Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
ES krim, minuman bersoda, hingga dessert beku makin digemari saat suhu panas melanda. Namun, sebuah studi baru menemukan tren ini bisa berdampak serius pada kesehatan, terutama di tengah perubahan iklim yang mendorong kenaikan temperatur global.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change menganalisis data belanja rumah tangga di Amerika Serikat dari 2004 hingga 2019 dan menghubungkannya dengan kondisi cuaca regional. Hasilnya, setiap kenaikan suhu 1°C (1,8°F) mendorong konsumsi gula tambahan sekitar 0,7 gram per orang per hari, terutama dari minuman manis seperti soda dan jus. Lonjakan paling tajam terjadi saat suhu berada di kisaran 20-30°C (68-86°F).
“Cuaca panas membuat tubuh kehilangan lebih banyak cairan, sehingga orang cenderung mencari minuman dingin yang manis,” jelas Pan He, penulis studi sekaligus dosen ilmu lingkungan di Cardiff University.
Dampaknya lebih terasa pada kelompok berpendapatan rendah atau berpendidikan rendah. Kelompok ini umumnya sudah memiliki konsumsi gula lebih tinggi karena produk manis lebih murah dan mudah diakses, serta lebih sedikit menghabiskan waktu di ruang ber-AC.
Studi memprediksi konsumsi gula di AS bisa naik hampir 3 gram per orang per hari pada 2095 jika polusi pemanasan global tidak terkendali. Kondisi ini dikhawatirkan meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan penyakit kardiovaskular, terutama pada kelompok rentan.
Asosiasi Jantung Amerika merekomendasikan asupan gula tambahan tidak lebih dari 36 gram per hari untuk pria dan 26 gram untuk perempuan. Namun, studi ini menekankan perubahan iklim dapat memperburuk tantangan kesehatan masyarakat terkait gula.
“Isu kesehatan akibat gula sudah lama dibahas. Tetapi bila dikaitkan dengan perubahan iklim, masalah ini bisa semakin parah,” kata He. Para peneliti menilai pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan strategi pengendalian konsumsi gula sebagai bagian dari adaptasi menghadapi iklim ekstrem. (CNN/Z-2)
Kehidupan masyarakat pesisir di Karimunjawa mengalami perubahan karena dampak dari perubahan iklim yang terus menerus.
PERWAKILAN Perempuan Nelayan Sumatra Utara, Jumiati, mengungkapkan perubahan iklim membuat cuaca sulit diprediksi. Itu berdampak pada banyaknya nelayan di kampungnya kesulitan melaut.
Studi terbaru mengungkap tanaman tropis mengalami pergeseran waktu berbunga hingga 80 hari. Fenomena ini mengancam rantai makanan dan kelangsungan hidup hewan.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti ETH Zurich temukan emisi gas rumah kaca dari danau hitam Kongo berasal dari gambut purba ribuan tahun.
Peneliti menemukan pola kadar garam (salinitas) di Pasifik Barat saat musim semi dapat memperkuat intensitas El Niño hingga 20%.
Kebijakan pembatasan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2024 memicu kekhawatiran luas.
BANYAK mengonsumsi gula bisa berbahaya bagi tubuh untuk jangka panjang karena bisa terserang berbagai penyakit salah satunya obesitas hingga diabetes melitus.
Konsumsi gula secara berlebihan dan tidak mengatur pola makan yang sehat juga bisa menyebabkan timbulnya beberapa penyakit yang bisa mengancam kesehatan tubuh.
Asam urat atau arthritis gout adalah penyakit sendi yang disebabkan tingginya kadar asam urat dalam darah.
BERHATI-hatilah mengonsumsi gula, garam, dan lemak yang tinggi. Sebagai informasi, ketiganya bisa menjadi penyebab kematian dan kecacatan bila tidak dikonsumsi dengan sehat dan benar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved