Jumat 07 Mei 2021, 22:16 WIB

Polisi Israel Bunuh Dua Pria Bersenjata Serang Pangkalan Militer

Mediaindonesia.com | Internasional
Polisi Israel Bunuh Dua Pria Bersenjata Serang Pangkalan Militer

AFP/Jack Guez.
Seorang tentara Israel memeriksa barang-barang milik dua penyerang yang dibunuh oleh pasukan keamanan.

 

PASUKAN keamanan Israel membunuh dua pria bersenjata dan melukai yang ketiga pada Jumat (7/5). Ketiga pria bersenjata itu sebelumnya melepaskan tembakan ke pangkalan militer di Tepi Barat yang diduduki Israel.

Baku tembak di pangkalan Salem di luar kota Jenin di Tepi Barat utara menjadi kekerasan terbaru di wilayah itu pada minggu ini. Hal itu terjadi ketika ketegangan meningkat di Yerusalem timur yang dicaplok atas ancaman penggusuran yang menimpa empat keluarga Palestina.

"Tiga teroris menembak ke arah pangkalan polisi perbatasan Salem," kata satu pernyataan dari kepolisian. Penjaga membalas tembakan dan dua dari penyerang dinyatakan tewas dan yang ketiga dibawa ke rumah sakit di Israel dalam kondisi kritis.

Tiga senjata api dan tiga pisau ditemukan dari para penyerang, kata polisi perbatasan. Pasokan amunisi yang besar juga ditemukan di salah satunya. Tidak ada kabar langsung tentang identitas penyerang atau klaim tanggung jawab.

Pada Minggu, seorang warga Israel berusia 19 tahun terluka parah dalam penembakan dengan kendaraan di halte bus persimpangan Tapuah, juga di Tepi Barat utara. Pasukan keamanan Israel kemudian mengumumkan bahwa mereka telah menangkap Montasser Shalabi, 44, di desa Silwad dekat Ramallah, karena dicurigai melakukan serangan itu.

Sumber Palestina mengatakan Shalabi adalah warga negara ganda AS. Badan keamanan internal Israel Shin Bet mengatakan Shalabi tidak diketahui sebagai anggota kelompok militan Palestina.

Setelah penangkapannya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memuji pasukan keamanan atas kerja cepat dan tekad mereka untuk menangkap teroris yang tercela. Ia bersumpah, "Tangan panjang Israel akan menjangkau siapa pun yang merugikan warga negara kami."

Pada Rabu, pasukan Israel membunuh seorang warga Palestina berusia 16 tahun ketika mereka menembaki pengunjuk rasa yang melemparkan bom bensin. Pemakaman kedua remaja itu diadakan pada Kamis.

Bentrokan di Yerusalem

Di Yerusalem timur, lingkungan Sheikh Jarrah dekat Kota Tua, telah menyaksikan bentrokan baru-baru ini antara polisi dan pengunjuk rasa. Ini dipicu oleh sengketa tanah selama bertahun-tahun antara pengungsi Palestina dan pemukim Yahudi.

Polisi mengatakan mereka melakukan 15 penangkapan pada Kamis malam dan 11 pada malam sebelumnya. Bulan Sabit Merah mengatakan 22 warga Palestina terluka dalam bentrokan Rabu malam itu.

 

Kekerasan itu terjadi ketika Muslim Palestina berbondong-bondong ke kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur untuk salat Jumat terakhir di bulan puasa Ramadan. Polisi mengatakan pengunjuk rasa membakar kendaraan dan melempar batu di luar rumah yang ditempati oleh pemukim Yahudi.

 

Warga Palestina juga saling hina dengan anggota parlemen sayap kanan Israel Itamar Ben-Gvir yang mengunjungi Sheikh Jarrah untuk menyuarakan dukungan bagi para pemukim.

Kemungkinan kejahatan perang

Perserikatan Bangsa-Bangsa meminta Israel pada Jumat untuk mengakhiri setiap penggusuran paksa di Yerusalem timur yang dicaplok Israel. PBB memperingatkan bahwa tindakan Israel itu dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

"Kami meminta Israel untuk segera membatalkan semua penggusuran paksa," kata juru bicara kantor hak asasi PBB Rupert Colville kepada wartawan di Jenewa. "Kami ingin menekankan bahwa Yerusalem timur tetap menjadi bagian dari wilayah Palestina yang diduduki, karena hukum humaniter internasional berlaku," kata Colville.

"Kekuatan pendudukan tidak dapat menyita properti pribadi di wilayah pendudukan," katanya. Ia menambahkan bahwa pemindahan penduduk sipil ke wilayah pendudukan tergolong ilegal menurut hukum internasional dan dapat dianggap sebagai kejahatan perang.

Awal tahun ini, pengadilan distrik Yerusalem memutuskan bahwa rumah-rumah itu secara resmi milik keluarga Yahudi. Penggugat Yahudi mengklaim keluarga mereka kehilangan tanah selama perang yang menyertai pembentukan Israel pada 1948. Konflik tersebut juga menyebabkan ratusan ribu warga Palestina mengungsi dari rumah mereka.

Hukum Israel mengizinkan orang Yahudi yang dapat membuktikan hak milik sebelum 1948 untuk memulihkan properti mereka. Tapi, itu tidak memberikan hak yang sama kepada orang-orang Palestina.

 

Keluarga Sheikh Jarrah telah memberikan bukti bahwa rumah mereka diperoleh dari otoritas Yordania yang menguasai Yerusalem timur dari 1948 hingga 1967. Israel merebut Yerusalem timur pada 1967 dan kemudian mencaploknya, suatu tindakan yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional.

 

Putusan pengadilan distrik membuat marah warga Palestina di Sheikh Jarrah. Mereka memandang putusan itu sebagai langkah  pemukim Yahudi mengusir orang Arab keluar dari Yerusalem timur. Mahkamah Agung Israel akan mengadakan sidang baru dalam kasus tersebut pada Senin. (AFP/OL-14)

Baca Juga

AFP/Angela Weiss

Warga AS yang Bersedia Divaksin Covid-19 Dibayar 100 dolar

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 30 Juli 2021, 10:15 WIB
PRESIDEN Joe Biden menguraikan sejumlah insentif untuk membuat warga AS yang enggan divaksinasi Covid-19, termasuk membayar mereka sebesar...
dok.medcom

Jepang Laporkan Lebih dari 10.000 Kasus Covid-19 dalam Sehari

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 30 Juli 2021, 08:15 WIB
JEPANG melaporkan lebih dari 10.000 kasus covid-19 dalam sehari, untuk pertama kalinya pada Kamis...
AFP

2 Minggu ke Depan, Separuh Warga Myanmar Berpotensi Positif Covid-19

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Jumat 30 Juli 2021, 08:08 WIB
"Virus ini menyebar ke seluruh penduduk, memang sangat cepat. Menurut beberapa perkiraan, dalam dua minggu ke depan, separuh penduduk...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Atletik Jadi Lumbung Medali

SALAH satu cabang olahraga yang akan sangat menarik untuk disaksikan di Olimpiade 2020 ialah atletik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya