Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

PAPDI: Vaksinasi Campak Investasi Kesehatan Lebih Murah dari Wabah

Basuki Eka Purnama
03/4/2026 09:26
PAPDI: Vaksinasi Campak Investasi Kesehatan Lebih Murah dari Wabah
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin campak dan rubella (MR) saat kegiatan vaksinasi campak gratis di Rumah Vaksinasi Pusat, Jakarta, Kamis (12/3/2026).(ANTARA/Fauzan)

PERHIMPUNAN Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menekankan bahwa peningkatan cakupan vaksinasi dan edukasi publik merupakan kunci utama dalam menekan penyebaran penyakit campak di Indonesia. Vaksinasi dinilai bukan sekadar tindakan medis, melainkan investasi kesehatan jangka panjang yang jauh lebih efisien dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan saat terjadi wabah (outbreak).

Ketua Satuan Tugas (Satgas) Imunisasi Dewasa PAPDI, dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, menjelaskan bahwa upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh. Hal ini memerlukan kolaborasi aktif antara tenaga kesehatan, pemerintah, dan seluruh lapisan masyarakat.

“Kalau dihitung, vaksin itu investasi. Biayanya jauh lebih kecil dibandingkan dampak yang ditimbulkan jika terjadi outbreak,” ujar Sukamto, dikutip Jumat (3/4).

Perbandingan Biaya dan Dampak

Menurut Sukamto, biaya yang dikeluarkan masyarakat untuk mendapatkan vaksinasi campak relatif terjangkau jika dibandingkan dengan risiko finansial dan sosial akibat infeksi. Selain biaya perawatan rumah sakit yang tinggi, wabah penyakit menular juga berpotensi menurunkan produktivitas masyarakat dan meningkatkan beban sistem kesehatan nasional.

Aspek Estimasi Biaya / Dampak
Biaya Vaksin Campak Rp300.000 – Rp600.000 per dosis
Dampak Wabah (Outbreak) Biaya rawat inap rumah sakit, kehilangan produktivitas, beban sistem kesehatan, dan dampak sosial-ekonomi.

Peran Strategis Tenaga Kesehatan

Rendahnya cakupan imunisasi menjadi celah bagi virus untuk menyebar lebih luas, khususnya pada kelompok masyarakat yang belum memiliki kekebalan. Oleh karena itu, PAPDI mendorong para tenaga kesehatan untuk mengambil peran strategis sebagai agen edukasi.

Komunikasi yang aktif, jelas, dan persuasif dari dokter diyakini mampu meningkatkan penerimaan vaksinasi, terutama bagi masyarakat yang masih ragu. Saat ini, PAPDI mencatat kekuatan besar dalam upaya edukasi ini melalui ribuan anggotanya di seluruh tanah air.

Terdapat lebih dari 6.300 dokter spesialis penyakit dalam di seluruh Indonesia yang siap berperan sebagai agen edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya imunisasi.

Dengan pemahaman yang benar, diharapkan masyarakat tidak lagi ragu untuk melakukan vaksinasi demi melindungi diri sendiri dan mencegah terjadinya krisis kesehatan di masa depan.(Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya