Kamis 25 November 2021, 16:37 WIB

Filipina Tolak Pindahkan Kapal BRP Sierra Madre dari Atol di Laut China Selatan

Atikah Ishmah Winahyu | Internasional
Filipina Tolak Pindahkan Kapal BRP Sierra Madre dari Atol di Laut China Selatan

Foto/Wikipedia
Kapal angkatan laut BRP Sierra Madre, yang didaratkan di sebuah atol di perairan sengketa Laut China Selatan.

 

FILIPINA tidak akan memindahkan kapal angkatan laut BRP Sierra Madre, yang didaratkan di sebuah atol di perairan sengketa Laut China Selatan.

Filipina menyatakan tegas menolak permintaan Tiongkok setelah Beijing memblokir misi untuk memasok kembali awak kapal tersebut.

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana menampik pernyataan Tiongkok pada Rabu (24/11) bahwa Filipina telah berkomitmen untuk memindahkan BRP Sierra Madre, yang sengaja didaratkan di beting Second Thomas pada tahun 1999 untuk memperkuat klaim kedaulatan Manila di kepulauan Spratly.

Kapal pendarat tank sepanjang 100 meter tersebut dibangun untuk Angkatan Laut AS selama Perang Dunia Kedua.

"Kapal itu sudah ada di sana sejak 1999. Jika ada komitmen, kapal itu pasti sudah disingkirkan sejak lama," kata Lorenzana kepada wartawan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Zhao Lijian, pada Rabu (24/11) mengatakan Beijing menuntut pihak Filipina menghormati komitmennya dan memindahkan kapalnya yang dikandangkan secara ilegal.

Beting Second Thomas, 105 mil laut dari Palawan, adalah rumah sementara dari kontingen militer kecil di atas kapal berkarat, yang terjebak di karang.

Lorenzana menuduh Tiongkok masuk tanpa izin ketika penjaga pantainya mengganggu misi pasokan untuk pasukan.

Tiongkok mengklaim sebagian besar Laut China Selatan sebagai miliknya, menggunakan sembilan garis putus-putus pada peta yang menurut putusan arbitrase internasional pada tahun 2016 tidak memiliki dasar hukum.

Beting Second Thomas berada dalam zona ekonomi eksklusif (ZZZ) 200 mil laut Filipina, sebagaimana diuraikan dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut, yang ditandatangani oleh Tiongkok.

"Kami memiliki dua dokumen yang membuktikan bahwa kami memiliki hak berdaulat di ZEE kami sementara mereka tidak, dan klaim mereka tidak memiliki dasar," kata Lorenzana.

"Tiongkok harus mematuhi kewajiban internasionalnya yang menjadi bagiannya,” imbuhnya.

Presiden Rodrigo Duterte pada hari Senin mengatakan dalam pertemuan puncak yang diselenggarakan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping bahwa dia benci tindakan Tiongkok baru-baru ini di beting tersebut. (Aiw/Straitstimes/OL-09)

Baca Juga

AFP

Austria Perpanjang Penguncian Covid-19 Selama 10 Hari

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Rabu 01 Desember 2021, 09:45 WIB
KOMITE parlemen Austria menyetujui dekrit yang memperpanjang penguncian covid-19 di negara itu selama 10 hari, sehingga total durasinya...
AFP/Fabrice COFFRINI

WHO Minta Kelompok Rentan yang tidak Divaksin Tunda Perjalanan ke Daerah Transmisi

👤Nur Aivanni 🕔Rabu 01 Desember 2021, 09:15 WIB
"Diperkirakan varian omicron akan terdeteksi di semakin banyak negara ketika otoritas nasional meningkatkan kegiatan pengawasan dan...
AFP

Brasil Laporkan Kasus Varian Omicron Pertama di Amerika Latin

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Rabu 01 Desember 2021, 08:50 WIB
REGULATOR kesehatan Brasil Anvisa mendeteksi kasus positif covid-19 Omicron pada dua warga Brasil, Selasa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya