Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
SURPLUS perdagangan barang Tiongkok tahun ini mencapai US$1 triliun untuk pertama kali. Ini menjadi tonggak sejarah dominasi yang diraih negara tersebut dalam segala hal, mulai dari kendaraan listrik kelas atas hingga kaos kelas bawah.
Selama 11 bulan pertama tahun ini, ekspor Tiongkok meningkat 5,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi US$3,4 triliun. Impor negara tersebut turun 0,6% selama periode yang sama menjadi US$2,3 triliun. Hal ini menjadikan surplus perdagangan Tiongkok tahun ini mencapai US$1,08 triliun. Ini diungkapkan Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok, Senin (8/12).
Angka luar biasa tersebut, yang belum pernah tercatat dalam sejarah ekonomi, merupakan puncak dari kebijakan industri dan ketekunan manusia selama puluhan tahun. Ini membantu Tiongkok bangkit dari ekonomi agraris yang buruk di akhir 1970-an menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia.
Tiongkok memantapkan dirinya sebagai produsen wig, sepatu kets, dan lampu Natal murah pada 1980-an dan 1990-an, sehingga dijuluki sebagai pusat pabrik dunia. Namun, itu baru permulaan.
Bertahun-tahun setelahnya, Tiongkok secara agresif membangun fondasi ini, menapaki tangga menuju barang-barang bernilai tinggi. Ini menjadikan dirinya roda penggerak penting dalam rantai pasokan global yang mencakup teknologi, transportasi, obat-obatan, dan barang konsumsi.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan terdepannya memantapkan diri sebagai pemain dominan dalam panel surya, kendaraan listrik, dan semikonduktor yang menggerakkan peralatan rumah tangga sehari-hari.
Kekuatan industri Tiongkok telah lama diketahui oleh mitra dagangnya dan menjadi titik sentral pertikaian dalam hubungannya dengan dunia. Tahun lalu, surplus perdagangannya mencapai rekor US$993 miliar. Namun, melampaui tonggak sejarah US$1 triliun semakin memperjelas dominasi ekspor Tiongkok dan kemungkinan akan menarik lebih banyak perhatian pada ketidakseimbangan yang semakin besar.
"Begitu besarnya sehingga jelas bukan hanya Amerika Serikat atau Eropa, tetapi seluruh dunia yang harus mendanai kesenjangan tersebut," kata Jens Eskelund, presiden Kamar Dagang Uni Eropa di Tiongkok.
Ekspor Tiongkok secara keseluruhan terus melonjak meskipun tarif dari AS, ekonomi terbesar di dunia, meningkat. Sekembalinya ke kantor pada Januari, Presiden Trump langsung menaikkan tarif impor Tiongkok, bahkan sempat menaikkannya hingga lebih dari 100%.
Meskipun AS kemudian menurunkan tarif, angkanya tetap tinggi. Tarif rata-rata untuk impor Tiongkok saat ini sekitar 37%, menurut Pusat Kebijakan Pajak Urban-Brookings yang berbasis di Washington.
Alih-alih menghambat ekspor, Tiongkok justru mengalihkan pengirimannya ke negara tujuan lain. Sepanjang tahun ini, ekspor Tiongkok ke Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin masing-masing melonjak sebesar 26%, 14%, dan 7,1%.
Ekspor Tiongkok ke AS pada November anjlok 29% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun Beijing mencatat peningkatan ekspor sebesar 5,9% secara keseluruhan ke dunia. Peningkatan tersebut sebagian besar disebabkan oleh lonjakan pengiriman Tiongkok ke Uni Eropa sebesar 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Ekspor ke Asia Tenggara naik 8,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Peran pengalihan rute perdagangan dalam mengimbangi hambatan tarif AS tampaknya masih meningkat," tulis Zichun Huang, ekonom di Capital Economics.
Meskipun terdapat tantangan geopolitik yang semakin besar dan upaya AS serta negara-negara ekonomi lain untuk melakukan diversifikasi dari Tiongkok, hanya sedikit ekonom yang memperkirakan momentum perdagangan Tiongkok akan melambat secara signifikan dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.
Ekonom di Morgan Stanley, misalnya, memperkirakan pangsa Tiongkok dalam ekspor barang global akan mencapai 16,5% pada akhir dekade ini dari sekitar 15% saat ini. Hal ini akan didorong oleh keunggulan negara tersebut dalam manufaktur canggih.
Para ekonom Morgan Stanley dalam catatan pada Minggu kepada kliennya menggambarkannya sebagai kemampuan Tiongkok untuk mengantisipasi pergeseran tren permintaan global dan kesediaannya untuk memobilisasi sumber daya guna membangun kapasitas.
Perkembangan itu menimbulkan kekhawatiran di seluruh dunia, terutama Eropa. Kawasan itu menyaksikan kekuatannya yang telah lama terkikis di sektor otomotif, teknologi, dan bahkan barang mewah akibat munculnya pesaing Tiongkok yang gesit.
Pada Minggu, Presiden Prancis Emanuel Macron, yang baru saja kembali ke tanah air setelah pertemuan puncak tiga hari yang akrab dengan pemimpin Tiongkok Xi Jinping di Beijing dan Chengdu, memperingatkan bahwa benua itu dapat dipaksa untuk bertindak jika Beijing tidak mengambil langkah-langkah untuk mengekang keunggulannya.
"Saya memberi tahu mereka bahwa jika mereka tidak bereaksi, kami, orang Eropa, akan dipaksa, dalam waktu dekat, untuk mengambil langkah-langkah tegas dan menarik diri dari kerja sama, seperti Amerika Serikat, seperti mengenakan tarif pada produk-produk Tiongkok," kata Macron dalam sebuah wawancara dengan harian Prancis Les Echos.
"Tiongkok sedang menyerang jantung model industri dan inovasi Eropa," katanya. Para pejabat Prancis khususnya kesal dengan yuan Tiongkok yang melemah sekitar 10% terhadap euro tahun ini.
Bukan hanya Prancis, kata Eskelund dari Kamar Dagang Eropa, yang merujuk pada serangkaian keluhan dan tindakan perdagangan bilateral terhadap Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir, termasuk tidak hanya dari AS dan sekutu Baratnya, tetapi juga dari negara-negara di Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah.
"Saya tidak ragu bahwa kita akan melihat lebih banyak, bukan lebih sedikit, dalam hal semua inisiatif pertahanan perdagangan ini di seluruh dunia," katanya.
Eskelund mengatakan bahwa ketidakseimbangan perdagangan Tiongkok dengan dunia bahkan lebih parah daripada yang ditunjukkan angka US$1 triliun, mengingat relatif lemahnya yuan Tiongkok.
Jika dihitung berdasarkan nilai, Tiongkok menyumbang sekitar 15% dari ekspor barang global. Namun, secara volume, Eskelund memperkirakan bahwa setiap kontainer pengiriman yang dikirim dari Eropa ke Tiongkok kalah jumlah dibandingkan empat kontainer yang dikirim ke arah sebaliknya.
Secara volume, ia memperkirakan bahwa Tiongkok menyumbang sekitar 37% dari semua barang yang diekspor dalam kontainer pengiriman.
"Kekhawatiran semakin meningkat," ujarnya. Ia memperingatkan bahwa, dalam waktu dekat, kita mungkin akan mencapai titik situasi akan memburuk. (Wall Street Journal/I-2)
MEMASUKI awal 2026, dunia dikejutkan oleh tindakan unilateral Amerika Serikat yang sangat drastis di kawasan Karibia.
TIONGKOK menggelar latihan militer berskala besar di sekitar Taiwan yang menyimulasikan penguasaan serta pemblokadean wilayah-wilayah strategis di pulau tersebut, Senin (29/12).
AMERIKA Serikat (AS) menyetujui rencana penjualan senjata senilai US$11 miliar kepada Taiwan. Hal ini diumumkan pemerintah Taipei, kemarin.
DEPARTEMEN Pertahanan AS atau Pentagon bersiap menerapkan pembatasan baru terhadap korporasi yang menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan-perusahaan yang tercantum dalam daftar 1260H.
LAPORAN rahasia Pentagon menyingkapkanAS diprediksi akan mengalami kekalahan besar dan berpotensi kehilangan kapal induk utamanya jika berusaha menggagalkan invasi Tiongkok ke Taiwan.
TIONGKOK dan Rusia menantang kekuatan, pengaruh, dan kepentingan Amerika, serta berusaha mengikis keamanan dan kemakmuran Amerika.
Pada kuartal IV 2025, industri tekstil dan produk tekstil tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Neraca perdagangan Indonesia yang tetap mencatatkan surplus sepanjang 2025 mencerminkan daya tahan sektor eksternal.
Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dengan mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut, di tengah kondisi ekonomi global yang tak pasti.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 kembali mencatatkan surplus signifikan.
Partisipasi Sarinah di Indonesia Pavilion yang berlangsung pada 19–23 Januari 2026 di Davos, Swiss, menandai dimulainya fase penguatan ekspor perusahaan mulai tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved