Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Venezuela Tuduh AS Picu Instabilitas Kawasan Terkait Klaim Penangkapan Nicolas Maduro

Basuki Eka Purnama
04/1/2026 11:32
Venezuela Tuduh AS Picu Instabilitas Kawasan Terkait Klaim Penangkapan Nicolas Maduro
Warga mengibarkan bendera Venezuela di Caracas usai Presiden Nicolas Maduro ditangkap personel militer AS.(AFP/Federico Parra)

PEMERINTAH Venezuela melontarkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat (AS), menyebut Washington telah mengguncang stabilitas kawasan Amerika Latin. Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim bahwa pasukannya telah melancarkan operasi militer besar-besaran untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Menteri Luar Negeri Venezuela, Ivan Gil, dalam wawancara dengan kantor berita Rusia, RIA Novosti, menegaskan bahwa perdamaian di kawasan tersebut kini berada dalam posisi terancam. 

Ia menilai klaim serangan tersebut sebagai bentuk agresi terang-terangan yang merusak tatanan regional.

"Perdamaian Amerika Latin terganggu oleh tindakan Washington," ujar Ivan Gil, seraya menambahkan bahwa tindakan tersebut merupakan ancaman serius terhadap kedaulatan negaranya.

Klaim Operasi Delta Force

Ketegangan memuncak pada Sabtu pekan lalu saat Trump menyatakan bahwa militer AS telah menyerbu Venezuela. 

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah ditangkap dan dibawa ke luar negeri. 

Tidak lama berselang, Trump mengunggah sebuah foto yang diklaim memperlihatkan Maduro berada di atas kapal milik AS, meski keaslian foto tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Beberapa laporan media menyebutkan adanya ledakan di ibu kota Caracas yang diduga melibatkan unit elite Delta Force. 

Namun, hingga saat ini, pihak Pentagon maupun otoritas independen lainnya belum memberikan konfirmasi resmi mengenai detail maupun keberhasilan operasi tersebut.

Ketidakpastian dan Kecaman Internasional

Di sisi lain, Pemerintah Venezuela mengaku kehilangan kontak dengan pemimpin mereka. Pihak Caracas menuntut Washington memberikan bukti konkret bahwa Maduro masih dalam keadaan hidup. Ketidakpastian mengenai keberadaan sang presiden memicu kekhawatiran akan terjadinya eskalasi konflik yang lebih luas.

Reaksi keras juga datang dari dalam negeri AS. Sejumlah anggota Kongres dari lintas partai mengecam operasi tersebut sebagai tindakan ilegal yang melanggar hukum internasional. Sebaliknya, pemerintahan Trump bersikeras bahwa Maduro akan segera dihadapkan ke pengadilan.

Langkah Diplomatik dan Dukungan Rusia

Menanggapi situasi ini, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan segera mengajukan pengaduan ke organisasi internasional dan mendesak pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB. 

Langkah ini diambil untuk menekan AS agar memberikan klarifikasi serta menghentikan agresi terhadap kedaulatan Venezuela.

Dukungan mengalir dari Rusia yang menyatakan solidaritasnya terhadap rakyat Venezuela. Moskow menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan pemindahan paksa Maduro dan istrinya. Rusia menyerukan pembebasan segera bagi keduanya dan mendesak penyelesaian konflik secara damai sesuai dengan Piagam PBB.

Hingga saat ini, negara-negara di Amerika Latin terus memantau situasi dengan kewaspadaan tinggi. Para analis memperingatkan bahwa klaim yang saling bertentangan ini berisiko memperburuk ketegangan geopolitik di kawasan tersebut jika tidak segera ditangani melalui jalur diplomasi yang transparan. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya