Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
Agresi militer Israel yang berkonflik dengan Hamas memengaruhi kondisi sosial dan perekonomian negeri itu. Jumat (9/2) lalu, Lembaga pemeringkat AS, Moody's, menurunkan peringkat utang Israel satu tingkat dari A1 menjadi A2.
Dalam sebuah pernyataan, Moody's mengatakan pihaknya melakukan hal tersebut setelah menilai bahwa konflik militer yang sedang berlangsung dengan Hamas serta dampak dan konsekuensi yang lebih luas, secara signifikan meningkatkan risiko politik bagi Israel serta melemahkan lembaga eksekutif dan legislatif serta kekuatan fiskal mereka di masa mendatang.
Untuk diketahui, Moody’s adalah salah satu lembaga pemeringkat dunia. Lembaga ini kerap dijadikan standar dan dorongan bagi negara berkembang untuk mereformasi kebijakan, memperbaiki fiskal, dan moneter. Sederhananya, Moody's mengukur apakah sebuah perusahaan atau negara dapat membayar kembali utangnya atau tidak.
Baca juga : Israel Mengeklaim Temukan Terowongan Sandera di selatan Gaza
Menurut Bloomberg, ini merupakan kali pertama peringkat utang Israel diturunkan.
Moody's juga menurunkan prospek utang Israel menjadi "negatif" karena risiko eskalasi dengan kelompok militan Lebanon, Hizbullah, yang beroperasi di sepanjang perbatasan utaranya.
Serangan Hamas yang pada 7 Oktober mengakibatkan kematian sekitar 1.160 orang di Israel, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.
Baca juga : PBB Perkirakan 17.000 Anak Gaza Terpisah dari Orangtua
Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan udara dan serangan darat yang telah menewaskan sedikitnya 27.947 orang di Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas.
Menyusul serangan tersebut, S&P Global Ratings menurunkan prospek kredit Israel dari stabil menjadi negatif karena adanya risiko yang dapat memperluas konflik Israel-Hamas.
Fitch – yang merupakan lembaga pemeringkat lainnya dari tiga lembaga pemeringkat terbesar AS – menempatkan Israel pada pengawasan negatif atas risiko konflik.
Baca juga : Rudal dan Kelaparan Jadi Senjata Utama Israel Kosongkan Gaza
“Kondisi keamanan yang melemah menyiratkan risiko sosial yang lebih tinggi dan mengindikasikan lemahnya lembaga eksekutif dan legislatif dibandingkan penilaian Moody’s sebelumnya,” kata lembaga pemeringkat tersebut menjelaskan keputusannya.
“Moody’s memperkirakan beban utang Israel akan jauh lebih tinggi dari perkiraan sebelum konflik terjadi,” tambahnya. (AFP/M-3)
Baca juga : Kemenlu: Tuduhan Israel terhadap Staf UNRWA Bantu Hamas Harus Dibuktikan
Anggota Komisi I DPR RI Amelia Anggraini menegaskan rencana pengiriman TNI ke Gaza merupakan misi kemanusiaan di bawah mandat PBB, bukan keterlibatan Indonesia dalam konflik bersenjata.
Studi The Lancet ungkap kematian di Gaza 35% lebih tinggi dari data resmi. Hingga Jan 2025, 75 ribu warga tewas akibat serangan Israel, mayoritas perempuan & anak-anak.
PM Israel Benjamin Netanyahu tegaskan rekonstruksi Gaza hanya berjalan jika Hamas melucuti senjata. Simak hasil pertemuan Board of Peace di Washington.
Hamas desak Board of Peace (BoP) bentukan Donald Trump hentikan agresi Israel di Gaza. Simak laporan pelanggaran gencatan senjata dan krisis kemanusiaan terbaru.
Hamas mengutuk penyiksaan brutal tahanan Palestina di Penjara Ofer. Temuan medis ungkap luka bakar besi panas hingga dugaan pencurian organ. Simak detailnya.
Hamas ultimatum pasukan internasional di Gaza, singgung peran Indonesia dalam ISF dan tegaskan tak boleh jalankan agenda Israel.
DIREKTUR Utama IPC Terminal Petikemas (TPK) Guna Mulyana mengungkapkan ketegangan geopolitik global berdampak pada terhambatnya pembukaan rute pelayaran.
SITUASI geopolitik yang memanas antara Iran dan Israel dinilai masih akan mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan ini.
meningkatnya volatilitas di pasar global dalam beberapa hari terakhir. Sentimen investor saat ini dibayangi sikap kehati-hatian, di tengah masih tingginya ketegangan geopolitik
Indonesia dinilai perlu tampil sebagai middle power atau kekuatan menengah dalam spektrum kekuatan internasional dalam menghadapi perang tarif global.
PARA akademisi diminta untuk lebih peka dan aktif merespons permasalahan global seperti geopolitik, keamanan, ekonomi, energi, lingkungan, dan teknologi informasi.
BI menyebut perlu ada kebijakan-kebijakan yang antisipatif, forward looking dan pre-emptive. Salah satunya adalah dengan menaikkan suku bunga BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved