Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, Minggu (25/10), menyerukan solidaritas global dalam peluncuran vaksin covid-19 di masa depan karena jumlah kasus melonjak di seluruh dunia.
Dalam pidato video pada pembukaan KTT Kesehatan Dunia di Berlin, Tedros mengatakan satu-satunya cara untuk pulih dari pandemi adalah bersama dan dengan memastikan negara-negara miskin memiliki akses yang adil ke vaksin.
"Wajar jika negara ingin melindungi warganya sendiri terlebih dahulu. Tetapi, jika dan ketika kami memiliki vaksin yang efektif, kami juga harus menggunakannya secara efektif. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan memvaksinasi beberapa orang di semua negara daripada semua orang di beberapa negara," katanya.
Baca juga: Angka Kasus Harian Covid-19 Prancis Tembus 50 Ribu
"Biar saya perjelas: nasionalisme vaksin akan memperpanjang pandemi, bukan memperpendeknya," tegas Tedros.
Ilmuwan di seluruh dunia berlomba mengembangkan vaksin melawan covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 1,1 juta orang.
Beberapa lusin kandidat vaksin saat ini sedang diuji dalam uji klinis. Sepuluh di antaranya berada dalam tahap fase 3, fase paling maju yang melibatkan puluhan ribu sukarelawan.
Uni Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan banyak negara lain telah memesan dalam jumlah besar dengan perusahaan yang terlibat dalam pengembangan vaksin yang paling menjanjikan. Tetapi, kekhawatiran berkembang bahwa negara-negara dengan dompet yang lebih tipis akan tertinggal jauh di belakang.
WHO telah meluncurkan skema internasional yang dikenal sebagai Covax untuk membantu memastikan akses yang adil ke negara. Organisasi itu telah berjuang untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan.
Pada Minggu (25/10) juga, WHO melaporkan rekor infeksi baru di hari ketiga berturut-turut di seluruh dunia. Badan PBB itu menyerukan negara-negara untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk mengekang penyebaran penyakit.
Angka badan tersebut menunjukkan bahwa 465.319 kasus dideklarasikan untuk Sabtu (24/10) saja, setengahnya di Eropa.
"Ini adalah momen berbahaya bagi banyak negara di belahan bumi utara karena kasus melonjak," kata Tedros.
Namun, dia menambahkan orang tidak berdaya melawan virus. Untuk itu dia menekankan pentingnya menjaga jarak sosial, mencuci tangan, dan bertemu di luar ruangan, bukan di dalam.
"Berulang kali kami telah melihat bahwa mengambil tindakan yang tepat dengan cepat berarti wabah dapat dikelola," imbuhnya.
Berbicara pada KTT yang sama, yang diadakan secara daring tahun ini, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, dalam pesan videonya, menyebut pandemi sebagai krisis terbesar di zaman kita.
"Kami membutuhkan solidaritas global di setiap langkah," katanya, menggemakan seruan bagi negara-negara maju untuk mendukung mereka yang memiliki sumber daya lebih sedikit.
"Sebuah vaksin harus menjadi barang publik global," kata Guterres. "Vaksin, tes, dan terapi lebih dari sekadar penyelamat hidup. Mereka adalah penyelamat ekonomi dan penyelamat masyarakat." (AFP/OL-1)
WHO terus memantau sejumlah penyakit infeksi paru berat seperti flu burung, MERS, influenza berat, dan virus Nipah yang berisiko tinggi bagi kesehatan global.
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya.
DISEASE Outbreak News (DONs) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan laporan resmi meninggalnya pasien akibat infeksi virus Nipah (NiV) di Banglades
LEBIH dari 18.500 pasien di Gaza, Palestina, membutuhkan pengobatan medis khusus yang tidak tersedia di daerah kantong tersebut. Demikian menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
BARU-baru ini outbreak virus Nipah menyebabkan kewaspadaan kesehatan di banyak negara Asia. Infeksi virus Nipah pada manusia menyebabkan berbagai gejala, kenali penularan dan pengobatannya
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
Riset terbaru menunjukkan vaksin Covid-19 berbasis mRNA seperti Pfizer dan Moderna dapat memicu sistem imun melawan sel kanker.
DUA tenaga kesehatan menerima vaksin Covid-19 di hari yang sama, pola respons antibodi setiap orang ternyata berbeda-beda menentukan berapa lama perlindungan vaksin bertahan
Pengurus IDI, Iqbal Mochtar menilai bahwa kekhawatiran masyarakat terhadap vaksin berbasis Messenger Ribonucleic Acid (mRNA) untuk covid-19 merupakan hal yang wajar.
Menteri Kesahatan AS Robert F. Kennedy Jr. membuat gebrakan besar dengan mencabut kontrak dan membatalkan pendanaan proyek vaksin berbasis teknologi mRNA, termasuk untuk covid-19.
Sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan yang menyebutkan vaksinasi booster covid-19 tetap direkomendasikan.
Pemakaian masker, khususnya di tengah kerumunan mungkin dapat dijadikan kebiasaan yang diajarkan kepada anak-anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved