Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
AMERIKA Serikat (AS) dan sekutu Arabnya di Teluk menuduh Iran menyebabkan krisis nuklir serta mengacaukan Timur Tengah dengan rudal balistik dan pesawat tidak berawak.
Hal itu muncul dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan kelompok kerja AS dengan Dewan Kerja Sama Teluk tentang Iran, yang diadakan di Arab Saudi.
"Semua anggota mendesak pemerintah baru Iran untuk mengambil kesempatan diplomatik saat ini yang berasal dari dimulainya kembali pembicaraan di Wina yang bertujuan menyelamatkan perjanjian nuklir Iran dan mencegah konflik dan krisis," kata pernyataan itu.
Baca juga: Dua Orang Tewas dalam Ledakan di Distrik Syiah di Kabul
Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran itu ditangguhkan setelah Iran memilih presiden baru, Juni lalu,dan dijadwalkan dilanjutkan akhir bulan ini.
Mereka bertujuan menghidupkan kembali perjanjian multinasional 2015 yang bertujuan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
AS, di bawah presiden saat itu, Donald Trump, menarik diri dari perjanjian tersebut pada 2018, dan sebagai tanggapan, Iran mengabaikan banyak komitmen yang mereka buat berdasarkan perjanjian itu untuk mengekang program nuklirnya.
"Iran telah mengambil langkah-langkah yang tidak memerlukan sipil tetapi itu akan menjadi penting untuk program senjata nuklir," kata pernyataan dari perwakilan AS, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Oman, dan Kuwait.
Negara-negara itu juga mengutuk berbagai kebijakan Iran yang mereka nilai agresif dan berbahaya termasuk proliferasi dan penggunaan langsung rudal balistik canggih dan drone.
“Dukungan Iran kepada milisi bersenjata di seluruh kawasan dan program rudal balistiknya menimbulkan ancaman nyata bagi keamanan dan stabilitas regional,” tutur pernyataan itu.
Beberapa negara Teluk seperti Qatar dan Oman sering dilihat sebagai saluran bagi AS untuk berkomunikasi dengan Iran.
Arab Saudi, sebuah monarki Sunni yang sangat menentang Iran Syiah, juga baru-baru ini melakukan dialog yang tenang namun nyata dengan tetangganya di bawah naungan Irak.
Negara-negara Teluk itu memberi pengarahan kepada Washington tentang upaya mereka untuk membangun saluran diplomatik yang efektif dengan Iran guna meredakan ketegangan, meskipun dengan dukungan penghentian militer Amerika.
"AS dan negara-negara anggota GCC menekankan bahwa upaya diplomatik ini tidak akan berhasil jika Iran terus memprovokasi krisis nuklir," pernyataan itu menyimpulkan. (France24/OL-1)
BANK sentral Iran tampaknya menggunakan sejumlah besar mata uang kripto yang didukung oleh politikus Inggris, Nigel Farage, yaitu stablecoin Tether.
EKOSISTEM aset digital Iran melampaui angka US$7,78 miliar atau sekitar Rp132 triliun pada 2025. Ini tumbuh lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
DI tengah rezim Iran yang semakin terdesak, menghadapi tekanan luar biasa baik dari dalam maupun luar negeri, mata uang kripto muncul sebagai alternatif keuangan bagi banyak warganya.
UNTUK kesekian kalinya, Republik Islam Iran tidak ciut nyali menghadapi gertakan negara-negara Barat, terutama Amerika.
Presiden AS Donald Trump menolak memberikan kepastian terkait langkah militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung mengusulkan pembekuan program nuklir Korea Utara dengan imbalan kompensasi, sekaligus meminta Tiongkok menjadi mediator.
Korea Utara memperingatkan bahwa ambisi nuklir Jepang harus dihentikan 'dengan biaya apa pun' karena dinilai mengancam stabilitas Asia dan keamanan global.
Nuklir bukan hanya untuk energi, namun juga untuk kesehatan dan riset medis
Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan dukungan tenaga ahli untuk proyek pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Indonesia dalam pertemuannya dengan Presiden Prabowo di Moskow
RISET terbaru Korea Institute for Defense Analyses menyebut kemampuan nuklir Korea Utara selama ini diremehkan.
Kepala Divisi Riset Keamanan Nuklir KIDA, Lee Sang-kyu, memperkirakan nuklir Korea Utara kemungkinan mencapai 127 sampai 150.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved