Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jepang-AS Latihan Udara Bersama Tanggapi Patroli Tiongkok-Rusia

Ferdian Ananda Majni
12/12/2025 08:05
Jepang-AS Latihan Udara Bersama Tanggapi Patroli Tiongkok-Rusia
Donald Trump dan Sanae Takaichi.(Al Jazeera)

JEPANG menyatakan, kemarin, bahwa pihaknya melaksanakan latihan udara gabungan dengan AS sebagai demonstrasi kekuatan. Itu disampaikan hanya beberapa hari setelah patroli udara bersama Tiongkok-Rusia di kawasan tersebut saat ketegangan diplomatik berkepanjangan antara Tokyo dan Beijing. 

Menurut Kepala Staf Gabungan Jepang, latihan yang berlangsung pada Rabu (10/12) bersama Angkatan Udara AS itu digelar dalam lingkungan keamanan yang semakin ketat di sekitar negaranya. Sehari sebelumnya, Tokyo melaporkan bahwa dua pengebom strategis Rusia Tu-95 yang mampu membawa senjata nuklir terbang dari Laut Jepang menuju Laut Tiongkok Timur untuk bergabung dengan dua pengebom Tiongkok H-6.

Kedua negara sekutu itu kemudian melakukan misi terbang bersama mengitari wilayah Jepang. Tokyo merespons dengan mengerahkan jet tempur.

Ketegangan meningkat sejak bulan lalu ketika Perdana Menteri Sanae Takaichi memicu kemarahan Beijing setelah menyatakan bahwa Jepang akan menggunakan kekuatan militer jika Tiongkok melancarkan serangan terhadap Taiwan. "Kami menegaskan tekad kuat Jepang dan AS untuk tidak mengizinkan perubahan sepihak apa pun terhadap status quo dengan kekerasan serta kesiapan Pasukan Bela Diri dan militer AS," kata pihak kepala staf.

Latihan taktis

Pernyataan terpisah menyebutkan bahwa latihan taktis di Laut Jepang melibatkan dua pengebom B-52 AS, tiga jet tempur F-35 Jepang, serta tiga jet F-15 Jepang. Latihan ini berlangsung saat Washington untuk pertama kali mengecam Beijing setelah insiden radar pada Sabtu. 

Ketika itu, pesawat J-15 dari kapal induk Liaoning dua kali mengunci radar ke jet Jepang di wilayah udara internasional dekat Okinawa. Jepang menanggapinya dengan mengerahkan jet tempur tambahan. 

Menurut juru bicara Departemen Luar Negeri AS kepada AFP pada Rabu (10/12) bahwa tindakan Tiongkok tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional. "Aliansi AS-Jepang lebih kuat dan lebih bersatu. Komitmen kami kepada sekutu kami, Jepang, tidak tergoyahkan, dan kami terus menjalin kontak erat mengenai masalah ini dan lainnya," tambahnya.

Radar jet tempur digunakan untuk pengendalian tembakan, identifikasi target, serta keperluan pencarian dan penyelamatan. Tokyo telah memanggil duta besar Tiongkok setelah insiden tersebut. Kedua negara menyampaikan versi berbeda mengenai kejadian itu. 

Jepang menegaskan bahwa mereka mengerahkan F-15 karena khawatir akan potensi pelanggaran wilayah udara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Guo Jiakun menuduh Jepang mengirimkan jet-jet tersebut untuk memasuki area pelatihan Tiongkok tanpa izin, melakukan pengintaian dan pelecehan jarak dekat, menciptakan situasi tegang, dan terus dengan sengaja membesar-besarkan situasi.

Tokyo juga membantah laporan Wall Street Journal bahwa Presiden AS Donald Trump meminta Takaichi untuk tidak memprovokasi Tiongkok terkait isu Taiwan. Namun menurut Financial Times pada Minggu (7/12), pemerintah Jepang tampak frustrasi karena tidak mendapat dukungan publik yang lebih jelas dari pejabat senior AS dan meminta Washington untuk bersikap lebih vokal.

Patut disesali

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan pada Rabu (10/12) bahwa Kepala NATO Mark Rutte menilai insiden radar serta patroli gabungan Tiongkok-Rusia sebagai hal yang patut disesali. 

Pernyataan itu disampaikan setelah keduanya melakukan konferensi video selama 15 menit, menurut keterangan Kementerian Pertahanan Jepang. 

Koizumi menambahkan bahwa Rutte menegaskan bahwa keamanan di kawasan Indo-Pasifik dan Euro-Atlantik sama sekali tidak terpisahkan.

Korea Selatan pada Selasa juga melaporkan bahwa pesawat-pesawat Tiongkok dan Rusia memasuki zona identifikasi pertahanan udaranya, memaksa Seoul mengerahkan jet tempur. 

Beijing kemudian mengonfirmasi bahwa latihan dengan Rusia dilakukan sesuai rencana kerja sama tahunan. 

Moskow menggambarkan aktivitas itu sebagai latihan rutin yang berlangsung selama delapan jam dan menyebut bahwa beberapa jet asing membayangi pesawat Tiongkok dan Rusia selama latihan. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya