Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
STRES merupakan respons alami tubuh saat menghadapi ancaman, tekanan, atau situasi baru dengan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Kondisi ini memicu peningkatan detak jantung, tekanan darah, serta membuat pernapasan lebih cepat dan otot menegang.
Namun, stres kronis atau stres berkepanjangan terbukti berdampak serius pada kesehatan. Kondisi ini membebani sistem adaptif tubuh dan berkontribusi terhadap berbagai penyakit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa stres kronis dapat menurunkan kualitas tulang hingga meningkatkan risiko osteoporosis.
Berdasarkan penelitian oleh Holger Henneicke dari ANZAC Research Institute bersama timnya, ditemukan hubungan kuat antara stres kronis dan pengeroposan tulang.
Dalam penelitian tersebut, tikus jantan mengalami penurunan massa tulang akibat peningkatan sinyal glukokortikoid (hormon stres) yang secara spesifik menargetkan sel pembentuk tulang (osteoblas).
Paparan hormon stres selama empat minggu menyebabkan kadar kortikosteron meningkat hingga tiga kali lipat. Kondisi ini memicu aktivasi osteoklas, yaitu sel yang berperan dalam pengikisan tulang, terutama pada tulang belakang dan tulang kering.
Penelitian lain oleh Yupeng Yan dan Jiaxin Li dari Shanghai University mengungkap bahwa pengeroposan tulang akibat stres tidak hanya dipicu oleh tingginya hormon stres, tetapi juga oleh gangguan translokasi nuklir glukokortikoid serta disfungsi sumbu hipotalamus–pituitari–adrenal (HPA).
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kepadatan tulang menurun secara progresif akibat stres kronis.
Stres kronis juga menekan aktivitas osteoblas dan meningkatkan pengikisan tulang. Akibatnya, terjadi perubahan struktur tulang seperti penipisan trabekula, infiltrasi lemak di sumsum tulang, hingga meningkatkan risiko fraktur.
Meski dilakukan pada tikus, hasil penelitian ini relevan bagi manusia karena kesamaan sistem hormon stres.
Stres kronis diduga menyebabkan pengeroposan tulang melalui disregulasi sumbu HPA, penekanan osteoblas, serta peningkatan aktivitas osteoklas. Selain itu, stres juga dapat memicu penurunan asupan nutrisi dan aktivitas fisik.
Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko osteoporosis, penurunan kepadatan tulang, hingga kerusakan tulang yang bersifat progresif dan signifikan.
Untuk mencegah dampak stres kronis terhadap tulang, penting menerapkan pola hidup sehat dan manajemen stres yang baik.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain beristirahat cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menerapkan teknik relaksasi.
Selain itu, penting untuk mengidentifikasi penyebab stres dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila diperlukan. (Alodokter, Jurnal International Journal of Molecular Sciences, Jurnal Endocrinology/Z-10)
Stres bisa bersifat sementara (akut) atau berlangsung lama (kronis), tergantung pada penyebab dan bagaimana seseorang menghadapinya. Stres yang berkepanjangan bisa memengaruhi
Simak 7 tips dari dr Mimi Oktafia (IPB University) untuk menjaga kesehatan fisik dan mental agar tampil maksimal saat UTBK-SNBT 2026.
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Health Talk.
Merasa terganggu dan takut kehilangan kewarasan, wanita tersebut mencari bantuan psikiater, Dr. Ikechukwu Obialo Azuonye.
Gagal ginjal sering berkembang tanpa gejala di tahap awal. Kenali tanda-tanda seperti kelelahan, edema, hingga perubahan urine untuk penanganan sedini mungkin.
Daftar 20 makanan tinggi antioksidan versi USDA, dari blueberry hingga kacang merah. Bantu lawan radikal bebas dan cegah penyakit kronis.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved