Sabtu 19 Juni 2021, 11:45 WIB

WHO: Varian Delta Dominasi Kasus Covid-19 di Dunia

Muhamad Fauzi | Internasional
WHO: Varian Delta Dominasi Kasus Covid-19 di Dunia

AFP
Lambang WHO

 

VARIAN Covid-19 Delta, yang awalnya muncul di India, menjadi varian dominan secara global, menurut kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Soumya Swaminathan, Jumat atau Sabtu pagi WIB (19/6).

Swaminathan juga menyuarakan kekecewaan atas kegagalan calon vaksin CureVac dalam uji coba untuk memenuhi standar kemanjuran WHO, terlebih saat varian yang sangat menular meningkatkan kebutuhan vaksin baru dan ampuh.

Inggris melaporkan lonjakan tajam infeksi varian Delta, sementara pejabat senior kesehatan masyarakat Jerman memprediksikan varian Delta akan dengan cepat menjadi varian dominan di sana meski tingkat vaksinasi tinggi.

Pemerintah Rusia menyalahkan lonjakan kasus COVID-19 pada keraguan vaksinasi dan "nihilisme" setelah rekor infeksi baru di Moskow, kebanyakan varian Delta baru, mengipasi kekhawatiran gelombang ketiga.

"Varian Delta sedang dalam perjalanan menuju varian dominan secara global sebab penularannya yang sangat tinggi," kata Swaminathan saat konferensi pers.

Varian COVID-19 dikutip oleh CureVac ketika perusahaan asal Jerman itu pekan ini melaporkan bahwa vaksin buatannya hanya memilik kemanjuran 47 persen dalam mencegah penyakit, jauh dari ambang batas 50 persen standar WHO.

Perusahaan mengatakan telah mencatat sedikitnya 13 varian yang beredar dalam studi populasi mereka.

Mengingat bahwa vaksin mRNA serupa dari Pfizer-BioNTech dan Moderna mencatat tingkat kemanjuran di atas 90 persen, Swaminathan mengatakan dunia berharap lebih pada calon vaksin CureVac.

"Hanya karena ini mRNA yang lain, kami tidak dapat menganggap bahwa semua vaksin mRNA sama, sebab masing-masing mempunyai teknologi yang sedikit berbeda," katanya. Ia menambahkan bahwa kegagalan yang mengejutkan tersebut menggarisbawahi nilai uji klinis yang kuat untuk menguji produk baru.

Para pejabat WHO mengatakan Afrika masih menjadi kawasan yang membutuhkan perhatian, meski hanya menyumbang sekitar lima persen infeksi baru dan dua persen kematian secara global.

Kasus baru di Namibia, Sierra Leone, Liberia, dan Rwanda naik dua kali lipat pekan lalu, menurut kepala program kedaruratan WHO, Mike Ryan, pada saat akses vaksin COVID-19 masih sangat minim.

"Ini salah satu lintasan yang sangat, sangat memprihatinkan," kata Ryan. "Kenyataan yang sadis adalah bahwa di era berbagai varian, dengan tingkat penularan yang tinggi, kita membiarkan sebagian besar populasi, penduduk Afrika yang rentan, tak terlindungi oleh vaksin." (Ant/OL-13)

Baca Juga: Lelang 7 SUN Pekan Depan Ditargetkan Raup Rp45 Triliun

Baca Juga

AFP/Jason Tarleton.

Israel Dorong PBB Bertindak kepada Iran atas Serangan Kapal Tanker

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 21:08 WIB
Kapal tanker MT Mercer Street dihantam, Kamis (30/7), di Samudra Hindia bagian utara. Serangan itu menewaskan dua...
Tuwaedaniya MERINGING / AFP

Thailand Catat Rekor Harian 18.912 Kasus Covid-19 Baru

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 14:48 WIB
Thailand juga melaporkan 178 kematian baru, yang juga merupakan rekor harian, menjadikan total kematian mencapai 4.857...
STR / AFP

Unjuk Rasa Tuntut Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Mundur

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Sabtu 31 Juli 2021, 14:39 WIB
Sekitar 200 hingga 300 pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota Kuala Lumpur pada Sabtu (31/7) pagi untuk menuntut pengunduran diri Perdana...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Eksistensial

 Laporan SIGAR menggarisbawahi kekhawatiran pasukan Afghanistan tidak siap untuk melakukan pertahanan yang berarti

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya