Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

PM Inggris Keir Starmer: Ukraina Harus Tentukan Masa Depan

Wisnu Arto Subari
22/11/2025 08:44
PM Inggris Keir Starmer: Ukraina Harus Tentukan Masa Depan
Keir Starmer dan Volodymyr Zelensky.(Al Jazeera)

UKRAINA harus menentukan masa depannya di bawah kedaulatannya. Itu ditegaskan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer setelah panggilan telepon dengan Volodymyr Zelensky mengenai rencana perdamaian yang didukung AS.

Starmer mengatakan bahwa ia bersama para pemimpin Prancis dan Jerman telah menekankan kepada Zelensky dukungan mereka terhadap Ukraina dan prinsip fundamental bahwa Kyiv harus bertanggung jawab atas nasibnya sendiri.

Setelah panggilan telepon tersebut, Keir mengatakan kepada para penyiar, "Kita semua menginginkan perdamaian yang adil dan abadi. Itulah yang diinginkan presiden Amerika. Itulah yang kita semua inginkan. Maka, kita perlu bekerja dari posisi kita saat ini untuk mencapai tujuan tersebut. Akan tetapi prinsip bahwa Ukraina harus menentukan masa depannya di bawah kedaulatannya adalah prinsip fundamental."

Panggilannya dengan Zelensky, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz menyusul laporan bahwa Gedung Putih telah mendesak Ukraina untuk menyetujui rencana yang akan membuat Kyiv menyerahkan wilayah dan membatasi jumlah tentaranya.

Kesepakatan tersebut kabarnya telah dinegosiasikan oleh utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, dan perwakilan Kremlin, Kirill Dmitriev.

Presiden AS mengatakan pada Jumat bahwa Zelensky harus menyetujuinya.

Ia merujuk kembali perkataannya kepada presiden Ukraina pada Februari dalam pertemuan yang menegangkan di Ruang Oval. Ketika itu ia mengatakan kepadanya, "Anda tidak memiliki kartu."

Presiden Rusia Vladimir Putin mengonfirmasi bahwa Moskow telah menerima proposal tersebut dan dengan hati-hati menyambutnya pada Jumat. Putin mengatakan bahwa proposal tersebut dapat menjadi dasar penyelesaian damai final.

Namun, ia mengatakan bahwa rencana tersebut belum dibahas dengan pihak Rusia secara substantif dan ia berasumsi hal ini terjadi karena AS belum dapat memperoleh persetujuan Ukraina.

Menyusul panggilan telepon pada Jumat, Zelensky mengatakan bahwa saat itu merupakan salah satu momen tersulit dalam sejarah Ukraina.

Dalam pidato video kepada rakyat, ia mengatakan, "Saat ini, tekanan terhadap Ukraina adalah salah satu yang terberat. Ukraina mungkin kini menghadapi pilihan yang sangat sulit, antara kehilangan martabatnya atau risiko kehilangan mitra kunci."

Zelensky berjanji untuk bekerja dengan tenang bersama AS dan semua mitra.

Keir, Zelensky, dan para pemimpin lain dalam panggilan telepon tersebut sepakat untuk berkoordinasi dengan mitra dan sekutu dalam beberapa hari mendatang mengenai rencana untuk mengakhiri perang, termasuk di KTT G20 Johannesburg.

Seorang juru bicara Downing Street mengatakan, "Mereka menggarisbawahi dukungan terhadap upaya Presiden Trump untuk perdamaian dan sepakat bahwa solusi apa pun harus sepenuhnya melibatkan Ukraina, menjaga kedaulatannya, dan memastikan keamanannya di masa depan. Para pemimpin sepakat untuk berkoordinasi dengan mitra dan sekutu dalam beberapa hari mendatang, termasuk di G20, seiring berlanjutnya diskusi tentang cara terbaik untuk mencapai perdamaian abadi."

Keir berbicara dengan Zelensky dari Afrika Selatan. Ia diperkirakan bermaksud memanfaatkan kehadirannya di KTT G20 untuk memperkuat dukungan bagi Kyiv.

Dalam penerbangan ke Johannesburg pada Kamis malam, Keir mengatakan kepada para wartawan, "Posisi saya selalu berfokus pada perdamaian yang adil dan abadi. Itulah sebabnya kami telah melakukan begitu banyak pekerjaan pada koalisi. Akan tetapi itu didasarkan pada prinsip yang mendasarinya, yang sangat penting bagi saya, yaitu bahwa masa depan Ukraina harus ditentukan oleh Ukraina dan kita tidak boleh melupakan prinsip yang mendasari perdamaian yang adil dan abadi yang kita semua ingin lihat."

Pemimpin reformasi Inggris, Nigel Farage, sekutu presiden AS, menyatakan penentangannya terhadap rencana pemerintahan Trump. "Ukraina diminta untuk mengurangi separuh jumlah tentaranya tidak dapat diterima. Saya menunggu untuk melihat usulan balasan dari pemerintah Zelensky," tulisnya di X. (Irish News/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya