Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Foto Lapangan Ungkap Dugaan Penggunaan Bom Cluster Israel di Libanon

Thalatie K Yani
20/11/2025 05:49
Foto Lapangan Ungkap Dugaan Penggunaan Bom Cluster Israel di Libanon
Foto sisa-sisa amunisi di Libanon selatan menunjukkan dugaan Israel memakai bom cluster terlarang dalam perang 13 bulan melawan Hizbollah. (The Guardian)

FOTO sisa-sisa amunisi yang ditemukan di Libanon selatan mengindikasikan bahwa Israel menggunakan bom cluster dalam perang 13 bulan terakhir melawan Hizbollah. Gambar-gambar tersebut, yang dilihat Guardian dan diperiksa oleh enam pakar persenjataan, menunjukkan dua jenis munisi cluster Israel di tiga lokasi berbeda: Wadi Zibqin, Wadi Barghouz, dan Wadi Deir Siryan, yang terletak di selatan Sungai Litani.

Temuan ini menjadi indikasi pertama penggunaan bom cluster oleh Israel dalam hampir dua dekade, sejak perang Libanon 2006. Dua jenis munisi yang diduga digunakan adalah 155mm M999 Barak Eitan dan rudal berpemandu 227mm Ra’am Eitan.

Bom cluster adalah senjata berbentuk wadah yang melepaskan banyak submunisi kecil ke area seluas beberapa lapangan sepak bola. Hingga 40% bom kecil ini gagal meledak, meninggalkan ancaman jangka panjang bagi warga sipil. Sebanyak 124 negara telah meratifikasi konvensi yang melarang penggunaan, produksi, dan transfer bom cluster, namun Israel bukan bagian dari konvensi tersebut.

“Kami percaya penggunaan munisi cluster selalu bertentangan dengan kewajiban militer untuk menghormati hukum humaniter internasional karena sifatnya yang tidak pandang bulu saat digunakan maupun setelahnya,” ujar Tamar Gabelnick, Direktur Cluster Munition Coalition. “Dampak luasnya membuat senjata ini tidak bisa membedakan target militer dan sipil, dan sisa-sisanya membunuh serta melukai warga sipil selama puluhan tahun.”

Militer Israel tidak mengonfirmasi maupun membantah tuduhan tersebut, hanya menyatakan pihaknya “menggunakan senjata yang sah sesuai hukum internasional dan dengan memitigasi bahaya terhadap warga sipil”.

Perang yang dimulai pada Oktober 2023 itu menewaskan hampir 4.000 orang di Libanon dan sekitar 120 di Israel. Banyak wilayah di selatan Libanon hancur, dan serangan udara Israel masih berlangsung hampir setiap hari meski gencatan senjata telah ditandatangani.

Libanon sendiri memiliki sejarah panjang dengan bom cluster. Pada 2006, Israel menjatuhkan sekitar empat juta bom cluster, dengan satu juta di antaranya gagal meledak. Sejak itu, lebih dari 400 orang tewas akibat bom-bom sisa tersebut.

Sisa munisi M999 Barak Eitan yang diproduksi Elbit Systems pada 2019 telah diverifikasi enam pakar, termasuk Brian Castner dari Amnesty International dan NR Jenzen-Jones dari Armament Research Services. Setiap peluru M999 membawa sembilan submunisi yang melepaskan hingga 1.200 serpihan tungsten.

Sisa amunisi kedua diidentifikasi lima pakar sebagai bom cluster, dengan dua analis menyebutnya sebagai rudal 227mm Ra’am Eitan yang diproduksi pada 2017. Media Israel menggambarkannya sebagai rudal dengan 64 bom kecil yang “menyebar dalam radius luas dan membunuh siapa pun yang berada di area tersebut”.

Sejumlah pakar memperingatkan tingkat kegagalan submunisi di lapangan sering kali jauh lebih tinggi dari klaim produsen. “Bom cluster dilarang secara internasional karena alasan yang jelas … tidak mungkin digunakan secara sah atau bertanggung jawab, dan warga sipil menanggung risikonya selama beberapa dekade,” kata Castner. (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya