Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJUMLAH kelompok bersenjata Palestina, termasuk Jihad Islam Palestina dan Hamas, memperingatkan bahwa Israel akan membayar mahal atas pembunuhan yang ditargetkan terhadap tiga pejabat senior PIJ di Jalur Gaza pada Selasa (9/5). Otoritas Palestina mengecam operasi Israel sebagai pembantaian yang mengerikan.
Sedikitnya 13 warga Palestina, termasuk pejabat tinggi Jihad Islam, tewas dalam serangan udara Israel menjelang fajar, kata sumber Palestina. Ia menambahkan bahwa 20 orang lain terluka.
Dalam tanggapan pertama, Jihad Islam mengatakan dalam suatu pernyataan bahwa pihaknya meminta tanggung jawab penuh musuh Zionis atas pembantaian teroris yang keji ini yang melintasi semua garis dan merupakan pelanggaran serius terhadap gencatan senjata. Jihad Islam mengatakan bahwa respons Palestina tidak akan ditunda. "Musuh tidak akan mencapai tujuannya dan kami akan melanjutkan tugas suci kami untuk melawan musuh dan menghadapinya di semua arena," tambahnya sebagaimana dilansir The Jerusalem Post.
Baca juga: Serangan Israel Tewaskan 13 Orang termasuk Tiga Pemimpin Jihad Islam
"Musuh Israel akan membayar kejahatan kepengecutannya," kata Mohammed al-Hindi, kepala biro politik Jihad Islam. "Perlawanan sedang berlangsung dan meningkat. Itu sendiri yang akan menentukan keputusan akhir dalam konflik ini," katanya. "Bagi kami, syahid merupakan suatu kehormatan dan pembunuhan para pemimpin akan menerangi jalan jihad (perang suci) bagi kami."
Kelompok bersenjata Jihad Islam, Brigade Al-Quds, mengonfirmasi dalam suatu pernyataan bahwa ketiga pejabat yang terbunuh itu terlibat dalam kegiatan militer. Dikatakan bahwa Jihad al-Ghannam ialah sekretaris jenderal dewan militer kelompok itu, Khalil al-Bahtini ialah anggota dewan dan komandan PIJ wilayah utara Jalur Gaza, dan Tareq Izaldin ialah salah satu pemimpin kerja militer di Tepi Barat.
Baca juga: Di PBB, Israel Klaim Pembenaran Serangan Mematikan Gaza
"Darah para syuhada akan meningkatkan ketabahan kami dan kami tidak akan meninggalkan posisi kami," tambah kelompok itu. "Perlawanan akan berlanjut, atas kehendak Tuhan."
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, yang berbasis di Qatar, mengatakan dalam suatu pernyataan tak lama setelah serangan udara Israel bahwa Israel akan membayar mahal atas kejahatan itu. “Faksi Palestina sendiri yang akan menentukan cara yang akan menyakiti musuh," kata Haniyeh tanpa menjelaskan lebih lanjut. "Musuh menargetkan semua rakyat kita dan perlawanan bersatu dalam menghadapi (Israel)."
Baca juga: Palestina Minta UNESCO Setop Permukiman Ilegal Israel di Situs Sebastia
Dalam pernyataan lain, pimpinan Hamas di Jalur Gaza juga mengancam bahwa Israel akan membayar mahal atas kejahatan dan agresinya. Kelompok itu menambahkan bahwa serangan udara pada Selasa tidak akan membawa keamanan ke Israel.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan bahwa Israel delusi jika berpikir bahwa operasi militer semacam itu akan menghentikan perjuangan Palestina. Sayap bersenjata Hamas, Izaddin al-Qassam, mengatakan, "Darah rakyat dan pejuang kami akan menjadi cahaya yang menerangi jalan pembebasan dan api yang membakar," Israel.
Front Populer PLO untuk Pembebasan Palestina (PFLP) juga mengatakan bahwa Israel akan membayar mahal atas pembunuhan tiga pejabat PIJ. Pembunuhan ketiga pria tersebut, kata PFLP, tidak akan menghentikan serangan bersenjata terhadap Israel. Di Ramallah, Otoritas Palestina mengutuk, "Eskalasi Israel yang berbahaya terhadap rakyat kami," dan menuduh Israel menargetkan anak-anak dan perempuan.
"Kami menganggap pemerintah Israel bertanggung jawab penuh atas eskalasi berbahaya ini yang menyeret kawasan itu ke arah kekerasan, ketegangan, dan ketidakstabilan," kata juru bicara kepresidenan PA Nabil Abu Rudaineh. "Kami memperingatkan pemerintah Amerika agar tidak mengizinkan otoritas pendudukan Israel untuk terus melakukan kejahatan terus menerus terhadap rakyat Palestina."
Perdana Menteri PA Mohammad Shtayyeh mengecam pembantaian mengerikan itu. Ia mengecap Israel melakukan terorisme negara terorganisasi. (Z-2)
ORGANISASI nonpemerintah hak asasi manusia Arab mengajukan permohonan agar Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
SETIDAKNYA 84 tahanan Palestina meninggal di penjara-penjara Israel sejak Oktober 2023 setelah mengalami penyiksaan sistematis.
EMIRAT Arab menjadi salah satu negara pertama yang secara terbuka berkomitmen pada Dewan Perdamaian Presiden Donald Trump pada Selasa (20/1).
ISRAEL memindahkan blok-blok yang seharusnya menandai garis kendali pascagencatan senjata lebih jauh ke dalam Jalur Gaza. Ini menimbulkan kebingungan di kalangan Palestina.
PARA pemimpin Kristen senior di Jerusalem, Palestina, memperingatkan campur tangan pihak luar yang mengancam masa depan Kekristenan di Tanah Suci, khususnya Zionisme Kristen.
PARA penasihat Presiden AS tidak sabar menghadapi keberatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat mereka terus mendorong fase kedua dari rencana perdamaian Gaza.
Pasukan Israel mulai merobohkan markas besar UNRWA di Yerusalem Timur. PBB menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
ORGANISASI nonpemerintah hak asasi manusia Arab mengajukan permohonan agar Inggris menjatuhkan sanksi terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
SETIDAKNYA 84 tahanan Palestina meninggal di penjara-penjara Israel sejak Oktober 2023 setelah mengalami penyiksaan sistematis.
EMIRAT Arab menjadi salah satu negara pertama yang secara terbuka berkomitmen pada Dewan Perdamaian Presiden Donald Trump pada Selasa (20/1).
ISRAEL memindahkan blok-blok yang seharusnya menandai garis kendali pascagencatan senjata lebih jauh ke dalam Jalur Gaza. Ini menimbulkan kebingungan di kalangan Palestina.
PARA pemimpin Kristen senior di Jerusalem, Palestina, memperingatkan campur tangan pihak luar yang mengancam masa depan Kekristenan di Tanah Suci, khususnya Zionisme Kristen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved