Senin 15 Maret 2021, 06:52 WIB

Junta Umumkan Darurat Militer di Dua Kota Myanmar

Nur Aivanni | Internasional
Junta Umumkan Darurat Militer di Dua Kota Myanmar

AFP/STR
Seorang warga mendapat pertolongan setelah tertembak oleh pasukan keamanan di kota Hlaing Tharyar, Yangon, Myamnar, Minggu (14/3/2021)

 

JUNTA militer Myanmar pada Minggu (14/3) malam, memberlakukan darurat militer di dua kota setelah 18 pengunjuk rasa tewas dalam  satu hari paling mematikan sejak kudeta pada 1 Februari. Kekerasan yang terjadi pada Minggu membuat jumlah orang yang tewas dalam aksi protes massal sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi dari kekuasaannya sekitar 100 orang, meskipun para aktivis dan kelompok HAM yakin jumlahnya bisa lebih tinggi.

Pada Minggu malam, media yang dikelola pemerintah mengumumkan bahwa kota Hlaing Tharyar Yangon dan kota tetangga Shwepyitha akan ditempatkan di bawah darurat militer. Kota-kota tersebut dikenal sebagai pusat pabrik dan rumah bagi pabrik garmen.

"Junta memberikan kekuasaan administratif dan peradilan darurat militer kepada komandan regional Yangon untuk melakukan keamanan, menjaga supremasi hukum dan ketenangan dengan lebih efektif," kata seorang penyiar di TV yang dikelola pemerintah.

Dalam beberapa pekan terakhir, tentara dan polisi melakukan tindakan keras hampir setiap hari terhadap para demonstran yang menyerukan kembalinya demokrasi, dengan menggunakan gas air mata dan menembakkan peluru karet dan peluru tajam untuk memadamkan aksi protes anti-kudeta. Di Hlaing Tharyar, polisi dan tentara bentrok dengan kekerasan, dengan pengunjuk rasa yang memegang tongkat dan pisau dan bergegas berlindung di balik barikade darurat.

Para pengunjuk rasa yang menggunakan potongan tong sampah sebagai tameng berhasil menyelamatkan beberapa demonstran yang terluka ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan, tetapi seorang dokter mengatakan tidak semua bisa dijangkau.

"Saya dapat mengonfirmasi 15 orang telah meninggal," kata dokter itu kepada AFP, seraya menambahkan bahwa dia telah merawat sekitar 50 orang dan memperkirakan jumlah kematian akan meningkat.

baca juga: Setidaknya 12 Orang Tewas dalam Aksi Protes di Myanmar

Utusan PBB untuk Myanmar mengutuk keras pertumpahan darah tersebut. Dia mengatakan bahwa komunitas internasional, termasuk aktor regional, harus bersatu dalam solidaritas dengan rakyat Myanmar dan aspirasi demokratis mereka. 

Dalam sebuah pernyataan, Utusan Christine Schraner Burgener mengatakan dia telah mendengar laporan pembunuhan yang memilukan, penganiayaan terhadap demonstran dan penyiksaan tahanan di negara tersebut. Menurutnya, kebrutalan yang sedang berlangsung tersebut sangat merusak prospek perdamaian dan stabilitas di negara itu. (AFP/OL-3)


 

Baca Juga

AFP/Scott Olson.

Siswa SMA Tersangka Penembakan di AS Hadapi 24 Dakwaan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 02 Desember 2021, 16:32 WIB
Dia menembak orang dari jarak dekat, sering kali ke arah kepala dan...
CHARLY TRIBALLEAU / AFP

Terkait Soal Taiwan, Hubungan Tiongkok dan Jepang Memanas

👤 Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 02 Desember 2021, 16:18 WIB
Beijing memanggil duta besar Jepang untuk Tiongkok atas pernyataan mantan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe di...
Handout / various sources / AFP

Junta Myanmar Kecam PBB yang Menolak Utusan Pilihannya

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 02 Desember 2021, 16:13 WIB
Penangguhan itu membuat Kyaw Moe Tun, yang ditunjuk oleh pemerintah Suu Kyi, tetap menjadi utusan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya