Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEKERJA Migran Indonesia (PMI) yang memetik buah di Inggris mengaku terjerat utang setelah dipecat karena tidak memenuhi target kerja.
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo menilai bahwa kasus pekerja musiman di Inggrus semakin rumit saja. Pasalnya, tidak ada langkah konkret dari pemerinta Indonesia untuk menyelesaikannya.
"Tidak ada kemauan serius dalam penanganan oleh pemerintah Indonesia sejak kasus ini muncul 2 atau 3 tahun lalu," kata Wahyu dihubungi Media Indonesia, Minggu (8/9).
Baca juga : Mimpi Buruk Pemetik Buah Stroberi asal Indonesia di Inggris
Migrant care juga mempersoalkan kasus pekerja musiman ini dalam G20. Indonesia sebagai negara pengirim pekerja musiman dengan negara G20, khususnya Inggris sebagai negara penerima.
"Dalam skema ini, di Indonesia tidak ada pengawasan terhadap pihak-pihak yang melakukan perekrutan, karena banyak pihak yang melakukan perekrutan sebenarnya adalah institusi yang tidak punya kewenangan," sebutnya
Sementara pragmatisme untuk mencari tenaga kerja murah dalam mengelola pertanian di Inggris meningkat. Oleh karenanya, kelengahan negara ini dimanfatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
Baca juga : APJATI Soroti Regulasi Pengiriman Tenaga Ahli dan Profesional ke Luar Negeri
"Kondisi ini dimanfaatkan oleh agen-agen perekrut, institusi-institusi yang melakukan praktik perekrutan tidak secara prosedural. Lebih parah lagi, tidak ada tindakan serius oleh pemerintah," tegasnya.
Seharusnya pemerintah Indonesia bisa lebih tegas terhadap agen atau institusi yang terbukti melakukan pelanggaran dalam perekrutan pekerja musiman di Inggris.
"Yang terjadi sekarang malah proses negosiasi yang dihilangkan atau kriminalisasi terhadap para pelaku ini. Padahal tindakannnya sudah mengarah pada perdagangan orang," ujarnya
Wahyu menegaskan bahwa pekerja musim itu terbuai dengan tawaran gaji tinggi di luar negeri tetapi justru dieksploitasi.
"Dengan iming-iming gaji tinggi, harus membayar biaya yang lebih tinggi, hingga berada dalam jebakan utang, dijebak dalam skema utang yang menyebabkan kemudian mereka tereksploitasi di sana," pungkasnya. (Z-2)
Transformasi teknologi dan ketidakstabilan geopolitik global kini menjadi ancaman nyata bagi tatanan dunia kerja.
Berdasarkan survei terhadap 1.000 responden pada akhir 2025, sebanyak 82% pekerja Indonesia mengaku bahagia di tempat kerja.
Banyak pekerja tetap memaksakan diri menjalani aktivitas normal meski kondisi tubuh dan pikiran mereka sebenarnya sudah berada di bawah tekanan hebat.
PEMERINTAH menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memanfaatkan bonus demografi agar menjadi kekuatan pembangunan, bukan justru berubah menjadi persoalan sosial dan ekonomi
Masalah tersebut sudah termasuk dalam pelanggaran normatif ketenagakerjaan
Generasi Z terbukti menjadi kelompok paling rentan di lingkungan kerja, dengan 91% di antaranya kerap menghadapi tantangan kesehatan mental dan 35% mengalami depresi.
konflik di Timur Tengah berdampak ratusan ribu Pekerja Migran Indonesia Migrant Care membuka Posko Informasi & Pengaduan Darurat Krisis Timur Tengah
Migrant Care menyatakan keprihatinan yang mendalam atas eskalasi konflik Timur Tengah yang berpotensi menimbulkan krisis kemanusiaan.
MIGRANT Care Jember resmi membuka kanal pengaduan bagi Pekerja Migran Indonesia yang berada di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran.
SEBANYAK 11 calon pekerja migran Indonesia asal Kalimantan Selatan yang akan berangkat bekerja sebagai penata laksana rumah tangga ke Arab Saudi nonprosedural atau ilegal dipulangkan.
PMI asal Kota Sukabumi, Jawa Barat, sempat tertahan di Tiongkok, negara tempatnya bekerja, akibat kondisi kesehatan yang memburuk.
Ketidakjelasan batas kebijakan inilah yang menimbulkan kebingungan dan menghambat penempatan resmi melalui jalur yang seharusnya legal
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved