Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMIMPIN tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pada Rabu (28/7) bahwa pengalaman telah menunjukkan percaya kepada Barat tidak berguna. Saat ini republik Islam itu mempersiapkan pemerintahan baru untuk mengambil alih kekuasaan.
Khamenei juga mengecam AS, yang secara tidak langsung terlibat dalam pembicaraan Iran dengan kekuatan dunia untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir, yang kembali pada kesepakatan untuk negosiasi masa depan mengenai program rudal Iran dan masalah regional. Kesepakatan 2015, pencapaian tanda tangan Presiden moderat Hassan Rouhani yang akan diganti, memberi Iran sedikit keringanan dari sanksi internasional dengan imbalan pembatasan program nuklirnya.
Namun kesepakatan itu ditorpedo pada 2018 oleh presiden AS Donald Trump yang secara sepihak menarik diri dari perjanjian dan menjatuhkan sanksi hukuman. "Generasi masa depan harus menggunakan pengalaman ini," kata Khamenei kepada Rouhani dan anggota kabinetnya. "Sudah dijelaskan selama pemerintahan ini bahwa mempercayai Barat tidak akan berhasil."
Baca juga: Dari Washington, Menteri Luar Negeri Qatar Terbang ke Iran
Pemerintah Rouhani telah mengadakan pembicaraan dengan negara-negara besar di Wina sejak April tentang membawa Washington kembali ke dalam perjanjian. Akan tetapi kesepakatan sekarang tampaknya tidak mungkin sampai setelah dia menyerahkan kepada Presiden terpilih Ebrahim Raisi awal bulan depan.
Raisi ialah seorang ultrakonservatif tetapi telah menyatakan dukungan untuk pembicaraan nuklir dengan alasan perlu diakhirinya sanksi AS kepada Iran. Kubu ultrakonservatif Iran, yang sangat tidak mempercayai Amerika Serikat, telah berulang kali mengkritik Rouhani atas kesepakatan 2015.
Baca juga: Peraih Medali Olimpiade Tokyo 2020 Ini Mengaku Hidupnya Dimulai Setelah Membelot dari Iran
Raisi mengatakan pemerintahnya akan mendukung pembicaraan yang menjamin kepentingan nasional, tetapi tidak akan mengizinkan negosiasi demi negosiasi. (AFP/OL-14)
UNTUK kesekian kalinya, Republik Islam Iran tidak ciut nyali menghadapi gertakan negara-negara Barat, terutama Amerika.
Presiden AS Donald Trump menolak memberikan kepastian terkait langkah militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan kedua negara.
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved