Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Campak Mengintai di Indonesia, Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Cara Pencegahannya

Ficky Ramadhan
21/3/2026 20:01
Campak Mengintai di Indonesia, Kenali Gejala, Risiko Komplikasi, dan Cara Pencegahannya
Ilustrasi(Antara)

PENYAKIT campak kembali menjadi perhatian serius di Indonesia seiring meningkatnya jumlah kasus dalam satu tahun terakhir. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan adanya lonjakan kasus serta Kejadian Luar Biasa (KLB) di sejumlah wilayah sepanjang 2025 hingga awal 2026.

Sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11.094 kasus terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium dengan 69 kasus berujung kematian. Sementara hingga minggu ke-7 tahun 2026, tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta empat kematian. Selain itu, terdapat 21 KLB suspek campak yang terjadi di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi.

Lonjakan kasus ini menjadi pengingat bahwa campak bukan sekadar penyakit ringan. Penyakit ini sangat mudah menular dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh rendah.

Campak merupakan penyakit infeksi akibat virus yang menyebar melalui droplet saat penderita batuk atau bersin. Virus dapat bertahan di udara maupun pada permukaan benda dalam waktu tertentu sehingga risiko penularannya tergolong tinggi.

Setelah masa inkubasi sekitar 10–12 hari, gejala mulai muncul. Pada tahap awal, tanda-tanda campak sering menyerupai flu, seperti demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Tanda khas lainnya ialah munculnya bercak Koplik di dalam mulut sebelum ruam kulit berkembang.

Ruam biasanya dimulai dari wajah dan belakang telinga, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Warna ruam berubah dari merah pucat menjadi lebih gelap sebelum akhirnya memudar.

Dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Venty, menjelaskan campak kerap dianggap penyakit biasa, padahal dapat menimbulkan komplikasi serius.

“Campak sering dianggap sebagai penyakit biasa, padahal dalam beberapa kondisi penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berisiko menyebabkan kematian, terutama pada anak yang tidak mendapatkan imunisasi atau memiliki daya tahan tubuh yang rendah. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain infeksi telinga, diare berat yang menyebabkan dehidrasi, radang paru-paru atau pneumonia, hingga peradangan otak atau ensefalitis,” kata dr. Venty dalam keterangannya, Sabtu (21/3).

Hingga kini belum tersedia obat antivirus khusus untuk campak. Penanganan dilakukan secara suportif, yakni membantu tubuh melawan infeksi sekaligus meredakan gejala.

Orang tua dianjurkan memastikan anak mendapatkan istirahat cukup, asupan nutrisi seimbang, serta cairan yang memadai untuk mencegah dehidrasi. Pemberian vitamin A juga disarankan sesuai usia guna menurunkan risiko komplikasi.

“Vitamin A diberikan untuk membantu mengurangi risiko komplikasi dan angka kematian. Pemberian vitamin A dilakukan selama dua hari berturut-turut sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Pada anak dengan gizi buruk dan/atau yang mengalami komplikasi pada mata, vitamin A dapat diberikan kembali dua minggu kemudian,” jelasnya.

Selain itu, penanganan simptomatik seperti obat demam, batuk, dan pilek dapat diberikan sesuai kebutuhan. Perawatan mata serta kebersihan kulit juga penting untuk mencegah infeksi tambahan. Antibiotik hanya diberikan apabila terdapat infeksi bakteri sekunder sesuai anjuran dokter.

Anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan jika mengalami komplikasi seperti dehidrasi berat, pneumonia, kejang, atau tanda radang otak. Bayi di bawah usia enam bulan dan anak dengan sistem imun lemah memerlukan pemantauan medis lebih intensif.

Imunisasi Jadi Cara Pencegahan Paling Efektif

Upaya pencegahan campak dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan, menerapkan etika batuk, serta mengisolasi penderita selama masa penularan.

Namun, langkah paling efektif tetap melalui vaksinasi. Imunisasi campak diberikan sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yakni vaksin MR pada usia sembilan bulan, booster pada usia 15–18 bulan, serta booster lanjutan pada usia 5–7 tahun.

“Kita harus terapkan perilaku hidup bersih sehat, isolasi mandiri, dan lengkapi imunisasi campak untuk memutuskan penularan dan mencegah si kecil dari campak dan komplikasinya,” tambahnya. (Fik/I-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik