Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Peran Indonesia dalam Latihan Angkatan Laut BRICS Plus Will for Peace 2026

Haufan Hasyim Salengke
11/1/2026 05:41
Peran Indonesia dalam Latihan Angkatan Laut BRICS Plus Will for Peace 2026
Kapal perusak rudal berpemandu Tiongkok Tangshan berlabuh di False Bay, dekat Cape Town, Afrika Selatan pada 6 Januari 2026. Latihan Will For Peace 2026 menyatukan angkatan laut dari negara-negara BRICS Plus.(VCG/Global Times)

PEMERINTAH Afrika Selatan secara resmi membela pelaksanaan latihan angkatan laut bersama negara-negara anggota BRICS Plus yang dimulai Sabtu (10/1) waktu setempat. Latihan bertajuk Will for Peace 2026” ini dinilai sebagai langkah esensial untuk merespons meningkatnya ketegangan maritim global, meskipun memicu kritik tajam dari Amerika Serikat.

Latihan selama seminggu yang berlangsung di lepas pantai Cape Town ini melibatkan kekuatan militer dari Rusia, Tiongkok, Iran, dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, Indonesia bersama Brasil dan Ethiopia turut hadir dalam kapasitas sebagai negara pengamat (observer). Kehadiran Indonesia mempertegas posisi strategis Jakarta dalam blok yang kini tengah memperluas pengaruhnya tersebut.

Komandan Satuan Tugas Gabungan Afrika Selatan, Kapten Nndwakhulu Thomas Thamaha, menegaskan bahwa latihan ini bukan sekadar manuver militer biasa. "Ini adalah demonstrasi tekad kolektif kami. Dalam lingkungan maritim yang kian kompleks, kerja sama seperti ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjamin keamanan jalur perdagangan," ujarnya dalam upacara pembukaan.

Ketegangan dengan Washington

Manuver ini digelar di tengah situasi geopolitik yang memanas. Hanya beberapa hari sebelumnya, AS menyita sebuah tanker minyak Rusia yang terkait dengan Venezuela di Atlantik Utara atas tuduhan pelanggaran sanksi. Selain itu, hubungan antara pemerintahan Presiden AS Donald Trump dengan anggota BRICS Plus terus memburuk, ditandai dengan ancaman tambahan tarif impor sebesar 10% bagi negara-negara anggota blok tersebut.

Menanggapi tekanan Barat, Wakil Menteri Pertahanan Afrika Selatan, Bantu Holomisa, meminta dunia untuk tidak panik. Ia menegaskan bahwa negara-negara seperti Rusia dan Iran bukanlah musuh Afrika Selatan. "Fokus kami adalah memastikan Samudra Hindia dan Atlantik tetap aman melalui kerja sama BRICS," tegas Holomisa.

Komposisi Armada

Dalam latihan kali ini, Tiongkok dan Iran mengerahkan kapal perusak (destroyer), sementara Rusia dan Uni Emirat Arab mengirimkan kapal korvet. Afrika Selatan sendiri mengerahkan kapal fregat sebagai tuan rumah.

Latihan yang sebelumnya dikenal sebagai "Exercise Mosi" ini sempat tertunda dari jadwal aslinya pada November lalu akibat bentrok jadwal dengan KTT G20 di Johannesburg—pertemuan yang sempat diboikot oleh pemerintahan Trump. Bagi Indonesia, keterlibatan sebagai pengamat memberikan kesempatan strategis untuk memantau dinamika keamanan laut internasional di tengah pergeseran kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur.

Ini bukan pertama kalinya Tiongkok, Rusia, dan Afrika Selatan melakukan latihan bersama. Pada November 2019 dan Februari 2023, ketiga negara tersebut mengadakan latihan maritim bersama di dekat Afrika Selatan, menurut laporan media resmi. (Al-Jazeera/Global Times/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya