Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
INSTITUT Pasteur di kota Lille, Prancis utara mengonfirmasi penemuan obat yang sangat menjanjikan dalam memerangi pandemi virus korona, tanpa menyebut namanya. Ketika tingkat infeksi meningkat di banyak negara Eropa, termasuk Prancis, Institut Pasteur di Lille baru-baru ini mengkonfirmasi penemuan molekul obat pada Juni lalu yang telah menjanjikan sebagai pengobatan terapeutik untuk melawan virus. Ini bukan obat baru tetapi telah digunaan di masa lalu untuk mengobati penyakit lain. Sempat muncul dugaan bahwa obat itu adalah hydroxychloroquine yang secara kontroversial disebut-sebut sebagai pengobatan korona yang dilakukan pada awal pandemi.
Obat yang tidak disebutkan namanya telah menjalani sejumlah penelitian laboratorium, yang menemukan bahwa obat tersebut bisa melawan virus.
"(Memiliki) kekuatan yang cukup besar untuk melawan virus," kata Dr. Benoît Deprez, direktur ilmiah Institut Pasteur di Lille.
Obat tersebut diharapkan untuk memulai uji klinis awal, yang diperkirakan menelan biaya € 5 juta pada musim dingin ini, sebelum disetujui untuk digunakan pada pasien dengan diagnosis Covid-19 yang dikonfirmasi.
Dikutip France24, Dirjen Institut Pasteur di Lille, Dr. Xavier Nassif menjelaskan bahwa obat itu ditemukan melalui reposisi obat. Mereka memiliki kesempatan untuk mengakses bank yang berisi 2.000 molekul obat di awal pandemi.
"2.000 molekul ini kemudian digunakan kembali. Banyak yang diidentifikasi sebagai aktif, tetapi dengan dosis yang cukup tinggi dibandingkan dengan kecepatan penggunaannya," ungkapnya.
Molekul yang menonjol tidak hanya aktif, tetapi mampu menghalangi virus untuk bereplikasi dalam sel dengan kecepatan yang sesuai dengan penggunaan manusia normal. Terlebih lagi, obat tersebut telah digunakan selama bertahun-tahun, memiliki sedikit efek samping dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik yang menjadikannya kandidat yang kuat.
Studi laboratorium lebih lanjut menunjukkan bahwa itu menghalangi virus untuk bereplikasi di beberapa jenis sel, termasuk dalam sel paru manusia primitif.
"Semua tes dilakukan secara in vitro l atau di laboratorium, jadi kami berhati-hati, karena kami masih harus memastikan efisiensi obat in vivo, yang berarti apakah molekul tersebut mampu memblokir replikasi secara efisien pada manusia," terangnya.
Menurutnya, bila mereka menunjukkan bahwa molekul ini dapat memblokir replikasi virus pada manusia, maka molekul tersebut siap untuk segera digunakan. Ini adalah obat dengan beberapa karakteristik yang sudah diberikan kepada manusia tanpa terlalu banyak efek samping. Dan dapat diberikan secara enteral atau melalui saluran pencernaan, bukan melalui jalur subkutan atau intravena. Uji klinis akan memberi tahu peneliti apa saja indikasi terbaik untuk digunakan.
"Ini akan mencegah subjek menjadi sakit parah setelah terinfeksi. Juga bisa mencegah mereka yang melakukan kontak dengan subjek menjadi pembawa virus," tambah Dr. Nassif.
Lebih lanjut, obat tersebut, bila diberikan kepada pasien tanpa gejala, dapat mencegah mengeluarkan virus dalam jangka waktu lama, sehingga mengurangi karantina. Hasil uji klinis akan membantu peneliti untuk menentukan penggunaan obat yang tepat dan dampak akhir bagaimana epidemi dikelola.
Dr Nassif menambahkan bahwa molekul tersebut tidak terlalu mahal. Sehingga bisa diproduksi dan didistribusi secara massal.
"Terserah pabrikan untuk melihat apa yang bisa dilakukan. Kami telah menghubungi mereka untuk memberi tahu mereka tentang penemuan kami. Mereka sangat membantu, sangat kooperatif, dan saya pikir akan dilakukan semaksimal mungkin untuk membuat obat ini tersedia. Jika obat ini sangat efisien dan perlu didistribusikan dalam skala massal, langkah-langkah harus diambil di tingkat manufaktur untuk menanggapi permintaan," katanya.
Pihaknya pun bersedia untuk mempublikasikan hasil uji klinis pada jurnal ilmiah. Dia mengatakan bahwa mereka akan mencoba mendemonstrasikan khasiat obat secara in vivo dengan menggunakan monyet kera sebagai subjek uji. Jika berhasil, tentu akan mempublikasikan hasilnya.
"Kami tidak sabar untuk memulai uji coba pada hewan. Jika semuanya berjalan lancar harus mulai uji November," tambahnya.
baca juga: India Buka kembali Sekolah dan Bioskop
Pihaknya berharap untuk memulai uji coba pada manusia di musim dingin ini, setelah memiliki otorisasi yang diperlukan. Kemungkinan keberhasilan menggunakan monyet akan mempercepat maju ke percobaan manusia.
"Uji klinis mahal. Kami berharap komunikasi seputar penemuan kami akan membantu kami mengumpulkan dana baik dari donor publik dan atau swasta. Saat ini, yang kita butuhkan adalah uang," pungkasnya.(OL-3)
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Rabu (21/1) bahwa beberapa wilayah di Eropa tidak lagi dapat dikenali. Benua itu disebutnya tidak menuju ke jalan yang benar.
PEMERINTAH Amerika Serikat meminta negara-negara Eropa tidak bereaksi emosional terhadap rencana Presiden Donald Trump terkait Greenland.
USULAN Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump dimulai dengan kurang baik. Presiden Prancis Emmanuel Macron segera menolak undangan menjadi anggota dewan tersebut.
ANGGOTA pertama kelompok yang nanti disebut Garda Revolusi Iran (IRGC) dilatih dalam desa terpencil di luar Paris, Prancis.
AS melancarkan serangan besar-besaran terhadap Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka ke New York.
Presiden Prancis Emmanuel Macron kecam kebijakan Trump tarik AS dari 66 organisasi internasional & isu Greenland. Peringatkan krisis kepemimpinan global.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Obat yang mengandung steroid bisa membahayakan kesehatan tulang apabila dikonsumsi secara terus menerus.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved