venezuela.

"Tentu saja pemilihan umum ialah sesuatu yang ingin kita lihat, tetapi itu bukan sesuatu yang sedang dibahas dengan Delcy saat ini," katanya.

Selain opsi militer, Amerika Serikat memiliki berbagai insentif dan ancaman lain untuk menekan Rodriguez, termasuk kemungkinan pencabutan sanksi serta akses terhadap aset keuangannya atau yang sebagian besar disebut berada di Doha, Qatar, demikian menurut dua sumber yang mengetahui kebijakan Trump terhadap Venezuela.

"AS memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap Rodriguez dan yang lain," kata Elliott Abrams, mantan utusan khusus Venezuela pada masa pemerintahan Trump pertama. 

"Kami telah membuktikan bahwa kami dapat menangkap orang-orang di pusat kota Caracas," tambahnya.

Abrams, yang menyebut bahwa Rodriguez juga memiliki aset di Turki, mengatakan bahwa sekadar pembahasan mengenai keuangannya dapat menjadi tekanan pribadi yang signifikan.

"Pernyataan bahwa kami sedang berbicara dengan Qatar dan Turki tentang uangnya jelas akan menjadi ancaman yang cukup besar," ujar Abrams.

Para pejabat AS dan tiga sumber lain menyatakan mereka belum mengetahui rencana konkret untuk mencabut sanksi terhadap Venezuela atau mengirimkan bantuan kemanusiaan dalam skala besar. 

Sebelum operasi militer yang berujung pada penangkapan Maduro, sejumlah pejabat lintas lembaga sempat mempertimbangkan langkah-langkah pascaoperasi, termasuk pelonggaran sanksi. Namun, menurut salah satu sumber, tidak ada proses antarlembaga untuk mengembangkan rencana pascaaksi.

Pemerintahan AS saat ini juga menghadapi keterbatasan kapasitas perencanaan akibat pemotongan anggaran di Departemen Luar Negeri dan lembaga lain, meskipun upaya pemulihan sedang dilakukan.

Sumber yang mengetahui diskusi internal menyebut bahwa AS juga meminta pembebasan warga negara Amerika yang ditahan di Venezuela. 

Namun, tidak ada tuntutan yang diketahui untuk membebaskan seluruh tahanan politik Venezuela. Ini fakta yang menimbulkan kekhawatiran di kalangan tokoh kebijakan luar negeri Partai Republik, termasuk Abrams, bahwa Washington tidak akan mendorong perubahan kepemimpinan secara menyeluruh.

Untuk sementara, tim Trump membayangkan sebagian besar pekerjaan pasca-Maduro akan dilakukan dari jarak jauh. Meski demikian, Trump mengatakan bahwa ia mempertimbangkan untuk membuka kembali Kedutaan Besar AS di Caracas.

Salah satu tantangan utama bagi Washington adalah kenyataan bahwa para kroni Maduro yang masih bertahan memiliki rivalitas internal dan basis kekuasaan masing-masing, beberapa di antaranya bersenjata. 

Selain Rodriguez, tokoh-tokoh tersebut termasuk menteri dalam negeri Diosdado Cabello serta menteri pertahanan Vladimir Padrino Lopez.

"Ini adalah sarang ular berbisa yang tidak stabil," kata seorang sumber yang mengetahui kebijakan Trump terhadap Venezuela.

"Situasi ini menciptakan dilema besar bagi Rodriguez. Sebagian warga Venezuela mempertanyakan apakah ia berperan dalam penyerahan Maduro," kata Ryan Berg, analis Amerika Latin di Center for Strategic and International Studies. Ia harus menampilkan kemarahan atas penangkapan Maduro, sembari tetap menunjukkan keterbukaan terhadap tuntutan AS.

"Dia juga perlu menjauhkan diri dari apa yang telah terjadi," tegas Berg.

"Namun pada saat yang sama, dia perlu terbuka untuk mendorong kebijakan pro-AS yang akan sangat sulit diterima oleh rezimnya, mengingat mereka memiliki sejarah 27 tahun memandang Amerika Serikat sebagai musuh terbesar," pungkasnya. (I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya