Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
ISRAEL menggunakan kelaparan sebagai alat perang untuk membunuh dan mengusir warga Gaza. Ketua Euro-Med Human Rights Monitor Ramy Abdu menyatakan kelaparan di Gaza diciptakan Israel dibarengi serangan terus-menerus.
Dia mengatakan bahwa warga Gaza tidak bisa memasak karena kekurangan pangan berskala besar. Ia mencatat rata-rata 500 truk berisi bantuan masuk ke wilayah tersebut setiap hari sebelum mulai perang Israel.
Namun, kini jumlahnya kurang dari 100 truk. "Kita dapat berbicara tentang mungkin 50 hingga 100 truk yang tiba di Gaza utara setidaknya selama 100 hari terakhir dan kelaparan parah di wilayah ini (Gaza utara)," katanya.
Baca juga : ICJ Akui Hak Warga Palestina di Gaza untuk Dilindungi
Dia mengatakan ada kelaparan parah dan kekurangan segala sesuatu di wilayah tersebut. "Masyarakat kelaparan, sungguh kelaparan di daerah ini. Lebih dari setengah juta warga Palestina di sini menderita kondisi musim dingin yang sangat parah, dan kondisi kekurangan pasokan makanan yang sangat parah," tambah Abdu.
Mengingat pernyataan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bahwa organisasi bantuan tidak dapat memasok makanan ke seluruh Gaza, ia menekankan bahwa mereka telah mengonfirmasi bahwa tidak ada organisasi bantuan di Gaza utara. Abdu mengatakan bahwa lebih dari separuh penduduk Gaza menghadapi kelaparan pada tingkat kritis. Semua penduduk wilayah utara menderita kelaparan yang parah dan parah.
"Secara umum, kita berbicara tentang lebih dari 75% warga Palestina di Gaza yang menderita kelaparan tingkat parah. Tidak ada penambahan pasokan makanan dan truk yang diperbolehkan masuk ke Gaza," ujarnya.
Baca juga : Apa itu Keputusan Sela Sidang Dugaan Genosida Gaza oleh Israel?
Abdu mengatakan bahwa tentara Israel menembaki mereka yang mencoba menjangkau truk makanan yang masuk dari selatan ke utara Gaza dalam jumlah kecil. Dia telah mendokumentasikan bahwa puluhan orang kehilangan nyawa karena hal ini. "Kita berbicara tentang kelaparan yang disengaja, khususnya di wilayah utara," dia memperingatkan.
Anak-anak ialah kelompok yang paling terkena dampak dari kondisi ini karena mereka tidak memiliki makanan yang dibutuhkan. Sebagian besar bayi membutuhkan susu.
"Tidak ada susu yang masuk ke Gaza. Tidak ada obat-obatan. Tidak ada pasokan medis sama sekali, dan bahkan pasokan nutrisi. Perempuan hampir tidak dapat mengatasi situasi ini," katanya.
Baca juga : Houthi Yaman Tembakkan Drone dan Rudal ke Kapal AS
Abdu menambahkan bahwa warga Gaza dewasa terpaksa memberikan makanan kepada anak-anak mereka. Ini semua membuktikan Israel telah melakukan genosida di Jalur Gaza.
Israel menggunakan kelaparan sebagai alat perang untuk mengusir warga Gaza keluar dari Gaza dan bahkan membunuh mereka. "Elemen lain ialah pembunuhan massal dan kita lihat sekarang banyak korban jiwa. Ini korban jiwa tertinggi yang pernah ada dalam perang mana pun," paparnya.
Abdu menyatakan harapannya bahwa keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) minggu lalu akan menghalangi rencana Israel untuk mengusir orang-orang tersebut. Namun sayangnya selama 72 jam terakhir Israel tetap mempertahankan kebiadabannya.
Baca juga : AS Jatuhkan Banyak Drone dan Rudal Houthi di Laut Merah
Israel juga terus menghancurkan puluhan kawasan permukiman, kata Abdu, selain meminimalkan masuknya truk bantuan makanan ke Gaza. Kemudian terus melakukan pembantaian secara sistematis dengan memindahkan mereka menjauh dari utara Gaza.
Menurut dia, PBB dan organisasi internasional tidak boleh mematuhi arahan Israel dan memberikan tekanan pada Tel Aviv. Dia menyerukan komunitas internasional untuk bertindak bersama dan menunjukkan pentingnya berbicara dengan satu suara sehingga mereka dapat menciptakan tekanan nyata pada pihak Israel.
Sejak 7 Oktober, tentara Israel telah melancarkan perang destruktif di Gaza, hingga Selasa menyebabkan 26.751 orang tewas dan 65.636 orang terluka. Sebagian besar dari mereka ialah anak-anak dan perempuan, menurut pihak berwenang Palestina. (Anadolu/Z-2)
Baca juga : Kapal Perang AS Tembak Jatuh Drone yang Diluncurkan dari Yaman
Presiden AS Donald Trump tegas menolak rencana aneksasi Tepi Barat oleh Israel. Kebijakan ini memicu kecaman keras dari PBB, Indonesia, hingga negara Arab.
MENTERI Luar Negeri Sugiono menegaskan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) merupakan bagian dari komitmen aktif pemerintah untuk mendorong perdamaian di Palestina.
SEKRETARIS Jenderal DPP PKS, Muhammad Kholid, mengecam keras serangan militer Israel ke tenda pengungsian di selatan Jalur Gaza yang terjadi pada Sabtu (31/1/2026).
BADAN pertahanan sipil Gaza melaporkan sedikitnya 32 orang tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam sejumlah lokasi di Jalur Gaza pada Sabtu (31/1).
PEMERINTAH Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengecam keras rangkaian serangan udara Israel di Jalur Gaza, Palestina, yang terus berulang.
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) belum menerima informasi soal pembukaan kembali penyeberangan Rafah di perbatasan Gaza-Mesir dan masih berkomunikasi dengan otoritas Israel.
AS dinilai tidak lagi memiliki kapasitas sebagai mediator yang kredibel dalam forum Board of Peace (BoP) karena dianggap terlalu berpihak pada kepentingan Israel.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
PEMERINTAH Jerman mengecam keras langkah Kabinet Israel yang memperluas otoritas sipil di Tepi Barat.
GELOMBANG kecaman internasional kembali menghantam Israel setelah pemerintahnya mengesahkan aneksasi ilegal di Tepi Barat.
Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog ke Australia berujung kericuhan. Polisi tangkap 27 demonstran di Sydney di tengah tuduhan kekerasan aparat.
Langkah baru Israel perketat kontrol di Tepi Barat menuai kecaman global. Kebijakan ini dinilai melanggar hukum internasional dan mematikan solusi dua negara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved