Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
PERMINTAAN saham One Global Capital Retail Trust meningkat tajam menyusul akuisisi The Grand Eastlakes, pusat perbelanjaan terbesar milik Crown Group senilai Rp218 miliar. Akuisisi ini menandai debut One Global Capital Fund Management Platform, setelah perusahaan investasi yang berbasis di Sydney tersebut mendapatkan lisensi wholesales pada Kuartal IV 2024.
CEO dan Komisaris One Global Capital Iwan Sunito menyatakan, akuisisi dan rebranding pusat perbelanjaan tersebut menjadi One Global Centre akan memberikan nilai lebih bagi portofolio properti perusahaan.
“Hal yang paling saya sukai dari properti ini adalah nilai sewanya yang tinggi. Bila semua area ritel tersewa, hasilnya setara dengan 10% dari harga akuisisi," jelas Iwan Sunito, Senin (7/10).
Baca juga : Kini, dengan Modal di Bawah Rp50.000, Investor Bisa Beli Saham Perusahaan Big Caps di Bursa
Menurut dia, keberhasilan akuisisi juga memberikan dorongan pada permintaan saham di One Global Capital Retail Trust, di mana perusahaan telah meluncurkan platform One Global Capital Fund Management setelah mendapatkan lisensi wholesale pada kuartal IV 2024.
Lisensi ini memungkinkan One Global Capital menawarkan produk investasi kepada sekelompok investor institusional dan terpilih yang memiliki visi dan misi yang sama dengan perusahaan.
“Ini bukan penawaran publik kepada investor ritel, melainkan ditujukan kepada investor yang sudah mengenal kami selama beberapa dekade atau teman dekat yang tertarik untuk berinvestasi secara signifikan dalam portofolio properti mereka,” kata Iwan.
Baca juga : IHSG dan Kapitalisasi Pasar Catatkan All Time High di Agustus 2024
Pada awalnya, One Global Capital hanya menawarkan 10% saham One Global Retail Trust, sementara 90% saham lainnya dimiliki oleh One Global Capital.
Namun, lonjakan permintaan yang tidak terduga memaksa perusahaan untuk melepaskan tambahan 10% saham lagi, sehingga saat ini One Global Capital memegang 80% saham.
Iwan Sunito menyebutkan bahwa tingginya minat para investor institusional dan koleganya terhadap saham perusahaan didorong oleh beberapa faktor.
Baca juga : Investor Asing Borong 10 Saham Unggulan di Tengah Penurunan IHSG
Pertama, akses ke aset investasi di tingkat wholesale yang dibeli dengan harga dan tingkat pengembalian (return) yang sangat menarik. Kedua, visi mentorship yang diusung perusahaan dalam mengembangkan komunitas properti global.
“Kami tidak mencari passive investor, melainkan ingin semua investor bersama-sama membangun komunitas properti global untuk belajar dan tumbuh bersama,” ujar Iwan.
Ia juga menambahkan bahwa banyak dari koleganya yang tertarik untuk bergabung karena mereka melihat nilai jangka panjang dari keterlibatan aktif dalam proyek ini.
Baca juga : Pahami Tipe Market Order dan Kegunaannya untuk Investor
Iwan juga menekankan pentingnya dukungan dari komunitas yang membantu perusahaan melewati masa-masa sulit. Menurutnya, kepercayaan dari teman-teman dan investor institusional berperan penting dalam mempercepat pertumbuhan One Global Capital dalam satu tahun terakhir.
“Dukungan serta kepercayaan dari komunitas dan teman-teman kami inilah yang membantu mempercepat pertumbuhan One Global Capital secara signifikan dalam satu tahun terakhir,” ujarnya.
Dengan akuisisi yang sukses dan meningkatnya minat investor, One Global Capital optimis bahwa langkah-langkah strategisnya akan mendukung visinya untuk menjadi perusahaan publik pada tahun 2031. (Z-10)
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengingatkan para investor untuk tetap bersikap rasional di tengah konflik Timur Tengah.
Pasar saham akan dibayangi sentimen risk off. Hal itu menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta pada akhir 2025, hanya 5% dari total penduduk Indonesia.
PRESIDEN Prabowo Subianto bertemu dengan petinggi perusahaan global di Amerika Serikat, Jumat (20/2) waktu setempat. Dalam pertemuan itu Indonesia memperkuat sistem investasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (2/3) pagi dibuka melemah seiring tekanan dari bursa saham Asia, yang dipicu meningkatnya konflik Iran vs AS.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi pada pekan ini, seiring meningkatnya risiko geopolitik global.
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan terakhir atau pada periode 23-27 Februari 2026 mengalami koreksi sebesar 0,44%.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, sempat dibuka di zona hijau.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada pembukaan perdagangan Rabu, 25 Februari 2026, mengalami penguatan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved