Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Gelombang Informasi Geopolitik Saat Ini Bisa Mengganggu Kesehatan Mental

M Iqbal Al Machmudi
05/4/2026 11:00
Gelombang Informasi Geopolitik Saat Ini Bisa Mengganggu Kesehatan Mental
Ilustrasi(freepik)

DINAMIKA geopolitik global dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan peningkatan ketegangan, konflik, krisis kemanusiaan, serta ketidakpastian di berbagai kawasan dunia, bisa berpengaruh pada kesehatan mental seseorang.

Dalam perspektif psikiatri, kondisi geopolitik global saat ini dapat dipahami sebagai stresor psikososial kronis yang memicu chronic anticipatory stress, yaitu keadaan kewaspadaan terus menerus terhadap ancaman yang belum tentu terjadi namun dirasakan nyata secara psikologis.

Paparan informasi yang masif melalui media digital terkait konflik, kekerasan, dan ketidakstabilan global memperkuat respons stres ini, sehingga berpotensi memengaruhi keseimbangan emosi, pola pikir, dan fungsi sosial individu.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Agung Frijanto, mengatakan sebuah penelitian menunjukkan paparan media konflik secara berulang dapat memicu stres, kecemasan, hingga gejala mirip PTSD meski tidak terpapar langsung.

"Pada kasus pengeboman Boston Marathon di Boston, Amerika Serikat menunjukkan semakin lama paparan media, semakin tinggi tingkat stres, bahkan dapat melebihi paparan langsung. Di era digital, hal ini memperkuat kecemasan kolektif, sementara cognitive reappraisal menjadi faktor protektif," kata Agung dalam keterangannya, Minggu (5/4).

PDSKJI menilai bahwa dampak kesehatan mental yang muncul tidak bersifat sederhana, melainkan berlapis dan saling berkaitan, dengan berbagai risiko seperti terjadi peningkatan gangguan kecemasan dalam berbagai spektrum. Aktivasi sistem stres yang berkepanjangan dapat memicu kecemasan berlebih, rasa waspada yang berlebihan, kesulitan relaksasi, hingga gangguan konsentrasi. Pada kondisi tertentu, hal itu berkembang menjadi gangguan kecemasan yang dapat mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.

Kemudian munculnya risiko depresi yang berakar pada rasa ketidakberdayaan kolektif. Paparan narasi krisis global secara terus-menerus dapat menimbulkan persepsi hilangnya kendali terhadap masa depan (learned helplessness), yang ditandai dengan penurunan harapan, hilangnya minat, serta penarikan diri sosial.

"Bisa juga terjadi peningkatan fenomena trauma tidak langsung (vicarious trauma). Masyarakat yang terus-menerus terpapar konten visual kekerasan dan penderitaan, meskipun tidak mengalami secara langsung, dapat menunjukkan gejala seperti bayangan intrusif, mati rasa emosional, iritabilitas, dan gangguan tidur," ujar Agung.

Di lingkup masyarakat dapat terjadinya polarisasi sosial yang berdampak pada distres psikologis. Perbedaan pandangan terkait isu geopolitik dapat memicu konflik interpersonal, rasa keterasingan, serta menurunkan kohesi sosial yang merupakan faktor protektif penting terhadap kesehatan mental.

Selain itu, dapat terjadi gangguan tidur dan disregulasi emosi. Paparan informasi berlebihan, terutama pada waktu istirahat, berkontribusi terhadap insomnia, kelelahan mental, serta ketidakstabilan emosi.

Peningkatan kerentanan pada kelompok tertentu, termasuk anak dan remaja, orang lanjut usia, individu dengan riwayat gangguan mental, serta tenaga kesehatan. Kelompok ini memiliki kapasitas adaptasi yang lebih terbatas terhadap stresor berkepanjangan.

Agung juga menyampaikan faktor tersebut juga bisa menyebabkan dampak neurobiologis jangka panjang. Stres kronis dapat menyebabkan peningkatan kadar hormon stres secara persisten serta perubahan pada fungsi otak yang berperan dalam regulasi emosi serta pengambilan keputusan.

"PDSKJI menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian integral dari ketahanan nasional. Stabilitas psikologis individu berkontribusi terhadap kemampuan masyarakat dalam beradaptasi, menjaga produktivitas, serta mempertahankan kohesi sosial di tengah ketidakpastian global," pungkasnya. (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik