Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Dampak Korona, Ekonomi Tiongkok Anjlok Pertama Kalinya Sejak 1976

Nur Aivanni
17/4/2020 17:30
Dampak Korona, Ekonomi Tiongkok Anjlok Pertama Kalinya Sejak 1976
Tembok China(Antara)

Ekonomi Tiongkok menyusut 6,8 persen pada kuartal pertama 2020. Itu merupakan kontraksi pertama sejak akhir Revolusi Kebudayaan pada tahun 1976, mengonfirmasi kerusakan ekonomi akibat pandemi virus korona.

Dikutip dari South China Morning Post, Jumat (17/4), selama tiga bulan pertama tahun ini, ekonomi terbesar kedua di dunia itu menghadapi penutupan besar-besaran untuk berjuang menangani penyebaran virus korona, dan kemudian berjuang untuk membuka kembali sepenuhnya.

Data baru yang dirilis oleh National Bureau of Statistics (NBS) pada Jumat mengonfirmasi penurunan yang lebih buruk dari prediksi survei perkiraan analis Bloomberg sebesar minus 6,0 persen

Data NBS juga menunjukkan bahwa selama bulan Maret ekonomi tetap di bawah tekanan yang besar, dengan sektor industri, ritel dan investasi aset tetap semuanya menyusut lagi, menyusul keruntuhan dramatis selama dua bulan pertama tahun ini.

Produksi industri turun 1,1 persen bulan lalu, setelah penurunan 13,5 persen selama Januari dan Februari, ketika data digabungkan. Angka itu jauh lebih baik daripada ekspektasi penurunan 6,2 persen, menurut survei Bloomberg.

Untuk penjualan ritel, yang menjadi pengukuran utama konsumsi di negara yang berpenduduk terpadat di dunia itu, turun 15,8 persen.

Sementara itu, investasi aset tetap turun 16,1 persen selama tiga bulan pertama, dari level terendah sepanjang masa minus 20,5 persen pada periode Januari-Februari. Analis memperkirakan penurunan 15,1 persen.

Tingkat pengangguran yang disurvei adalah 5,9 persen, turun dari rekor tertinggi 6,2 persen selama dua bulan pertama.

Namun, angka-angka itu tidak mewakili keseluruhan ekonomi karena mereka mengecualikan banyak pekerja migran yang kehilangan pekerjaan mereka atau tidak bisa kembali bekerja karena pembatasan perjalanan yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran virus korona.

Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh Liu Chenjie, kepala ekonom di fund manager Upright Asset, menyatakan bahwa pandemi ini telah mendorong 205 juta pekerja ke 'pengangguran friksional', di mana mereka ingin bekerja tetapi tidak bisa atau tidak bisa kembali bekerja. Sebuah rilis pada Kamis menunjukkan bahwa lowongan pekerjaan turun 27 persen pada kuartal pertama.

Sementara itu, kata NBS, pendapatan rata-rata turun selama kuartal pertama sebesar 3,9 persen, dengan penduduk pedesaan menemukan pendapatan mereka 4,7 persen lebih kecil dari tahun sebelumnya.

Dalam laporan eksplosif minggu ini, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa dunia ini menghadapi penurunan terburuk sejak Depresi Hebat tahun 1930-an akibat pandemi virus korona, dengan dampak yang diperkirakan akan jauh lebih buruk daripada selama krisis keuangan global.

Pertumbuhan ekonomi global akan menyusut 3 persen pada tahun 2020, "jauh lebih buruk" daripada selama krisis keuangan tahun 2009 ketika pertumbuhan berkontraksi 0,7 persen, menurut laporan World Economic Outlook IMF. Sementara itu, ekonomi Tiongkok akan tumbuh 1,2 persen tahun ini, turun dari 6,1 persen pada 2019. (SCMP/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Baharman
Berita Lainnya