Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Sentimen Risiko Kembali, Dolar AS Semakin Melemah

Mediaindonesia.com
15/4/2020 10:08
Sentimen Risiko Kembali, Dolar AS Semakin Melemah
Sejumlah uang dolar AS yang baru keluar dari mesin cetak.(AFP/Eva Hambach)

NILAI tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah mata uang utama, jatuh hingga posisi terendah dalam dua minggu terakhir. Kondisi itu disebabkan kembalinya sentimen risiko ke pasar, menyusul data ekonomi Tiongkok yang lebih baik dari perkiraan.

Kinerja ekspor Tiongkok periode Maret turun 6,6% dari setahun sebelumnya. Namun, capain itu lebih baik dibandingkan proyeksi penurunan hingga 14%. Di lain sisi, kinerja impor turun kurang dari 1% dan berbeda jauh dari prediksi kalangan ekonomi, yakni turun 9,5%.

Baca juga: The Fed Luncurkan Langkah Agresif, Dolar AS Melemah

“Dolar AS telah mempertahankan bias pelemahan moderat di tengah konteks posisi risk-on (pengambilan risiko). Pasar global kembali berpartisipasi penuh, setelah libur akhir pekan panjang di pusat keuangan Eropa dan Asia-Pasifik," bunyi analisis dari Action Economics.

Leih lanjut, analis itu mengatakan data perdagangan Tiongkok per Maret mendorong bullish untuk pasar saham Asia. Dalam hal ini, dengan menunjukkan perbaikan pada kinerja impor dan ekspor, setelah kejatuhan yang parah sepanjang Januari-Februari.

Sejumlah negara berencana membuka kembali pintu ekonomi mereka. Sehingga, mendorong investor untuk meninggalkan jaring pengaman dari dolar yang sangat likuid dan beralih ke mata uang lain.

Baca juga: Kasus Meninggal akibat Covid-19 di AS Lampaui 20 Ribu

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, terpantau melemah 0,50% menjadi 98,90. Euro menguat 0,62% terhadap greenback menjadi 1,0981 dolar. Selain itu, pergerakan dolar juga melemah 0,52% terhadap yen Jepang menjadi 107,2 yen.

"Peningkatan yang berlangsung dalam sentimen risiko investor global. Itu dalam waktu dekat dikombinasikan dengan respons kebijakan agresif The Fed, yang mulai lebih membebani dolar AS," tutur Lee Hardman, analis mata uang dari MUFG.

Pekan lalu, The Fed meluncurkan stimulus US$ 2,3 triliun untuk mendukung pemerintah daerah, serta sektor usaha kecil dan menengah demi menjaga perekonomian AS agar tetap utuh di tengah pandemi covid-19.(Ant/OL-11)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya