Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Utusan Donald Trump ke Jenewa Bahas Proposal Perdamaian Ukraina

Dhika Kusuma Winata
23/11/2025 12:23
Utusan Donald Trump ke Jenewa Bahas Proposal Perdamaian Ukraina
Presiden AS Donald Trump(Instagram/@Donald Trump)

PARA pejabat tinggi Amerika Serikat dijadwalkan tiba di Jenewa pada Minggu (23/11) waktu setempat untuk membahas rencana Presiden Donald Trump  mengakhiri perang di Ukraina

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan utusan diplomatik Steve Witkoff dilaporkqn akan memimpin kehadiran Washington dalam rangkaian pertemuan tersebut.

Menteri Angkatan Darat AS Daniel Driscol, yang baru bertemu Presiden Volodymyr Zelensky di Kyiv pada Kamis, sudah lebih dulu tiba di kota tersebut sehari sebelumnya.

Sejumlah pejabat Eropa diperkirakan ikut hadir pada Minggu untuk membahas rancangan proposal Trump meski format dan susunan pembahasan belum diumumkan secara resmi.

Kehadiran mereka menandai kekhawatiran kawasan bahwa proposal Washington ini berpotensi menata ulang keseimbangan keamanan di Eropa.

Rencana perdamaian berisi 28 poin yang diajukan Trump mengakomodasi tuntutan utama Moskow di antaranya Ukraina harus merelakan sebagian wilayah, memangkas kekuatan militernya, dan mencabut ambisi menjadi anggota NATO.

Sebagai kompensasi, Kyiv dijanjikan berbagai jaminan keamanan dari Barat guna menahan serangan lanjutan Rusia.

Zelensky sebelumnya menegaskan keberatan meski Trump terus mendesak. Ia menyatakan akan menyiapkan pilihan lain sebagai tandingan.

Trump memberi batas waktu hingga 27 November bagi Kyiv untuk merespons paket solusi tersebut.

Dari Moskow, Presiden Vladimir Putin menyatakan siap membahas detail rencana itu. Putin mengingatkan akan terus melancarkan operasi militer bila Ukraina menolak proposal.

Sikap keras itu kembali menempatkan Kyiv dalam tekanan berat jelang tenggat Washington. Di sela KTT G20 di Johannesburg, para pemimpin negara-negara kunci Eropa bersama Kanada dan Jepang merilis pernyataan bersama. 

Mereka menilai rencana AS itu masih memerlukan perubahan dan berisiko membuat Ukraina rentan terhadap serangan di masa depan.(AFP/H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya