Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Fakta-Fakta Aksi Protes Iran: Masalah Ekonomi sampai Korban Tewas

Dhika Kusuma Winata
03/1/2026 14:13
Fakta-Fakta Aksi Protes Iran: Masalah Ekonomi sampai Korban Tewas
Ilustrasi(Xinhua)

Gelombang aksi protes kembali merebak di Iran seiring memburuknya kondisi ekonomi di negara tersebut. Unjuk rasa yang dipicu melonjaknya biaya hidup itu telah memasuki hari keenam.n Nilai tukar rial terjun ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat pada akhir Desember.

Berikut ini sejumlah fakta terkait aksi protes Iran:

1. Korban Jiwa Berjatuhan

Situasi memanas setelah bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan menimbulkan korban jiwa. Pemerintah Presiden Masoud Pezeshkian menyerukan persatuan nasional sembari menuding tekanan ekonomi sebagai dampak dari musuh-musuh Iran. Meski pemerintah menjanjikan reformasi ekonomi dan pengetatan pemberantasan korupsi, aksi protes terus berlanjut dan meluas.

Hingga kini, menurut laporan Al Jazeera, sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dan 44 orang ditangkap sejak aksi awal dimulai oleh para pedagang di Teheran yang menutup toko mereka sebagai bentuk protes terhadap krisis ekonomi.  Seiring waktu, demonstrasi ekonomi berkembang menjadi aksi bernuansa politik dan menyebar ke berbagai daerah.

2. Kekhawatiran Biaya Hidup

Tekanan ekonomi yang memicu kemarahan publik dinilai sangat nyata. Iran merupakan salah satu negara dengan tingkat sanksi internasional tertinggi di dunia. Pembatasan global membuat Teheran kesulitan mengakses pasar keuangan internasional serta aset luar negeri yang dibekukan.

Ketergantungan pada impor memperparah kondisi tersebut dan mendorong laju inflasi. Pada akhir Desember, nilai tukar rial jatuh hingga sekitar 1,42 juta per dolar AS, atau melemah sekitar 56% hanya dalam enam bulan. Dampaknya terasa langsung pada harga kebutuhan pokok, dengan harga pangan melonjak rata-rata lebih dari 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

3. Aksi Protes Meluas

Sesuatu yang bermula sebagai protes terbatas di Grand Bazaar Teheran dengan cepat meluas. Hingga malam Tahun Baru, aksi tercatat terjadi di sedikitnya 17 dari 31 provinsi Iran, melibatkan ribuan orang dari berbagai latar belakang sosial, termasuk mahasiswa.

Aparat keamanan merespons keras di sejumlah wilayah. Media semiresmi Fars melaporkan tiga orang tewas dalam bentrokan di Lordegan, Iran barat daya. Tiga korban lainnya dilaporkan meninggal di Azna, serta satu orang di Kouhdasht, wilayah Iran tengah. Sebagian demonstran melempar batu ke gedung-gedung pemerintahan, termasuk kantor gubernur, masjid, balai kota, dan bank. Polisi berupaya membubarkan massa dengan gas air mata.

4. Iran Pernah Mengalami Protes Massal

Iran memiliki catatan panjang gelombang protes besar dalam satu dekade terakhir. Pada 2022, demonstrasi nasional pecah setelah Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun, meninggal dunia dalam tahanan polisi moral usai ditangkap karena dianggap tidak mengenakan hijab dengan benar.

Aksi protes kala itu bermula dari pemakaman Amini di Saqqez, Iran barat, ketika perempuan melepas penutup kepala sebagai simbol perlawanan. Demonstrasi kemudian menyebar luas ke berbagai kota di seluruh negeri. Respons aparat saat itu menuai kecaman internasional. Ribuan orang ditangkap, gas air mata dan peluru tajam digunakan, dan ratusan orang dilaporkan tewas menurut organisasi hak asasi manusia. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya