Rabu 15 September 2021, 18:49 WIB

Pengantin ISIS Siap Hadapi Tuduhan Teror di Inggris

Mediaindonesia.com | Internasional
Pengantin ISIS Siap Hadapi Tuduhan Teror di Inggris

AFP/Laura Lean.
Kakak perempuan tertua dari gadis Inggris yang hilang Shamima Begum, memegang foto adiknya saat diwawancarai oleh media, London, Inggris.

 

SEORANG wanita yang kehilangan kewarganegaraan Inggris setelah bergabung dengan kelompok ISIS siap untuk kembali menghadapi tuduhan teror. Dia ingin membuktikan bahwa dia tidak bersalah.

Shamima Begum berusia 15 tahun ketika dia melakukan perjalanan dari rumahnya di London pada 2015 dengan dua teman sekolahnya ke Suriah. Dia menikah dengan seorang pejuang ISIS dan memiliki tiga anak.

Dijuluki pengantin ISIS, dia dilucuti dari kewarganegaraan Inggrisnya setelah kemarahan media sayap kanan. Pasalnya, dia dilacak oleh wartawan ke suatu kamp pengungsian pada 2019 dan membela para jihadis.

Mahkamah Agung awal tahun ini menolak izinnya dengan alasan keamanan publik untuk kembali ke Inggris dan menentang keputusan pemerintah. Namun dia membantah terlibat langsung dalam persiapan aksi teror.

"Saya bersedia pergi ke pengadilan dan menghadapi orang-orang yang membuat klaim ini dan membantah klaim ini karena saya tahu saya tidak melakukan apa pun di ISIS selain menjadi ibu dan istri," katanya, Rabu (15/9).

Baca juga: Serangan Terakhir AS di Afghanistan Mungkin Tewaskan Relawan bukan ISIS

"Klaim ini dibuat untuk membuat saya terlihat lebih buruk karena pemerintah tidak memiliki apa-apa pada saya. Tidak ada bukti karena tidak pernah terjadi apa-apa," katanya kepada ITV.

Begum, sekarang berusia 22 tahun, mengatakan satu-satunya kejahatan yang dia lakukan yakni cukup bodoh untuk bergabung dengan ISIS. Ia meminta pengampunan dari semua orang yang telah kehilangan orang-orang terkasih karena para ekstremis.

"Saya sangat menyesal jika saya pernah menyinggung siapa pun dengan datang ke sini, jika saya pernah menyinggung siapa pun dengan hal-hal yang saya katakan," kata Begum yang mengenakan topi bisbol dan atasan rompi dari Suriah.

Para pengacara Begum, yang ayahnya orang Bangladesh, menuduh Inggris melakukan rasisme dalam perlakuannya terhadapnya. Ia menuduh pemerintah menjadikannya kambing hitam.

Pengacaranya mengatakan dia hanyalah seorang anak yang diperdagangkan dan tinggal di Suriah untuk tujuan eksploitasi seksual dan pernikahan paksa. Tindakan pemerintah membuatnya tidak memiliki kewarganegaraan.
Menteri Luar Negeri Bangladesh mengatakan dia tidak akan mempertimbangkan untuk memberikannya kewarganegaraan. 

Sekitar 900 orang diperkirakan telah melakukan perjalanan dari Inggris ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan ISIS. Ini menciptakan masalah hukum bagi pihak berwenang Inggris saat konflik berakhir. Sekitar 150 orang diyakini telah dicabut kewarganegaraannya.

Baca juga: Batal Rencana Mogok Makan Seribuan Tahanan Palestina di Penjara Israel

Begum, yang ketiga anaknya dikandung setelah kedatangannya di Suriah dan semuanya meninggal, pertama kali terlihat pada 2019 mengenakan jilbab hitam dan mengatakan dia tidak menyesal bepergian ke Suriah. Tapi dia telah terlihat dalam pakaian Barat dan menyatakan penyesalan atas tindakannya dan simpati untuk korban ISIS. (AFP/OL-14)

Baca Juga

Aamir QURESHI / AFP

PM Pakistan Serukan Kerja Sama dengan Taliban, PM India Bereaksi

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 10:09 WIB
Perdana Menteri (PM) Pakistan Imran Khan menuduh pemerintah India melakukan teror terhadap umat...
AFP.

Rusia Minta AS Dekati Iran Lebih Aktif demi Kesepakatan Nuklir

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 09:40 WIB
Diskusi antara Iran dan lima negara yang tersisa yang bertujuan menghidupkan kembali kesepakatan itu dimulai di Wina pada...
AFP/Thomas Coex.

Prancis akan Gandakan Dosis Vaksin Covid-19 untuk Negara Miskin

👤Nur Aivanni 🕔Minggu 26 September 2021, 08:25 WIB
Pada Rabu, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka akan menggandakan sumbangan dosis vaksinnya, sehingga total kontribusinya menjadi 1,1...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Cegah Konflik di Myanmar semakin Memburuk

Bentrokan antara pasukan perlawanan bersenjata dan militer dalam beberapa hari terakhir telah mendorong gelombang evakuasi baru di wilayah barat laut

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya