Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Tiga Kardinal Katolik Pertanyakan Kebijakan Luar Negeri AS

Wisnu Arto Subari
19/1/2026 22:57
Tiga Kardinal Katolik Pertanyakan Kebijakan Luar Negeri AS
Kardinal Blase Cupich dari Chicago.(Dok Istimewa)

MENGGEMAKAN kekhawatiran Paus Leo XIV tentang era baru unilateralisme dan peperangan, tiga uskup agung Katolik Amerika Serikat (AS) berpangkat tertinggi pada Senin (19/1) mengatakan bahwa landasan moral untuk tindakan Amerika di dunia dipertanyakan akibat penggunaan atau ancaman kekuatan militer kembali, termasuk di Venezuela dan Greenland.

Para uskup agung--Kardinal Blase Cupich dari Chicago, Robert McElroy dari Washington D.C., dan Joseph Tobin dari Newark--dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, memperkuat komentar Leo, paus pertama kelahiran AS, yang awal bulan ini menyesalkan runtuhnya multilateralisme.

"Pada 2026, Amerika Serikat memasuki perdebatan paling mendalam dan pedih tentang landasan moral untuk tindakan Amerika di dunia sejak berakhirnya Perang Dingin," tulis para uskup agung. "Peristiwa di Venezuela, Ukraina, dan Greenland menimbulkan pertanyaan mendasar tentang penggunaan kekuatan militer dan makna perdamaian."

Dalam pidato awal bulan ini kepada para duta besar untuk Takhta Suci yang pada dasarnya merupakan pidato kebijakan luar negeri tahunan Paus, Leo mengatakan, "Diplomasi yang mendorong dialog dan mencari konsensus di antara semua pihak sedang digantikan oleh diplomasi yang berbasis kekuatan, baik oleh individu maupun kelompok sekutu. Perang kembali menjadi tren dan semangat untuk penyebaran perang," kata Leo. "Prinsip yang ditetapkan setelah Perang Dunia Kedua, yang melarang negara-negara menggunakan kekuatan untuk melanggar perbatasan negara lain, sepenuhnya dirusak."

Ketiga uskup agung tersebut membahas tren global yang sama, dan juga menyebut Ukraina saat invasi skala penuh Rusia akan memasuki tahun kelima, tetapi mereka memusatkan pernyataan mereka pada Amerika Serikat saat ini. Mereka tidak menyebut nama Presiden Donald Trump, meskipun kebijakan Trump jelas menjadi titik referensi.

Ada kardinal AS lain yang sudah pensiun atau bekerja di Roma, tetapi Cupich, McElroy, dan Tobin ialah satu-satunya tiga kardinal AS yang saat ini memimpin keuskupan Amerika. Mereka termasuk dalam segmen kecil tetapi berpengaruh dari para uskup AS yang lebih progresif bertujuan, bersama dengan Leo, melanjutkan sebagian besar agenda yang ditetapkan Paus Fransiskus, pendahulunya yang lahir di Argentina.

Kritik dari Leo dan sekutunya mungkin lebih sulit diabaikan oleh orang Amerika daripada kritik dari Fransiskus yang sering kali tampak menganut pandangan dunia yang berakar di Global South yang pada dasarnya lebih skeptis terhadap kekuatan Amerika. Sebagai penduduk asli Chicago, Leo membawa beban ideologis yang lebih sedikit, kata para pengamat, dan kata-katanya mungkin lebih cenderung ditafsirkan dalam konteks moral yang ketat.

"Pada Fransiskus terdapat unsur genetik anti-Amerika, sentimen anti-Yankee," kata Massimo Faggioli, seorang profesor eklesiologi di Trinity College Dublin. "Jelas ini tidak (terjadi pada) Leo dan para kardinal AS."

Hierarki gereja di Amerika Serikat sama sekali tidak monolitik atau condong ke arah liberal. Para kardinal mengatakan bahwa pesan mereka tidak bermaksud bersifat partisan, melainkan, bersama Leo, berupaya mengalihkan perhatian pada ajaran inti Katolik pada saat yang genting ini. 

Salah satu ajaran tersebut, kata McElroy kepada The Washington Post, yaitu, "Perang seharusnya bukan instrumen kebijakan luar negeri yang normal. Perang seharusnya tidak digunakan untuk memperbesar kekayaan negara tertentu."

Selain itu, katanya, bantuan kemanusiaan adalah kewajiban setiap negara. Itu, kata McElroy, pilar utama ajaran Katolik.

Pemerintahan Trump memberlakukan pemotongan drastis terhadap bantuan kemanusiaan dan bantuan internasional lain. Sebelum bantuan luar negeri dipangkas di bawah pemerintahan saat ini, dalam dua dekade terakhir jumlahnya berkisar antara 0,7% hingga 1,4% dari total anggaran federal AS, menurut angka pemerintah AS.

Pertanyaan, perdebatan, dan perubahan tersebut, kata McElroy, tidak hanya terjadi di Amerika Serikat.

Para kardinal mengatakan mereka merasa terdorong untuk mengeluarkan pernyataan tersebut bukan hanya karena komentar Leo, tetapi juga setelah pertemuan awal bulan ini yang dihadiri oleh semua kardinal dunia di Roma.

"Kami mendengar suara sejumlah kardinal yang menyatakan kekhawatiran atas situasi tersebut, mulai dari aksi militer, hingga pemotongan bantuan luar negeri hingga beberapa hal yang sedang diperdebatkan," kata Cupich kepada The Post.

Namun, McElroy lebih lugas. "Banyak kardinal berbicara kepada kami dengan kekhawatiran tentang posisi yang diambil AS dalam urusan internasional."

Dalam pernyataan mereka, ketiga uskup agung AS menyerukan kebijakan luar negeri AS yang sesuai dengan ajaran gereja. "Sebagai pastor dan warga negara, kami merangkul visi ini untuk pembentukan kebijakan luar negeri yang benar-benar bermoral bagi bangsa kita," tulis mereka. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa negara tersebut tampaknya semakin tidak mampu melakukan wacana sipil.

"Debat bangsa kita tentang landasan moral untuk kebijakan Amerika diliputi oleh polarisasi, keberpihakan, dan kepentingan ekonomi dan sosial yang sempit," tulis mereka. "Paus Leo telah memberi kita prisma yang melaluinya kita dapat mengangkatnya ke tingkat yang lebih tinggi."

Beberapa pengamat diplomasi Gereja AS mengatakan pidato tahunan Leo kepada korps diplomatik Vatikan menunjukkan bahwa ia sedang merancang jalan ke depan.

"Takhta Suci saat ini merupakan tandingan yang jelas terhadap visi kebijakan luar negeri Trump," kata Marco Politi, seorang penulis yang berbasis di Roma dan menulis beberapa buku tentang Vatikan. "Ini mewakili multilateralisme versus visi para Bos Besar yang membagi dunia menjadi zona pengaruh seperti kepemilikan."

Shaun Casey, yang pernah menjabat sebagai direktur Kantor Agama dan Urusan Global Departemen Luar Negeri AS--kantor yang dihapus selama pemerintahan Trump pertama--mengatakan bahwa orang-orang di seluruh dunia menantikan arahan dari Leo dan para pemimpin Katolik.

"Ada ribuan pemimpin Katolik yang membaca pidato (Leo) minggu lalu dan berbicara dengan jaringan Katolik mereka. Gereja Katolik memiliki jaringan di mana-mana," kata Casey. 

"Saya pikir dia sedang memainkan permainan jangka panjang di sini, karena dia relatif masih muda dibandingkan dengan paus lain. Dia tahu hanya tersisa tiga tahun. Dia tidak akan langsung menyerang dengan gencar."

Leo mengatakan bahwa ia tidak ingin memperburuk perpecahan dan polarisasi politik dan menahan diri dari nada yang lebih tajam serta konfrontatif seperti pendahulunya dalam merujuk pada Trump dan kaum konservatif Amerika. Namun, dalam beberapa bulan pertamanya, Leo secara bertahap menjadi lebih tajam dalam kritiknya, meskipun ia sebagian besar menghindari mengkritik Trump secara langsung.

Pada September, Leo menyatakan keprihatinan atas pernyataan keras Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam pertemuan yang diadakan secara tergesa-gesa oleh para petinggi militer Amerika di Pangkalan Korps Marinir Quantico di Virginia.

Paus juga mengecam perlakuan tidak manusiawi terhadap para migran di Amerika Serikat. Dalam pernyataan yang jarang terjadi dan hampir bulat, Konferensi Uskup Katolik AS (USCCB) pada November memilih untuk mengutuk tindakan keras pemerintahan Trump terhadap imigran tanpa dokumen sebagai serangan terhadap martabat manusia yang diberikan Tuhan dan menganjurkan reformasi yang berarti terhadap undang-undang imigrasi negara.

Pernyataan kelompok tersebut juga menyebutkan bahwa para uskup, "Menentang deportasi massal tanpa pandang bulu. Kami berdoa agar retorika dan kekerasan yang merendahkan martabat manusia, baik yang ditujukan kepada imigran maupun kepada penegak hukum, segera berakhir."

Pada Malam Natal, orang kepercayaan Paus, Kardinal Pietro Parolin, mengadakan pertemuan mendesak dengan duta besar AS untuk Takhta Suci mengenai rencana AS di Venezuela. Hal itu terjadi setelah Leo berulang kali secara terbuka menentang penggunaan kekuatan militer di sana.

Para uskup Katolik secara keseluruhan, "Sangat lambat dan terpecah belah saat ini. Tidak ada yang menginginkan mereka untuk bersikap proaktif," kata Casey. Badan tersebut lebih didominasi oleh uskup konservatif dan sayap kanan tengah.

Minggu lalu, Trump bertemu dengan Presiden USCCB Paul Coakley, uskup agung Oklahoma City. Rincian tentang yang mereka diskusikan tidak dirilis, tetapi beberapa hari kemudian DHS mengeluarkan peraturan akhir sementara yang mengurangi waktu tunggu untuk visa pekerja keagamaan. Sejumlah besar imam yang melayani di Amerika Serikat adalah pekerja asing. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya