Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

PBB: Dunia Belum Menang Lawan Krisis Iklim, Tapi Pertarungan Masih Berlanjut di COP30

Thalatie K Yani
24/11/2025 06:55
PBB: Dunia Belum Menang Lawan Krisis Iklim, Tapi Pertarungan Masih Berlanjut di COP30
Ilustrasi(Media Sosial X)

KEPALA perubahan iklim PBB menyatakan dunia belum memenangkan pertarungan melawan krisis iklim, namun masih “tetap berada dalam pertarungan itu”. Pernyataan ini disampaikan di Belém, Brasil, setelah Konferensi Perubahan Iklim PBB (Cop30) akhirnya mencapai kesepakatan usai melalui negosiasi yang tegang.

Pertemuan COP30 gagal menghasilkan komitmen untuk mengakhiri era bahan bakar fosil, terutama karena penolakan dari sejumlah negara yang dipimpin Arab Saudi. Harapan besar untuk menyepakati langkah nyata mengakhiri deforestasi di Amazon pun kembali meleset.

Namun di tengah meningkatnya nasionalisme, konflik, dan ketidakpercayaan global, konferensi ini tidak berujung pada kegagalan total. “Kita tahu Cop ini berlangsung dalam kondisi politik yang penuh badai,” ujar Simon Stiell. “Penolakan, perpecahan, dan geopolitik telah memberikan pukulan berat bagi kerja sama internasional tahun ini.”

Meski demikian, Stiell menegaskan “kerja sama iklim masih hidup dan terus berjalan”. Ia juga menyinggung absennya Amerika Serikat setelah pemerintahan Donald Trump memutuskan tidak mengirim delegasi. Trump sebelumnya menyebut krisis iklim sebagai “tipuan” dan “penipuan”.

“Saya tidak mengatakan kita memenangkan pertarungan iklim. Tapi kita tidak bisa menyangkal kita masih berada di dalamnya, dan kita melawan balik,” kata Stiell. Ia menekankan 194 negara tetap bersatu mendukung kerja sama iklim.

Salah satu poin kesepakatan menyebut “transisi global menuju emisi gas rumah kaca rendah dan pembangunan tahan iklim bersifat tidak dapat diubah”. Menurut Stiell, pernyataan ini merupakan sinyal politik dan pasar yang penting.

Konferensi berlangsung lebih dari dua minggu dan hampir runtuh pada Jumat akibat perbedaan tajam antarnegara. Negosiasi semalam suntuk akhirnya menghasilkan kompromi pada Sabtu. COP30 menghasilkan keputusan di sejumlah isu, seperti janji melipatgandakan pendanaan adaptasi, kesepakatan mekanisme transisi berkeadilan, serta pengakuan terhadap hak masyarakat adat.

Namun proposal untuk mulai menyusun peta jalan pengurangan bahan bakar fosil dan penghentian deforestasi justru dialihkan ke proses di luar PBB oleh koalisi negara yang bersedia. Dampak sistem pangan, seperti peternakan di area hutan Amazon yang dibuka, nyaris tidak dibahas.

Banyak pihak menilai hasil COP30 masih sangat minim. “COP30 dimulai dengan gebrakan ambisi, tapi berakhir dengan desahan kekecewaan,” kata Jasper Inventor dari Greenpeace International.

Sekjen PBB António Guterres memperingatkan kesepakatan semakin sulit dicapai. “Saya tidak bisa berpura-pura COP30 memberikan semua yang dibutuhkan,” ujarnya.

Kekecewaan juga muncul karena pendanaan adaptasi baru akan tercapai pada 2035. Selain itu, meski COP30 dipromosikan sebagai konferensi untuk masyarakat adat, perwakilan adat menilai keterlibatan mereka tetap terbatas.

Di sisi lain, aktivisme sipil menguat. Ribuan demonstran memenuhi jalanan Belém, membawa kembali warna protes yang sempat meredup dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya.

Meski hasilnya dianggap “setengah matang”, para pengamat menilai setidaknya jalan ke depan masih ada. Prof Michael Grubb menilai fokus menuju COP31 harus menyeimbangkan urgensi penghapusan bahan bakar fosil dengan peluang ekonomi dari percepatan energi terbarukan. (The Guardian/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya