Headline

“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.

Waspada Lonjakan Campak: Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Pentingnya Vaksinasi Dewasa

Basuki Eka Purnama
01/4/2026 04:30
Waspada Lonjakan Campak: Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Pentingnya Vaksinasi Dewasa
Ilustrasi(Freepik)

MESKI sering dianggap sebagai penyakit anak-anak, campak tetap menjadi ancaman kesehatan serius yang perlu diwaspadai orang dewasa. Sifatnya yang sangat menular dan potensi komplikasi berat menjadi alasan utama mengapa masyarakat tidak boleh lengah.

Dalam kegiatan PAPDI Forum bertajuk Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi di Jakarta, Selasa (31/3), para ahli menekankan pentingnya deteksi dini dan perlindungan melalui imunisasi.

Risiko Komplikasi pada Kelompok Rentan

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Adityo Susilo, Sp.PD, K-PTI, menjelaskan bahwa tingkat kesembuhan campak sangat bergantung pada kondisi imun tubuh pasien. 

MI/HO--Kegiatan PAPDI Forum bertajuk Campak pada Dewasa: Tanda Bahaya dan Penanganan yang Tepat serta Peran Vaksinasi di Jakarta, Selasa (31/3).

“Kalau daya tahan tubuh baik, umumnya pasien bisa sembuh tanpa komplikasi,” ujarnya.

Namun, kondisinya akan berbeda bagi kelompok rentan. Mereka yang mengalami malnutrisi, penderita gangguan sistem imun (HIV/AIDS), pasien kanker yang menjalani kemoterapi, serta ibu hamil memiliki risiko tinggi terkena komplikasi serius.

Virus campak dapat menyebar ke berbagai organ dan memicu kondisi fatal.

“Komplikasi yang dapat muncul meliputi pneumonia, infeksi otak (ensefalitis), gangguan mata seperti keratitis, hingga infeksi telinga. Meski tergolong jarang, komplikasi berat bahkan dapat menyebabkan kematian, dengan estimasi sekitar satu dari seribu kasus," ungkap Adityo

Gejala yang Sering Terkecoh

Salah satu tantangan dalam menangani campak adalah gejalanya yang mirip dengan infeksi saluran pernapasan biasa pada fase awal. 

Adityo memaparkan gejala Tiga C yang perlu diwaspadai:

  1. Cough (Batuk)
  2. Coryza (Pilek)
  3. Conjunctivitis (Mata merah)

Ruam merah yang khas biasanya baru muncul beberapa hari setelah demam. Kondisi inilah yang disebut sebagai "jendela penularan", saat pasien sudah bisa menularkan virus sebelum penyakitnya teridentifikasi. 

Penularannya pun sangat cepat, baik melalui percikan droplet maupun partikel udara (airborne).

Perbedaan Campak dan Rubella

Masyarakat sering kali tertukar antara campak (rubeola) dengan campak Jerman (rubella). Padahal, keduanya disebabkan oleh virus yang berbeda. 

Tanda klinis yang paling membedakan adalah munculnya bercak Koplik, bercak putih kebiruan di bagian dalam pipi, yang hanya ditemukan pada kasus campak.

Hingga saat ini, belum ada antivirus spesifik untuk campak. Pengobatan yang diberikan bersifat suportif, yakni:

  • Memastikan kecukupan cairan dan nutrisi.
  • Pemberian Vitamin A untuk menjaga kesehatan mukosa dan mempercepat pemulihan.

Vaksinasi: Benteng Pertahanan Utama

Ketua Umum PP PAPDI, dr. Eka Ginanjar, Sp.PD, K-Kv, menegaskan bahwa imunisasi adalah langkah pencegahan yang paling efektif. Selain melindungi diri sendiri, cakupan vaksinasi yang mencapai 95% dapat membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Pada orang dewasa, pemberian dua dosis vaksin terbukti mampu menurunkan risiko rawat inap hingga 71%–83%. 

Sebagai langkah antisipasi, PAPDI merekomendasikan empat langkah utama bagi masyarakat:

  1. Melengkapi imunisasi campak sesuai jadwal.
  2. Menjaga kebersihan tangan dan lingkungan.
  3. Menghindari kontak langsung dengan penderita.
  4. Segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala.

Dengan kewaspadaan tinggi dan kesadaran untuk melakukan vaksinasi, risiko komplikasi berat akibat campak dapat ditekan secara signifikan. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya